Hakikat memaafkan

Selama kita tulus, ikhlas, dan berniat dengan sungguh-sungguh untuk kembali fitrah maka apapun medianya semuanya akan terasa lebih bahagia.

1,896 views   |   9 shares
  • Lebaran sebentar lagi, inilah sebait lirik lagu yang dinyanyikan Bimbo dengan judul serupa.

  • Yah, lebaran memang sebentar lagi. Tetapi lebaran dulu dan sekarang suasananya terasa berbeda. Kalau dulu, saya pribadi akan sibuk membuat kartu ucapan sendiri dan mengirimkannya pada sahabat-sahabat saya. Atau berburu kartu ucapan yang lucu-lucu dengan kata-kata yang lucu juga. Kemudian harus menyisihkan uang tabungan untuk mengirimkan satu persatu sesuai alamat yang dituju. Bagaimana dengan Anda?

  • Wah rasanya, momen bermaaf-maafkan semakin terasa indah ketika mendapat kartu balasan dari teman-teman terdekat. Rasanya bagi anak seumuran itu, suatu kebahagiaan dan kebanggan tersendiri mendapat balasan kartu ucapan.

  • Berbeda dengan beberapa tahun belakangan ini, momen maaf-maafan hanya melalui pesan singkat atau SMS. Kemudian berkembang lagi karena kemajuan teknologi dengan banyaknya sosial media. Hanya dengan membuat status di FB, Path, Twitter, dan kemudian dibaca oleh semua teman. Maka kita merasa sudah cukup untuk meminta maaf. Apalagi media ini dapat dibaca oleh teman seluruh dunia.

  • Saya pribadi karena berada jauh dari tanah air, berusaha sebisa mungkin untuk mengucapkan maaf pada keluarga besar khususnya. Dengan mengirimkan pesan satu persatu ke sanak saudara. Atau melakukan video call saat semua sanak saudara berkumpul di rumah orangtua.

  • Lalu apakah salah dengan ucapan-ucapan tersebut? Apakah itu menghilangkan momen maaf-memaafkan, dan menghilangkan hakikat dan makna dari memaafkan?

  • Mungkin di beberapa keluarga mempunyai tradisi harus sungkeman satu persatu, atau harus saling kunjung-mengunjungi satu sama lain. Semuanya sah-sah saja. Tidak akan mengurangi hakikat dari maaf-memaafkan.

  • Selama kita tulus, ikhlas, dan berniat dengan sungguh-sungguh untuk kembali fitrah maka apapun medianya semuanya akan terasa lebih bahagia. Bagi orang-orang yang tidak bisa berkumpul dengan keluarga besar dan para sahabat maka keluarga besarnya adalah teman-teman muslim yang merayakan idul fitri bersama-sama. Setidaknya ini menggantikan suasana haru ketika tidak bisa berkumpul bersama keluarga.

  • Keberadaan media informasi seperti fasilitas internet dengan video call maupun media sosial, memang menjadi bentuk rasa syukur tersendiri. Karena masih bisa berkomunikasi dengan orang-orang terkasih saat lebaran.

  • Momen terpentingnya ada pada diri kita sendiri. Membersihkan hati dari prasangka negatif, mencoba memaafkan diri sendiri karena mungkin pikiran, perilaku, ucapan dan hati pernah menyakiti orang lain. Dan mencoba memaafkan orang lain, karena mungkin pikiran, perilaku, ucapan dan hati orang lain juga pernah menyakiti diri kita.

  • Advertisement
  • Sama-sama bersih dan kembali kosong-kosong. Mari menjadi individu yang lebih baik lagi, apapun momentumnya.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Profil Penulis Irni, lulusan Sarjana Psikologi UBAYA. Saat ini menetap di Jepang mendampingi suami bersama dua buah hatinya. Aktif menulis di berbagai media dan buku Pengembangan Diri. Baginya menulis adalah media berbagi pada sesama.

Situs: http://www.irniis.com

Hakikat memaafkan

Selama kita tulus, ikhlas, dan berniat dengan sungguh-sungguh untuk kembali fitrah maka apapun medianya semuanya akan terasa lebih bahagia.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr