Berikan yang terbaik, bukan yang sebanyak-banyaknya

Kebutuhan utama anak, sebenarnya bukanlah tumpukan baju bagus, mainan bermerek, atau alat-alat penunjang lainnya yang trendi dan mahal. Karena menyediakan segalanya, sebanyak-banyaknya ternyata berdampak kurang baik. Ohya?

515 views   |   0 shares
  • Kapan terakhir kali Anda masuk dan membereskan kamar anak? Atau memunguti barang-barang yang berserakan di penjuru rumah? Duduklah dan diam sejenak. Pandangi barang-barang tersebut. Sudah miripkah keadaan rumah Anda dengan toko mainan mini? Atau toko penyedia barang anak? Atau bahkan pabrik kecil?

  • Apa yang kebanyakan kalangan menengah dan menengah ke atas belakangan ini lakukan, sama dengan apa yang terjadi di Amerika Serikat. Christine Gross-Loh, pengarang buku Parenting without Borders, menceritakan bahwa di AS, orangtua rata-rata berlomba untuk memenuhi segala kebutuhan anaknya, dengan membelikan segalanya.

  • Iklan-iklan produk anak yang membombardir, ada di mana-mana. Dengan membaca, menyaksikannya berulang-ulang, terbentuklah suatu pikiran; bahwa orangtua terbaik adalah yang memenuhi segala keinginan dan kebutuhan anaknya. Bahkan alasan terbanyak membeli begitu banyak mainan, buku, pakaian dan sebagainya itu, adalah sebagai bentuk orangtua mendukung bakat dan hobi anak. Annette Lareou, Sosiolog dari universitas Pennsylvania mengatakan bahwa orangtua kelas menengah berusaha keras agar anak-anaknya sukses dengan membelikan seluruh keperluannya. Dengan itu, ia merasa sudah melakukan segalanya.

  • Padahal, yang terjadi kemudian, anak-anak menjadi lebih mudah kehilangan minat pada barang-barang tersebut, karena ia memiliki terlalu banyak. Di AS, kata Christine, ada lebih banyak pusat belanja ketimbang sekolah. Maka tak heran jika 93 persen gadis remaja menyatakan bahwa berbelanja adalah aktivitas favorit mereka. "Rata-rata anak AS membeli 70 buah mainan baru dalam kurun waktu satu tahun" ujarnya.

  • Susan Linn, Penulis buku Consuming Kids: The Hostile Takeover of Childhood mengatakan "Harga diri mereka amat tergantung pada barang-barang yang dimilikinya. Mereka tidak akan merasa bahagia jika belum punya barang baru yang punya nilai perusahaan, seperti merk dan jenis baru. Anak zaman sekarang tumbuh dengan standar nilai tersebut, komersialisme telah mengambil alih kehidupan mereka."

  • Terasa akrab? Ya rasanya memang seperti menyaksikan kelas menengah di kota besar belakangan ini. Rasanya memang membelikan seisi dunia untuk anak merupakan hal yang wajar, karena orangtua sayang anak. Ups, tunggu dulu. Julier Schor, sosiolog dari Boston College berkata bahwa membeli barang terlalu banyak sebetulnya berbahaya bagi tumbuh kembang anak.

  • Gaya hidup yang berorientasi pada konsumerisme memiliki dampak signifikan pada kerusakan mental anak-anak, seperti depresi, kecemasan dan rendah diri. Materialiseme bahkan juga dikaitkan dengan dewasa sebelum waktunya dalam hal seksualitas, obesitas, kekerasan, masalah makan, dan kecenderungan menjadi pembeli impulsif.

  • Advertisement
  • Konsumerisme pun akan berbahaya, terkait pada hubungan antar anak. Mereka akan saling berlomba memamerkan barang-barang baru miliknya, dan menjadi standar baku "Geng", bahwa setiap anggotanya harus memiliki hal itu. Lalu, mereka pun akan sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Maka persahabatan pun tidak lagi memiliki nilai-nilai kasih sayang, namun berganti dengan nilai barang yang dipunyai. Hal ini menjadi alasan utama seorang anak terus merengek meminta suatu barang tertentu. Bayangkan, betapa mengerikannya hal ini?

  • Jadi, Christine menawarkan agar orangtua berhenti melakukan tindakan beli dan membeli. Ia bercerita bahwa di Jepang, ada prinsip mono wo daiji ni suru. Artinya menjaga apapun yang kita miliki. Hal ini hanya akan terjadi jika yang kita miliki tidak terlalu banyak. Tidak berlebihan. Di Jepang, budaya tradisional mengajarkan agar orangtua mencontohkan bahwa "Yang sedikit, sebetulnya lebih banyak". Mereka tidak membelikan dua mainan untuk dua anak di rumah. Cukup satu mainan, karena mereka harus berbagi.

  • Mereka juga tidak terus membeli, namun bermain dengan apa yang ada di sekitar. Misalnya memanfaatkan barang tidak terpakai seperti bungkus makanan, kaleng bekas, kardus, dedaunan, ranting dan sebagainya. Dengan itu, mereka jadi lebih kreatif dan mudah bersyukur. Mereka tidak mengajarkan konsumerisme secara turun temurun, dan tidak menumpuk barang di rumah.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Berikan yang terbaik, bukan yang sebanyak-banyaknya

Kebutuhan utama anak, sebenarnya bukanlah tumpukan baju bagus, mainan bermerek, atau alat-alat penunjang lainnya yang trendi dan mahal. Karena menyediakan segalanya, sebanyak-banyaknya ternyata berdampak kurang baik. Ohya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr