Hobi berbohong? Salah anak atau orangtua?

Memberikan alasan yang tidak logis dan membohongi anak, mungkin efektif agar anak mudah patuh. Namun bergunakah untuk masa depannya? Jangan-jangan ia akan meniru, dan mulai membohongi orangtuanya?

638 views   |   1 shares
  • Banyak orangtua mengeluh mengenai anak-anaknya yang seolah terbiasa berbohong. Entah itu dalam hal melaksanakan tugas, atau memberikan alasan karena pulang terlambat. Sebelum mulai memarahi anak, ada baiknya kita merenung sejenak dan mengingat-ingat, pernahkah kita membohongi mereka? Baik untuk hal besar maupun kecil.

  • Coba ingatlah saat Anda terlambat pulang kantor karena asyik ngopi-ngopi bersama teman. Saat anak bertanya, jawaban apa yang Anda berikan? Atau saat anak masih kecil, dan ia tidak bisa duduk tenang saat makan. Alasan apa yang Anda kemukakan agar ia mau makan dengan tertib? "Duduk ya, nanti ibu panggil pak satpam biar kamu ditangkap!" atau "Yaudah ya kalau tidak bisa duduk diam nanti mama tinggalin aja sendirian!"

  • Pernahkah kita merenung bahwa alasan-alasan yang tidak logis itu, lambat laun dipahami oleh anak, hanyalah berupa gertak sambal yang tidak mungkin dilakukan orangtuanya? Sadarkah bahwa itu termasuk tindakan pembohongan, yang membuat anak memahami bahwa, berbohong tidak masalah. Lalu saat mereka menirunya, bisakah kita memarahi mereka?

  • Banyak orangtua yang hingga kini masih bermain-main dengan akal anak. Mengancam, agar anak takut dan patuh, meski dengan alasan yang tidak masuk akal. Padahal anak, juga punya akal yang tidak bisa diremehkan. Ancaman demi ancaman yang mereka terima, lama kelamaan akan membuat mereka berpikir dan paham bahwa itu tidak akan terjadi. Mereka juga belajar. Dan fatalnya, meniru.

  • Memberikan ultimatum yang tidak rasional akan selalu berdampak buruk bagi tumbuh kembang seorang anak. Pertama, mereka kehilangan rasa percaya pada apapun ucapan kita, orangtuanya. Mereka akan balik meremehkan kita dengan merasa bahwa orangtuanya hanya akan "ngomong doang", dan mengancam tanpa bukti.

  • Kedua, mereka juga akan tumbuh menjadi orang-orang yang tidak bisa berkomitmen. Sebab ia tidak merasa perlu membuktikan apa yang ia ucapkan. Ia akan melakukan hal yang sama dengan yang kita contohkan, dalam kehidupan sosialnya. Berbohong dan mengancam. Hal-hal ini jelas harus diwaspadai.

  • Jalan pintas agar anak diam dan patuh itu, akan menjadi jebakan dalam kehidupan kita selamanya, jika tidak ada perubahan. Mereka akan menjadi persis seperti yang kita ajarkan, bahkan tidak hanya dalam lingkup sosialnya. Kebiasaan tersebut juga akan dilakukan dalam menyikapi orangtuanya. Menyedihkan, bukan?

  • Tidak ada satu pun manusia yang suka dibohongi, atau diberi alasan-alasan yang tidak logis. Begitupun dengan kita. Lalu mengapa harus melakukan hal yang kita tidak sukai, dalam mengajarkan anak, demi anak manis dan diam? Ada banyak hal yang bisa diajarkan dalam kehidupan sehari-hari bersama anak. Jelaskan saja segalanya dengan bahasa yang mudah atau buatlah kesepakatan.

  • Advertisement
  • Misalnya kasus ia tidak bisa diam saat makan. Anda bisa saja memberikan alasan "Ayo adek, makannya sambil duduk. Kalau sambil lari-lari, perut bisa mual loh. Nanti kalau sakit perut kan enggak enak. Memangnya adek mau sakit? Kalau sakit kan tidak bisa main lagi.." jelaskan dengan suara pelan, dekat telinganya sambil menatap matanya.

  • Jika tidak juga efektif, buatlah negosiasi. "Kamu masih mau main atau makan? Kalau masih mau main, boleh. Tapi dua putar lari, sudah ya. Lalu kamu duduk lagi di sini, dan habiskan makananmu. Nanti saat sudah selesai, kamu bebas bermain lagi.." Anda bisa menagih janjinya nanti saat ia sudah berlari dua putaran.

  • Cara-cara tersebut lebih adil, dan jujur. Banyak pelajaran yang bisa diambil dengan melakukan diskusi semacam itu. Anak akan belajar menepati janji. Anak juga akan belajar mengenai ilmu baru bahwa makan sambil berlari-lari bisa membuatnya sakit perut dan mual. Hal yang tidak mereka inginkan, karena sakit tidak pernah menyenangkan.

  • Yang terpenting adalah anak akan tetap memegang teguh prinsip kebaikan. Tidak berbohong, bisa berkomitmen, dan tanpa diteriaki serta diancam-ancam ia akan patuh karena sayang pada orangtuanya. Ia akan melakukan perintah, karena selalu masuk akal. Ia akan memahami bahwa, seluruh larangan dan aturan yang diberikan, semata-mata untuk kebaikannya.

  • Memang prosesnya lebih lama, dan membosankan. Karena harus diulang dan diulang lagi berkali-kali. Apalagi membutuhkan kesabaran untuk terus menangkap dan membisikkan alasan-alasan rasional tersebut hingga ia mengerti. Tapi hasilnya akan sepadan. Sebab mendidik seorang anak menjadi manusia yang bertanggung jawab dan jujur jauh lebih penting ketimbang membuat mereka duduk manis dan diam!

Baca, hidupkan, bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Hobi berbohong? Salah anak atau orangtua?

Memberikan alasan yang tidak logis dan membohongi anak, mungkin efektif agar anak mudah patuh. Namun bergunakah untuk masa depannya? Jangan-jangan ia akan meniru, dan mulai membohongi orangtuanya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr