"Berbelanja" dokter anak yang tepat

Memilih dokter anak, gampang-gampang susah. Ada begitu banyak pilihan, namun tidak semua bisa sreg di hati. Apalagi jika tidak sejalan dengan prinsip dan pengetahuan yang kita miliki. Untuk itu, perlu memilih dengan hati-hati dan cermat.

943 views   |   0 shares
  • Tidak ada satupun orangtua di dunia ini yang ingin buah hatinya jatuh sakit. Namun, kadang penularan virus, bakteri, jamur dan sebagainya seolah tidak terelakkan. Terutama saat anak kelelahan dan kondisi daya tahan tubuh menurun. Saat hal ini terjadi, sebaiknya memang orangtua tidak terburu-buru membawa putra atau putrinya ke dokter. Apalagi memberikan obat-obatan. Lakukan dulu observasi di rumah, dan banyak mencari tahu mengenai gejala yang dialami anak.

  • Sayangnya, kadang pengetahuan yang dimiliki terbatas, dan ketika hal itu terjadi, sebaiknya mulailah bersahabat dengan dokter anak andalan. Sebaiknya, tidak hanya satu orang, karena dokter juga manusia. Bukan tidak mungkin ia berhalangan praktek karena sakit, atau ada hal-hal penting lainnya. Maka, jika kebutuhannya mendesak, ada alternatif pengganti dokter andalan.

  • Untuk itu, mencari tahu serta memilih dokter anak harus dilakukan sejak anak masih dalam kandungan. Mulailah mencari tahu dengan terperinci mengenai dokter-dokter yang direkomendasikan. Entah melalui internet, atau lewat saran orang-orang. Setelah itu pilihlah dokter yang lokasi prakteknya terdekat dari rumah atau kantor, sehingga kejadian gawat darurat pun dapat segera ditangani.

  • Memilih dokter anak pun tidak mudah, sebab anda harus merasa "klik" dengannya. Tetapi ada beberapa kriteria umum yang patut dipertimbangkan dalam memilih dokter spesialis yang akan menangani si kecil, yakni:

    1. Pro RUM (Rational Use of Medicine)
  • Mereka ini adalah orang-orang yang akan memberikan obat-obatan hanya sesuai dengan kebutuhan pasien. Jadi, tidak sembarangan memberikan "surat cinta" yang panjang dalam satu kertas resep begitu saja. Apalagi dengan mudahnya menuliskan antibiotik, untuk setiap penyakit yang bahkan tidak memerlukannya.

  • Terkait hal ini, anak-anak, termasuk bayi termasuk golongan usia yang secara tidak langsung kerap menjadi objek "ceruk pasar" dari berbagai produk antibiotik yang diresepkan dokter. Padahal, menurut dr. Purnamawati S Pujiarto SpAK MMPed, antibiotik merupakan suatu zat yang bisa membunuh atau melemahkan suatu mahluk hidup, yaitu mikroorganisme seperti bakteri, parasit atau jamur. Antibiotik tidak dapat membunuh virus, sebab virus memang bukan "barang" hidup. Sementara masih kerap terjadi, dokter dengan mudahnya meresepkan antibiotik bagi bayi dan balita yang hanya sakit flu karena virus. Padahal antibiotik tidak mempercepat kesembuhan, apalagi melumpuhkan virus flu.

  • 2. Tidak terburu-buru menangani pasien

  • Advertisement
  • Dokter anak adalah termasuk dokter yang memiliki antrean panjang di rumah sakit atau klinik. Nah, karena inilah, biasanya dokter hanya memberikan "jatah" beberapa menit saja untuk seorang pasien. Ia akan cepat-cepat melakukan pemeriksaan, lalu menuliskan resep, memberikan penjelasan seperlunya kemudian mengirim pasien ke luar secepat kilat.

  • 3. informatif dan komunikatif

  • Hal ini juga terkait dengan kebiasaan dokter yang ingin mengedukasi pasiennya. Ya, ia akan dengan sabar meladeni setiap pertanyaan, dan memberikan jawaban yang jelas serta terperinci, sehingga di kemudian hari pasien tidak panik. Ia juga akan meluangkan banyak waktu untuk berbagi ilmu yang dimilikinya, sehingga pasien keluar dengan rasa puas dan mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai kesehatan putra atau putrinya. Hingga hari ini, masih ada sebagian dokter yang menunjukkan sikap ketidaksukaan jika menghadapi pasien cerewet atau kritis. Karena sikap seperti ini, masih banyak juga pasien yang segan banyak bertanya kepada dokter, dan memilih manggut-manggut saja saat diberi obat apapun oleh dokter.

  • Ingatlah bahwa pasien adalah konsumen medis, yang membayar, dan berhak tahu apa saja yang harus dibayar. Dr Purnamawati juga mengatakan bahwa ketidaktahuan pasien masih sering dibiarkan oleh kalangan medis, bahkan dimanfaatkan.

  • 4. Mudah dihubungi

  • Sebagai pasien, jangan lupa bertanya dengan jelas nomor telepon dokter, email atau sarana komunikasi lainnya yang memudahkan komunikasi, terutama di saat genting. Syukur-syukur jika dokter tersebut aktif di media sosial dan bersedia menjawab berbagai pertanyaan pasien via akun twitter, facebook dan sebagainya. Menjadi nilai plus, saat dokter bahkan bisa diajak berdiskusi mengenai tumbuh kembang anak hingga menu MPASI nya.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

"Berbelanja" dokter anak yang tepat

Memilih dokter anak, gampang-gampang susah. Ada begitu banyak pilihan, namun tidak semua bisa sreg di hati. Apalagi jika tidak sejalan dengan prinsip dan pengetahuan yang kita miliki. Untuk itu, perlu memilih dengan hati-hati dan cermat.
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr