Belajar hakekat pendidikan dari Rendra

Siapa yang tak tahu penyair ternama, almarhum Rendra? Ia kerap menulis kritik dengan karya sastra yang mengagumkan. Salah satunya adalah sajak Seonggok Jagung yang menyentil dunia pendidikan. Sajaknya ini akan membuat kita belajar.

618 views   |   2 shares
  • Pernah mendengar nama almarhum Rendra? Beliau adalah sosok penyair dengan pemikiran kritis yang menciptakan karya-karya indah serta menyentil. Salah satu favorit saya adalah sajak Seonggok Jagung.

  • Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda yang kurang sekolahan. Memandang jagung itu, sang pemuda melihat ladang; ia melihat petani; Ia melihat panen; dan suatu hari subuh, para wanita dengan gendongan pergi ke pasar ……… Dan ia juga melihat suatu pagi hari di dekat sumur gadis-gadis bercanda sambil menumbuk jagung menjadi maisena.

  • Sedang di dalam dapur, tungku-tungku menyala. Di dalam udara murni tercium kuwe jagung. Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda. Ia siap menggarap jagung. Ia melihat kemungkinan, otak dan tangan siap bekerja

  • Tetapi ini: Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda tamat SLA Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.

  • Hanya ada seonggok jagung di kamarnya. Ia memandang jagung itu dan ia melihat dirinya terlunta-lunta. Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik. Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase. Ia melihat saingannya naik sepeda motor. Ia melihat nomor-nomor lotre. Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.

  • Seonggok jagung di kamar tidak menyangkut pada akal, tidak akan menolongnya. Seonggok jagung di kamar tak akan menolong seorang pemuda yang pandangan hidupnya berasal dari buku,dan tidak dari kehidupan. Yang tidak terlatih dalam metode, dan hanya penuh hafalan kesimpulan,yang hanya terlatih sebagai pemakai, tetapi kurang latihan bebas berkarya.

  • Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

  • Aku bertanya : Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya? Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota kikuk pulang ke daerahnya? Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja, bila pada akhirnya, ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata: "Di sini aku merasa asing dan sepi!"

  • Ya, saya setuju. Apa gunanya pendidikan jika malah memisahkan kita dari kehidupan yang sebenarnya? Belajar kesana-kemari, menghabiskan banyak uang dan tenaga, tetapi berpikir kreatif saja tidak bisa.

  • Kita seolah diprogram untuk menjadi robot yang tidak bisa melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Kita akan kebingungan saat harus berhadapan dengan sesuatu yang baru, atau tidak ada di dalam petunjuk teknis. Itu jugalah yang kita ajarkan kepada anak-anak kita. Membuat mereka hidup dari hari ke hari tanpa memberikan sesuatu yang menarik. Kemudian memarahi mereka saat berpikir dengan cara yang berbeda.

  • Advertisement
  • Kita seolah terpaku pada satu hal; prestasi akademik. Mengejar nilai terbaik, lulus dengan gemilang, lalu bekerja di perusahaan besar. Melalui hari demi hari di depan komputer. Lupa pada orang lain, lupa untuk belajar hal baru. Lupa pada ciri khas anak Indonesia yang kreatif dan mampu menikmati segala kekurangan.

  • Ayo, kita kembali lagi kepada kita yang seharusnya, yang mampu memanfaatkan kekayaan alam untuk sesuatu yang menarik dan berguna. Mari kita kembali lagi ke budaya lokal khas Indonesia yang ramah, riang, dan gemar membantu sesama, dan tidak lagi terpaku pada prestasi.

  • Jangan terjebak dalam rutinitas dan keharusan menempuh jenjang pendidikan, lalu berkarier, namun lupa akan identitas kita sebenarnya. Lupa akan fungsi setiap manusia, yang semestinya menjadi manfaat bagi semesta alam. Mari kembali arif dan peduli, seperti kita yang seharusnya.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Belajar hakekat pendidikan dari Rendra

Siapa yang tak tahu penyair ternama, almarhum Rendra? Ia kerap menulis kritik dengan karya sastra yang mengagumkan. Salah satunya adalah sajak Seonggok Jagung yang menyentil dunia pendidikan. Sajaknya ini akan membuat kita belajar.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr