Maafkan sebelum menyesal...

Bagi teman-teman Muslim, gunakan momen Lebaran tahun ini untuk mengatasi konflik berkepanjangan dengan keluarga dan saling memaafkan, sebelum terlambat.

1,075 views   |   2 shares
  • Hubungan orangtua dan anak tidak selalu harmonis, bahkan ada yang mengalami konflik berkepanjangan tak berujung. Kisah berikut ini diadaptasi dari pengalaman seorang sahabat, sebut saja namanya Wahyu.

  • Selepas SMA di tahun 1999, Wahyu memutuskan untuk segera melanjutkan kuliah ke salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Semarang. Dia ingin menjadi seorang diplomat dan memutuskan mengambil jurusan Hubungan Internasional sebagai langkah awal mewujudkan cita-citanya. Namun, keinginan Wahyu tidak mendapatkan dukungan dari ayahnya yang justru mengharapkan Wahyu mengambil jurusan pertambangan.

  • Perbedaan ini akhirnya menimbulkan konflik berkepanjangan. Ayahnya bahkan mengancam tidak akan membiayai uang kuliah sepeserpun bila Wahyu tetap dengan pendiriannya. Wahyu sangat kecewa dan akhirnya memutuskan keluar dari rumah dan berusaha membiayai kuliahnya sendiri.

  • Akhirnya Wahyu lulus dan mendapatkan pekerjaan sebagai seorang staf di sebuah kedutaan. Seiring berjalannya waktu, Wahyu akhirnya hidup mapan dan berumah tangga. Akan tetapi, hubungan Wahyu dengan ayahnya tetap tidak kunjung membaik, Wahyu sama sekali tidak pernah memikirkan ayahnya karena beranggapan sang ayah tidak berkontribusi dalam keberhasilannya.

  • Hingga suatu hari Wahyu mendapat kabar bahwa ayahnya sedang sakit keras, Hati Wahyu bergejolak, antara emosi dan rindu bercampur-aduk. Sang istri Irene adalah wanita yang baik hati, berusaha meyakinkan suaminya untuk tidak lagi memikirkan masa lalunya. Dia meminta Wahyu untuk melunakkan hatinya dan bersedia mengunjungi ayahnya di rumah sakit. Namun, semuanya ternyata sudah sangat terlambat. Wahyu sama sekali tidak sempat menemui ayahnya di detik-detik terakhir, dan dia hanya bisa menyesal.

  • Mungkin di antara kita juga ada yang memiliki pengalaman sama dengan apa yang dialami oleh Wahyu. Pertanyaannya, "Mengapa begitu sulit memaafkan orang terdekat kita?"

  • Memaafkan membutuhkan kebesaran hati agar bisa melupakan rasa kecewa. Jangan mengaku mengasihi Tuhan bila mengasihi saudara sendiri saja kita tidak bisa.

  • Tuhan sangat membenci permusuhan, tetapi Dia sangat mengasihi kita dan berharap kita bersedia dengan tulus mengasihi sesama. Bila setiap orang mampu memahami bahwa keluarga adalah inti dari kebahagiaan di dunia, maka segala bentuk pertikaian serta permusuhan di dalam keluarga seharusnya bisa dihindari.

  • Bagi teman-teman yang Muslim, sebentar lagi Idul Fitri akan tiba. Jika memang Anda memiliki masalah berkepanjangan dengan salah satu anggota keluarga seperti yang dialami oleh Wahyu, gunakan Lebaran tahun ini untuk menjalin silaturahmi.

  • Advertisement
  • Dan semoga setiap dari kita bisa lebih mengasihi keluarga. Jangan lupa, keluarga yang dibangun dengan cinta kasih, kesabaran, dan ketulusan akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang baik.

  • Orangtua adalah wakil Tuhan di dunia ini, karena itu didiklah anak-anak Anda agar selalu rukun satu sama lain. Para suami-istri, kasihilah pasangan Anda dengan hormat serta tulus. bila Anda mampu mewujudkan hal-hal ini niscaya perselisihan yang berujung dengan kebencian di dalam keluarga dapat dihindari.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Saya seorang guide paruh waktu di Bali, anak kedua dari 5 bersaudara. Saya sangat menyukai alam dan bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara.

Maafkan sebelum menyesal...

Bagi teman-teman Muslim, gunakan momen Lebaran tahun ini untuk mengatasi konflik berkepanjangan dengan keluarga dan saling memaafkan, sebelum terlambat.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr