Bekerja demi anak, atau justru mengorbankan anak?

Biaya pendidikan anak mengalami peningkatan 15 persen setiap tahunnya. Karena itu orangtua selalu berpikir untuk bekerja siang dan malam, demi sekolah terbaik bagi putra putrinya. Lalu, siapa yang akan menemani anak-anak kita tumbuh?

5,632 views   |   42 shares
  • Pernah merasa kecil hati saat mendengar biaya pendidikan anak yang terus menerus naik setiap tahunnya? Apakah pertanyaan-pertanyaan seperti "Apakah saya bisa menyediakan dana pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak, setiap tahunnya?" "Apakah saya mampu menyekolahkan anak hingga jenjang tertinggi?"

  • Iya, memang menjadi wajar sebab di Indonesia ini, menurut hasil riset dari Zapfin Research Division, dana pendidikan anak mengalami kenaikan rata-rata 15 persen setiap tahunnya. Angka ini sepertinya jauh di atas kenaikan penghasilan orangtua pada umumnya ya?

  • Tapi, karena biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari yang terus mengalami kenaikan, apakah menjadi wajar jika orangtua menjadi terlalu sibuk mencari uang? Kepanikan menatap bayangan masa depan anak, dan jumlah yang harus dibayarkan untuk seluruh keperluannya, lantas membuat kita membabi buta bekerja siang malam. Kemudian merapal mantra "Demi anak".

  • Lalu mengorbankan waktu bersama anak-anak itu sendiri. Loh? Bukankah di masa pertumbuhannya anak amat membutuhkan orangtua? Jadi bagian mana yang "Demi anak" nya?

  • Kita pergi bekerja sejak subuh, saat anak belum juga bangun. Lalu bekerja seharian, dan pulang malam setiap hari, saat anak sudah beranjak tidur. Masih ditambah lagi mengambil pekerjaan tambahan yang memakan satu-satunya kesempatan akhir pekan di Sabtu-Minggu, bersama keluarga.

  • Saat pada akhirnya ada waktu untuk bertemu anak, yang terjadi adalah kita terlalu lelah bahkan untuk sekadar mendengarkannya berceloteh mengenai satu harinya. Tidak terpikir lagi di kepala kita untuk bermain, berlari-lari, menemani anak naik sepeda, bermain pasir dan melakukan kegiatan sederhana yang paling digemarinya. Tubuh kita sudah terlalu lelah bekerja, dan yang terbayang hanyalah kasur.

  • Jadi, saat anak hadir dengan tawa, canda dan obrolan yang sebetulnya menggelikan itu, tak lagi bisa dinikmati. Kita malah mudah kehilangan kesabaran dan mudah marah pada anak. Padahal ia hanya rindu dan ingin bercerita, yang terjadi berikutnya adalah..."Kamu bisa diam gak sih, mama capek kerja. Kan mama kerja juga buat kamu, cari uang buat kamu sekolah, makan, beli ini itu...bla bla..." atau "Sudah deh, mama mau istirahat dulu. Kamu main aja sama mbak ya sana."

  • Ya, satu-satunya harta yang paling berharga buat kita. Yang menjadi alasan utama mengapa kita bekerja membanting tulang siang malam itu, lambat laun akan berjarak semakin jauh dari kita. Hubungan yang seharusnya manis itu, lama kelamaan akan kehilangan rasa. Senyum manis yang menghiasi wajahnya saat menyambut kepulangan kita itu, juga akan menghilang dan berganti dengan keengganan. Lalu, apa yang sebenarnya kita perjuangkan?

  • Advertisement
  • Pendidikan utama itu berasal dari rumah. Dari orangtua kepada anak. Lalu membentak anak dan menganggap celotehan anak sebagai gangguan, akan membawa pendidikan seorang anak ke arah mana? Anak, tidak membutuhkan sekolah mahal dengan metode-metode pendidikan penemuan terbaru yang menakjubkan. Anak tidak butuh baju-baju mahal dari perancang terkenal. Yang paling dibutuhkan anak adalah kehadiran kita.

  • Mereka lebih menginginkan pelukan, canda tawa, dan kehangatan yang kita berikan. Mereka butuh panutan yang ada buat mereka setiap hari, dan mencontohkan nilai- nilai utama yang harus dilakukan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Tidak perlu terlalu "ngoyo" mencari uang demi sekolah fancy. Lalu menganggap tanggung jawab sebagai orangtua selesai, karena anak sudah bersekolah di tempat terbaik.

  • Sayangilah ia, seperti kita ingin disayangi. Tempatkanlah diri kita dalam posisinya. Benarkah cara kita menerjemahkan kasih sayang? Benarkah tujuan kita bekerja? Inikah yang benar-benar dibutuhkan seorang anak?

  • Masih ada begitu banyak cara yang efektif menjadi solusi, selain bekerja banting tulang siang malam demi pendidikan anak. Namun kemudian mengorbankan kebutuhan utama seorang anak, perhatian dan kasih sayang kedua orangtuanya.

Bantu kami menyebarkan

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Bekerja demi anak, atau justru mengorbankan anak?

Biaya pendidikan anak mengalami peningkatan 15 persen setiap tahunnya. Karena itu orangtua selalu berpikir untuk bekerja siang dan malam, demi sekolah terbaik bagi putra putrinya. Lalu, siapa yang akan menemani anak-anak kita tumbuh?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr