Anak gemuk lebih lucu dan sehat. Oh ya?

Anak yang gemuk, kerap dibilang lucu, menggemaskan dan terlihat lebih sehat. Benarkah? Padahal tidak selalu. Sebab ada risiko obesitas yang mengintai. Jadi jangan merasa kecil hati jika anak Anda tidak gemuk. Sehat, jauh lebih penting.

2,429 views   |   13 shares
  • Iklan produk maupun cover majalah anak, biasanya dihiasi oleh wajah-wajah berpipi gembul, dan bertubuh gemuk. Ya, bayi dan balita yang gemuk, memang biasanya lebih menggemaskan. Karena itu, jika ada anak yang tumbuh tapi tidak gemuk, kerap dikomentari. Karena dianggap tidak sehat, dan tidak lucu. Komentar tersebut biasanya membuat orangtua menjadi khawatir, dan punya keinginan agar anaknya ikut gendut.

  • Menurut Dokter spesialis anak, Dr Arifianto, faktor nutrisi menjadi penyebab utama masalah kesehatan anak di Indonesia. Di satu sisi, banyak anak menderita kekurangan nutrisi, di sisi lain, banyak pula anak yang kelebihan kalori, atau obesitas. Keduanya sama-sama tidak sehat. Dari penelitian yang dilakukan masyarakat Pediatri Indonesia pada anak Sekolah Dasar di 10 kota besar di Indonesia, ternyata angka obesitas rata-rata tergolong tinggi, 10-12 persen.

  • Penelitian serupa dilakukan pada anak-anak Sekolah Dasar di Jakarta, malah menunjukkan angka mengejutkan 9,8 hingga 17 persen. Badan kesehatan dunia, WHO, bahkan sudah menetapkan obesitas sebagai epidemik global yang harus segera diatasi. Jadi bagaimana bisa berpikir bahwa anak yang gendut, montok dan tembem ini menjadi kebanggaan orangtua? Padahal, anak obesitas terancam sederet penyakit berat di masa dewasanya nanti.

  • Seperti yang dikatakan ahli gizi, dr. Carmelita Ridwan, SpGK dari Klinik Primavita, Jakarta, "Orang dewasa yang obesitas mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menderita penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kelebihan berat badan. Antara lain, diabetes melitus, hipertensi, hipokolesterol, stroke, penyakit jantung koroner, kanker usus besar dan payudara, serta risiko kematian dini bila mengalami kegemukan saat remaja dibandingkan dengan orang dewasa yang mengalami obesitas saat dewasa." Dokter Arifianto pun membenarkan hal tersebut. Ia menambahkan, penyakit-penyakit lain karena kondisi obesitas, antara lain saluran napas, asma, sleep apnea (gangguan tidur), dan gangguan ortopedi.

  • Jadi, sudahlah. Tidak perlu repot membanding-bandingkan si kecil, jika ia tidak terlihat montok seperti orang lain. Tutuplah rapat-rapat telinga Anda jika lingkungan sekitar terus berkomentar tentang anak Anda yang tidak bulat dan menggemaskan. Jangan lantas panik lalu memaksa buah hati dengan susu berliter-liter atau menjejalinya dengan makanan instan yang kaya lemak.

  • Pola makan yang mengonsumsi makanan tinggi kalori, misal junk food (burger, french fries, nugget, sosis, dan lainnya), minuman kotak/botol, minuman cepat saji dari sachet, camilan kue dan biskuit manis, serta pola makan yang kurang mengonsumsi buah dan sayur, memang sangat efektif meningkatkan berat badan. Cepat sekali membuat anak Anda obesitas, jika itu yang Anda inginkan. "Kalau anak makan di restoran fast food, sudah pasti minyaknya banyak. Belum lagi minumnya soda yang bergula tinggi. Terus sayurnya mana? Padahal, sayur dan buah dalam piramida makanan adalah tingkat yang paling besar kedua setelah golongan serealia," kata dr. Carmelita.

  • Advertisement
  • Cukup perhatikan saja grafik pertumbuhannya. Gunakan saja growth chart dari WHO yang bisa di download gratis tersebut. Perhatikan tumbuh kembang anak anda, dari bulan ke bulan. Berat badannya, tinggi badannya juga lingkar kepalanya. Itu standar yang Anda wajib lakukan untuk rasa aman dan nyaman bahwa anak Anda tumbuh normal. Ingatlah bahwa anak sehat belum tentu gemuk, dan anak gemuk tidak selalu sehat. Bisa saja Anak anda bertambah tinggi secara signifikan, sehingga kelihatan kurus, padahal berat badannya stabil, kan?

  • Anak orang lain, bahkan kakak atau adiknya bukan standar baku untuk sebuah diagnosa bahwa anak Anda gagal tumbuh, atau tidak sehat. Tetaplah konsisten berikan asupan serat dalam jumlah yang cukup, sayur dan buah amat penting untuk pertumbuhan. Jagalah makanan dan seleranya sedari dini, dengan memberikan makanan-makanan sehat yang Anda olah sendiri.

  • Jangan hentikan aktivitas tingginya bermain, berlari, memanjat dan berenang. Biarkan ia menjadi anak-anak. Meski ia tidak gendut dan mengggemaskan, toh, ia tetap kebanggaan dan kesayangan Anda, kan? Yang penting ia sehat. Karena yang terpenting adalah sehat, kuat dan cerdas. Bukan gemuk. Anda saja tidak mau terlihat gemuk, ya kan?

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Anak gemuk lebih lucu dan sehat. Oh ya?

Anak yang gemuk, kerap dibilang lucu, menggemaskan dan terlihat lebih sehat. Benarkah? Padahal tidak selalu. Sebab ada risiko obesitas yang mengintai. Jadi jangan merasa kecil hati jika anak Anda tidak gemuk. Sehat, jauh lebih penting.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr