Masih pentingkah perayaan besar-besaran sesuai tradisi?

Arti ritual secara harfiah adalah suatu kegiatan atau tradisi yang dilakukan oleh sekelompok orang atau perorangan dengan tata cara tertentu. Sebenarnya, seberapa penting menggelar suatu acara sesuai tradisi?

1,401 views   |   3 shares
  • Perayaan yang bersifat tradisi memang melekat di masyarakat kita. Tak hanya yang terkait dalam ajaran Ketuhanan, namun juga yang berurusan dengan hari-hari besar, seperti tahun baru atau ulang tahun. Tidak wajib untuk dilakukan, tetapi rasanya ada yang kurang jika tidak dilaksanakan.

  • Masalahnya, acara ini kerap diselenggarakan besar-besaran. Contohnya, wajib ada makanan berlimpah saat hari raya, pesta besar merayakan anak lelaki yang baru sunat, atau pesta pernikahan mewah. Pentingkah? Tak jarang, kemewahan suatu perayaan menyingkirkan rasa syahdu bahkan makna dari acara itu sendiri. Ulang tahun atau hari raya seharusnya menjadi momen merenungi bertambahnya usia, pencapaian yang telah atau belum dilakukan, serta memanjatkan rasa syukur pada Sang Pencipta. Dan pesta mewah memakan seluruh tenaga dan pikiran sehingga tak ada lagi waktu untuk merenung dan memanjatkan doa pada Yang Kuasa. Begitu juga dengan tahun baru, sunatan, pernikahan dan sebagainya.

  • Jadi apa sebenarnya tujuan tradisi yang seakan wajib dilakukan tersebut? Betulkah kita ingin merayakannya sebagai wujud rasa syukur, atau sekadar pamer, dan ingin menyenangkan hati setiap orang?

  • Apalagi jika sebetulnya kita tidak punya dana untuk menggelar perayaan, tetapi masih terjebak dengan "Apa kata orang?" Apa kata orang kalau tidak membuat pesta tujuh bulanan hamil? Kalau tidak memestakan anak yang habis sunatan? Jika tidak mengecat rumah dan membeli segala sesuatu yang baru jelang hari raya? Yang terjadi kemudian adalah berhutang, atau menghalalkan segala cara demi mempertahankan perayaan yang sesuai tradisi. Tentu sangat merugikan diri sendiri, bukan?

  • Berhentilah memikirkan apa kata orang dan fokus pada hal yang jauh lebih penting. Bukankah pendidikan lebih berguna ketimbang pesta ulang tahun? Bukankah waktu untuk berbelanja, apalagi hingga tengah malam itu, lebih baik dipergunakan untuk beribadah? Bukankah lebih baik menyumbangkan uang untuk anak yatim ketimbang membeli mobil baru demi dipandang orang saat pulang kampung?

  • Lagi pula kebiasaan memanjakan perayaan besar-besaran tidak ramah lingkungan. Begitu banyak sisa makanan yang terbuang, belum lagi penggunaan listrik, bahan bakar fosil, serta plastik dan kertas yang luar biasa banyaknya. Bagaimana bumi ini bisa semakin nyaman ditinggali jika kita bahkan tidak bisa menyayanginya?

  • Maka dari itu, kembalilah kepada makna hari raya sebenarnya. Kepada tuntunan dan renungan yang harus kita lakukan. Kembalikan kesyahduan sebuah momen, dan berpikirlah dengan rasional untuk setiap tindakan yang Anda lakukan. Bagaimana mungkin kita menuntut tidak terjadinya kenaikan harga, pemanasan global, dan kriminalitas tinggi, jika kita tidak berhenti memaksakan sebuah perayaan besar-besaran? Berpeganglah pada hati nurani dan prinsip kebaikan. Lalu tanyakan pada diri sendiri, niat Anda menggelar sebuah perayaan yang sesuai tradisi. Apakah memang untuk memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang tersayang, atau hanya sekadar menjadi ajang pamer?

  • Advertisement
Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Masih pentingkah perayaan besar-besaran sesuai tradisi?

Arti ritual secara harfiah adalah suatu kegiatan atau tradisi yang dilakukan oleh sekelompok orang atau perorangan dengan tata cara tertentu. Sebenarnya, seberapa penting menggelar suatu acara sesuai tradisi?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr