Berdamai dengan si mertua

Konflik antara mertua vs menantu lumrah terjadi. Namun, bagaimana jika solusi tak kunjung datang?

2,961 views   |   6 shares
  • Konflik antara mertua vs menantu lumrah terjadi. Namun, bagaimana jika solusi tak kunjung datang?

  • Sebenarnya hal ini hanya persoalan adaptasi. Tidak ada satupun manusia yang bisa langsung merasa cocok. Wajar jika ada perbedaan yang memancing keributan. Yang penting, setiap orang pun harus paham bahwa pernikahan adalah ikatan atas nama Tuhan yang dilakukan dengan komitmen.

  • Konflik yang biasanya terjadi adalah orangtua cemburu karena anaknya jadi milik orang lain. Selain itu, biasanya, pola pendidikan pada cucu mereka, yaitu anak kita. Banyak dari nenek atau kakek yang terlalu memanjakan cucunya hingga merusak pola didikan yang sudah diterapkan orangtuanya.

  • Solusinya adalah mengalah terlebih dahulu. Ingatlah bahwa mertua adalah orangtua yang paling mencintai pasangan kita, sebagaimana kita juga mencintai anak-anak kita. Wajar jika awalnya mereka sulit beradaptasi dengan kenyataan bahwa kini anaknya harus membagi rasa dengan orang lain.

  • Bersabarlah dan berpikir tenang, serta berusaha untuk memahami jalan pikiran mertua. Biasanya mereka yakin bahwa mereka yang paling tahu dan mengenal anaknya. Keributan bahkan bisa terjadi saat mereka melihat istri yang terlalu letih bekerja hingga lupa menyiapkan makan dan minum untuk suaminya.

  • Mengalah juga harus dilakukan demi mengambil hati mertua, sebelum mengajak bicara baik-baik. Komunikasi akan meluluhkan hati mereka. Dekati mereka dengan mengingat kesukaan-kesukaannya, berikan hadiah-hadiah kecil sederhana sebagai kejutan, berikan perhatian dengan pujian, kerjakan tugas-tugas rumah tangga yang mampu kita kerjakan.

  • Jika sejak awal kita sudah memasang wajah penuh tidak suka, mereka akan bersikap sama kerasnya dengan kita. Akan lebih baik jika kita bersabar dan mendengarkan mereka terlebih dahulu sampai kita berhasil mengambil hati mereka.

  • Termasuk cara mengasuh anak. Saat pendapat mereka berseberangan, ajak mertua minum teh bersama, siapkan makanan kegemarannya, lalu ajak bicara. Beri tahu alasan logis mengenai pilihan kita dalam membesarkan anak. Jika perlu, siapkan bahan-bahan pendukung, misalnya penelitian dan buku-buku terkait. Namun, tak ada salahnya juga kita dengarkan apa yang mereka rasa benar, apalagi mereka sudah jauh lebih berpengalaman dalam mengasuh anak.

  • Yang penting adalah:

    1. Mertua punya posisi yang sama dengan orangtua kita sendiri. Tak ada satupun anak yang ingin menyakiti hati orangtuanya, kan?

    2. Jika tidak ingin mertua melakukan intervensi dalam pengasuhan anak, berhentilah menyerahkan atau menitipkan anak kepada mereka. Kita tidak bisa memprotes pola asuh mereka jika sejak awal sudah memasrahkan anak-anak di tangan mertua.

    3. Lelah dengan aturan mertua di rumahnya? Beranikan diri keluar, dan memulai hidup rumah tangga sendiri. Meski harus mengontrak rumah kecil tanpa bantuan siapapun. Sudah beranikah menanggung seluruh biaya dan mengurus anak tanpa bantuan? Jika belum, ya mau tak mau, nikmati saja aturan empunya rumah.

  • Advertisement
  • Tetaplah bersabar, mengalah, dan lakukan komunikasi dua arah dengan mertua. Lakukan, setidaknya, demi anak-anak. Karena mereka adalah peniru ulung. Jika ingin diperlakukan baik oleh anak, perlakukanlah orangtua dengan baik juga, bukan?

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Berdamai dengan si mertua

Konflik antara mertua vs menantu lumrah terjadi. Namun, bagaimana jika solusi tak kunjung datang?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr