Pujian berlebihan membahayakan perkembangan anak

Memberikan pujian pada hasil karya anak, adalah hal yang baik, sebetulnya. Namun, jika dilakukan setiap saat, meski hasilnya bukan berasal dari usaha terbaik, nyatanya hanya akan membahayakan perkembangan jiwa si buah hati. Benarkah?

1,177 views   |   2 shares
  • "Anak pintaaar..." seberapa sering Anda mengucapkan kalimat sakti itu di depan anak Anda? Sering sekali? bahkan saat anak belum memberikan upaya terbaiknya. Atau tidak pernah? Jangan! Lakukan secukupnya, dan pujilah usaha yang ia lakukan. Bukan hasilnya. Sebab, ternyata, pujian yang terlalu banyak malah berbahaya bagi perkembangan jiwa anak.

  • Oya?

  • Setidaknya begitulah menurut Christine Gross-Loh dalam buku Parenting without Borders. Ya benar, pujian memang meningkatkan rasa percaya diri hingga tingkat maksimal, tergantung seberapa sering anak dipuji. Tapi, benarkah anak-anak yang tumbuh dengan rasa percaya diri maksimal, akan menjadi orang yang sukses?

  • Ia menjelaskan bahwa, orang dengan rasa percaya diri tinggi, tidak selalu menjadi seorang pemimpin yang baik. Bahkan, orang dengan tingkat percaya diri yang baik-kombinasi dari narsistik dan rasa percaya diri tinggi- malah akan membuat seseorang menjadi lebih rapuh dan terlampau defensif dalam menghadapi persoalan. Bahkan cenderung mudah marah dan melakukan tindakan agresif.

  • Sebab, orangtua yang terlalu fokus dengan banjir pujian, agar anak memiliki percaya diri tinggi, hanya akan menghasilkan anak yang tidak terbiasa dengan kegagalan. Sekali ia mengalami kendala dalam kehidupannya, segala kepercayaan dirinya tadi akan runtuh. Ya, karena ia tidak terbiasa bekerja keras dan mengerti kelemahannya, jika segala hal yang dilakukannya, bagus atau tidak, tetap mendapatkan pujian. Dan bahkan, selalu dibantu oleh orangtuanya, setiap kali mengalami kendala. Satu-satunya hal yang dimengerti oleh anak-anak ini hanya mereka pintar dan apapun yang dilakukannya, meski tanpa jerih payah, adalah baik.

  • Kelly Webster, co-founder dari Island School di Washington mengatakan bahwa "Anak-anak seharusnya merasa bangga saat mereka mampu menemukan solusi dari berbagai permasalahan, sayangnya kini kita tidak lagi membiarkan anak-anak menyelesaikan masalah. Kita terlalu banyak memuji, sebagai bentuk dari bantuan"

  • Karena itu, point pertama dari buku Nurture shock: New Thinking about children, yang ditulis oleh Po Bronson dan Ashley Merryman; adalah pujilah anak-anak atas usahanya. Bukan kepintarannya. Menurut buku ini, jika ketekunan anak-anak hanya dilakukan berdasarkan "hadiah" seperti pujian, saat pujian itu berhenti, upayanya pun berhenti.

  • Jadi, ketimbang mengatakan "Wah, nilaimu bagus sekali. Kamu pasti sangat pintar" lebih baik memujinya dengan "Wah, nilaimu bagus sekali. Kamu pasti telah berusaha dengan amat keras". Memuji karena kepintaran, menurut Carol Dweck, profesor psikologi dari Stanford, adalah bentuk dari sanjungan kosong. Maka, membiarkan anak merasakan kegagalan, adalah baik.

  • Advertisement
  • Orangtua bisa tetap menguatkan anak dengan memberikan pesan-pesan seperti "Lain waktu kamu pasti bisa, ayo tetap semangat". Pasalnya, ia harus mengerti benar bahwa jika seseorang tidak bisa melakukan sesuatu dengan hasil baik sekarang, tidak berarti ia gagal selamanya. Ia hanya belum berhasil, dan suatu hari nanti masih akan ada kesempatannya untuk sukses.

  • Mengubah cara mendidik anak dari terbiasa memberikan pujian berlebih, memang tidak mudah. Maka, Dweck menjelaskan, orangtua bisa memulainya dari mengajarkan nikmatnya tantangan, dan menekankan bahwa otak mereka akan terus tumbuh dan kreatif saat mereka berani mengambil tugas-tugas yang sulit. Buah hati Anda harus yakin bahwa hal terpenting dari mengerjakan sesuatu adalah memberikan usaha terbaik. Mereka, perlahan, harus merasakan nikmatnya mengalami kemajuan saat meningkatkan usaha. Jika konsep-konsep tersebut sudah dimengerti, maka mulailah meningkatkan standar yang lebih tinggi, guna memacu usaha setiap anak.

  • Christine menambahkan; memberikan pujian secara berlebihan, setiap waktu, hanya akan membuat anak-anak melakukan sesuatu demi menyenangkan hati orangtuanya. Mendengar pujian, dan merasa bangga. Bukan untuk kemajuan pencapaian dirinya sendiri. Hal ini jelas berbahaya bagi rasa percaya dirinya. Maka, dorongan terbaik bagi anak, adalah melakukan pengasuhan yang memberikan perhatian penuh terhadap usaha yang dikerjakan untuk setiap hal. Ingatkan setiap saat, bahwa setiap orang harus bekerja keras, dan tidak masalah jika melakukan kesalahan. Karena dari situlah kita bisa belajar untuk menjadi lebih baik lagi.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Pujian berlebihan membahayakan perkembangan anak

Memberikan pujian pada hasil karya anak, adalah hal yang baik, sebetulnya. Namun, jika dilakukan setiap saat, meski hasilnya bukan berasal dari usaha terbaik, nyatanya hanya akan membahayakan perkembangan jiwa si buah hati. Benarkah?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr