Donor ASI, ya atau tidak

Untuk beberapa kasus terkait medis, ada kalanya ibu tidak bisa memberikan ASI kepada si kecil. Padahal ASI amat penting bagi tumbuh kembang seorang bayi. Kini ada opsi berupa donor ASI, namun masih banyak keraguan di dalam memberikannya.

703 views   |   shares
  • Hingga kini, terkait kegiatan donor ASI masih saja kerap menjadi keraguan bahkan perdebatan. Biasanya kekhawatiran terjadi menyangkut masalah kesehatan dan agama. Padahal, dalam beberapa keadaan yang membuat bayi tidak bisa menerima ASI, donor menjadi alternatif yang amat baik.

  • Tidak perlu diuraikan lagi banyaknya manfaat dari ASI. Bukan sekadar bicara tentang manfaatnya sebagai sumber gizi, tapi proses menyusui itu bagian dari proses yang membantu bayi bertahan untuk hidup. Ia mendapat stimulasi, perhatian, dengan belaian dan sentuhan, mendapatkan rasa nyaman, sehingga menurunkan hormon adrenalin, yang bisa membuat daya tahannya justru drop. Demikian seperti diungkapkan oleh dr Dian N Basuki MD MSC IBCLCdari SEAMEO-TROPMED, Regional Center for Community Nutrition, Universitas Indonesia.

  • "Proses kelahiran itu stressfull. Sangat traumatik buat bayi. Dalam kondisi stres, adrenalin bisa menurunkan hal-hal yang harusnya berfungsi untuk mengembangkan daya tahan bayi. Sehingga kemudian disoroti bahwa ketika bayi mendapat ASI, ia pun akan mendapat zat kekebalan hidup," urai Dian yang juga aktif di Sentra Laktasi Indonesia (Selasi). Bagi seorang ibu yang ingin memberikan ASI pada bayinya - padahal kondisinya tidak memungkinkan – maka pilihan kemudian jatuh pada donor ASI.

  • Yang dimaksud dengan kondisi tidak memungkinkan ini, biasanya terjadi jika ibunya meninggal saat melahirkan. Atau kondisi khusus seperti kelainan anatomi pada ibunya, atau bayinya. Meskipun sebetulnya kasus ini amat jarang terjadi. Ibu pengguna obat terlarang, sakit berat di waktu melahirkan, atau bayi dengan ibu penderita diabetes, dan sebagainya.

  • Jika hal-hal ini terjadi, ada baiknya pihak keluarga melakukan konsultasi dengan dokter atau konselor laktasi. Bisa juga menemui para aktivis dari asosiasi ibu menyusui (AIMI) untuk dicarikan solusi. Biasanya kasus-kasus semacam ini membutuhkan suplemen, dan diutamakan asi perah, sebelum suplemen lain seperti susu formula.

  • Jadi, bagaimanapun, memberikan ASI secara langsung dari ibu ke bayinya tetap diutamakan. Apalagi, mengingat ada begitu banyak syarat yang harus dipenuhi sebelum orangtua bisa memberikan ASI. Misalnya, harus bebas dari penyakit seperti hepatitis dan HIV, bukan peminum alkohol, tidak merokok, tidak menggunakan implan silikon pada payudara, dan sebagainya.

  • Persis donor darah, donor ASI pun tidak bisa diberikan begitu saja tanpa syarat. Biasanya jika seorang ibu memiliki stok ASI berlebih dan ingin mendonorkan, pihak "comblang" seperti AIMI akan meminta dia mengisi formulir dan menuliskan data dengan terperinci. Sebab, di negara yang mayoritas agama muslim, sepersusuan diangap saudara dan tidak boleh menikah.

  • Advertisement
  • Karena itu, kebanyakan peserta donor atau pendonor memilih satu gender atau satu agama, untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan di kemudian hari. Hal ini menjadi salah satu bahan pertimbangan.

  • Bahkan biasanya pemberian donor ASI harus melalui sejumlah screening dan pasteurisasi di laboratorium. Saat seorang ibu ingin mendonorkan ASInya, maka prosedur pertama yang harus dilakukan adalah screening melalui lisan dan tulisan. Hal ini terkait riwayat kesehatannya, dan apa saja yang dikonsumsinya dalam 12 bulan terakhir. Setelah itu dilakukan tes darah. Bila dinyatakan sehat maka ibu akan melakukan ASI donor yang kemudian ASI itu akan dipasteurisasi dan dikultur serta disimpan dalam ruang perawatan khusus.

  • Apapun itu syaratnya, apapun kondisinya, keberadaan donor ASI sebetulnya menjadi solusi yang cukup baik demi masa depan anak-anak. Sebab, tidak bisa dipungkiri, ASI memiliki nutrisi yang amat kaya dan dibutuhkan oleh bayi. Manfaat yang tidak tergantikan oleh apapun buatan manusia. Bentuk cinta yang paling pertama dikenal oleh anak dari orangtuanya.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Donor ASI, ya atau tidak

Untuk beberapa kasus terkait medis, ada kalanya ibu tidak bisa memberikan ASI kepada si kecil. Padahal ASI amat penting bagi tumbuh kembang seorang bayi. Kini ada opsi berupa donor ASI, namun masih banyak keraguan di dalam memberikannya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr