Sudah benarkah komunikasi antara kita dengan pasangan?

Benar adanya kita berasal dari keluarga yg berbeda, tetapi ketika menikah tidak ada lagi aku-aku atau kamu-kamu, semua sudah jadi satu.

41,850 views   |   288 shares
  • Rumah tangga, adalah tempat di mana seorang laki-laki dan perempuan berjanji, berikrar dan bertanggung jawab atas apa yang dipilihnya. Pasangan adalah seseorang yang bersama-sama dengan diri kita untuk saling setia dan melewati semua masalah hidup dengan sebaik-baiknya.

  • Yah, masalah rumah tangga memang akan selalu ada. Kerikik-kerikil kecil dalam rumah tangga tidak akan pernah habis kita alami. Entah masalah yang hanya bersifat sederhana, masalah sederhana yang merembet jadi masalah besar atau masalah besar yang tiba-tiba menimpa keluarga tersebut, misalnya saja kepergian sanak saudara dan atau kehilangan harta benda akibat musibah dan bencana, dan lain-lain.

  • Tapi di sini bukan masalah yang bersifat besar dan dadakan yang ingin ditekankan melainkan masalah yang bersifat sederhana atau masalah sederhana yang menjadi masalah besar. Biasanya masalah tersebut disebabkan karena buruknya komunikasi antara suami dan istri. Ada beberapa kesalahan komunikasi yang sering terjadi pada pasangan suami istri, antara lain

  • Mempunyai prinsip hidupku-hidupmu

  • Benar adanya kita berasal dari keluarga yg berbeda, tetapi ketika menikah tidak ada lagi aku-aku atau kamu-kamu, semua sudah jadi satu. Jadi jika dalam berselisih dengan pasangan, terucap "ini bukan urusanmu" atau "urus saja dirimu sendiri, gak usah ikut campur dalam masalahku" Maka perlu diperhatikan bahwa ucapan-ucapan tanpa sadar seperti ini, dapat menjadikan rumah tangga kita dalam masalah. Karena tidak ada lagi rasa memiliki antara keduanya.

  • Kencan dengan gadget masing-masing

  • Hal inilah yang paling banyak dikeluhkan. Baik kita maupun pasangan lupa untuk berbicara tatap muka. Lupa bagaimana caranya duduk berdua, berhadapan untuk bicara dari hati ke hati? Tetapkan aturan yang disepakati bersama, khususnya tentang penggunaan gadget saat berkumpul bersama keluarga. Bagaimana komunikasi bisa berjalan selaras, jika dua orang yang di dalamnya saja tidak bertegur sapa dan asyik sendiri dengan aktivitasnya.

  • Merespons di luar topik pembicaraan

  • Hal ini jarang terjadi jika keduanya sama-sama fokus mendengarkan, bukan mendengar. Tetapi benar-benar terlibat untuk mendengarkan. Sehingga pesan yang ingin disampaikan oleh suami atau istri kita dapat diterima dengan benar, sesuai dengan apa yang kita katakan. Apabila pasangan merespons sesuatu yang di luar topik pembahasan, hal ini akan menimbulkan rasa tidak diterima, tidak dihargai, dan tidak dianggap oleh pasangan kita. Karena topik pembicaraan jadi melenceng ke masalah lain.

  • Advertisement
  • Lebih banyak memendam

  • Komunikasi yang buruk, sedikit banyak menjadi penyebab retaknya sebuah rumah tangga. Oleh karena itu, baik kita ataupun suami dan istri kita yang memiliki sifat introvertdiharapkan mampu belajar untuk merubah hal tersebut perlahan demi perlahan. Sehingga ketika ada ganjalan di hati, kita tidak lagi memendam apa yang kita rasakan. Berusaha untuk mencoba mengatakan apa yang kita rasakan pada pasangan, adalah cara terbaik. Apa yang kita suka, apa yang tidak kita suka. Sebagai pasangan juga diharapkan kita mampu mendengarkan apa yang menjadi ganjalan dari suami atau istri kita, serta berusaha untuk dapat mempersepsikan secara positif semua hal itu. Karena bagaimanapun ketika pasangan jujur akan sesuatu, hal itu berarti bertujuan baik untuk keluarga itu sendiri.

  • Saling menyalahkan

  • Dalam berkonflik, baik suami atau istri pasti akan mengedepankan egonya masing-masing. Tidak ada yang mau disalahkan dan berusaha untuk mengakui kesalahan, jika memang salah. Ketika ini sering terjadi maka yang terjadi antara kita dan pasangan akan terus mencari kesalahan masing-masing, hingga tidak lagi melihat sisi positif dari pasangan. Apakah hal ini yang diinginkan dalam pernikahan kita? Tidak saling introspeksi diri dapat memperburuk semuanya.

  • Tidak berterus terang

  • Bohong! Satu kata yang jika dilakukan sekali saja, maka hal tersebut akan diingat dan tidak bisa dilupakan selamanya. Apalagi itu dilakukan oleh orang yang berstatus sebagai suami atau istri kita. Orang yang berjanji bersama-sama dengan kita, dan membahagiakan kita. Tetapi orang ini pula yang menyakiti kita dengan kebohongan. Apapun kondisinya lebih baik berterus terang, daripada harus berkata sesuatu yang tidak sebenarnya.

  • Menganggap pasangan paham tanpa bicara

  • Semua tidak akan pernah diketahui oleh pasangan, ketika kita tidak bicara. Jadi berhentilah menganggap bahwa suami atau istri kita memahami pesan dari bahasa isyarat, kalimat sindiran atau bahasa tubuh, untuk hal-hal penting dalam rumah tangga. Katakan saja terus terang apa yang kita inginkan, apa yang kita mau. Sehingga pasangan juga akan paham dan bisa memenuhi apa yang kita inginkan sesuai dengan harapan kita.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Profil Penulis Irni, lulusan Sarjana Psikologi UBAYA. Saat ini menetap di Jepang mendampingi suami bersama dua buah hatinya. Aktif menulis di berbagai media dan buku Pengembangan Diri. Baginya menulis adalah media berbagi pada sesama.

Situs: http://www.irniis.com

Sudah benarkah komunikasi antara kita dengan pasangan?

Benar adanya kita berasal dari keluarga yg berbeda, tetapi ketika menikah tidak ada lagi aku-aku atau kamu-kamu, semua sudah jadi satu.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr