Beri dukungan pada anak, bukan membandingkan

Ada begitu banyak cara memotivasi anak agar sukses. Membanding-bandingkan anak dengan yang lainnya, dianggap salah satunya. Benarkah? Memotivasi atau malah membunuh karakternya? Sebab sebetulnya tidak ada satupun anak yang suka dibandingkan.

1,412 views   |   5 shares
  • Setiap anak memiliki kepribadian yang unik. Artinya, tidak ada anak yang benar-benar bisa persis sama, antara satu dengan lainnya. Hal ini amat penting untuk diingat, namun tidak semua orangtua sudah mengaplikasikan pengetahuan ini dalam pengasuhan anaknya. Contoh paling umum yang terjadi dari "gagal paham" nya orangtua akan hal ini adalah membanding-bandingkan anak dengan orang lain.

  • Ya, baik itu dengan teman seumuran maupun saudara kandungnya.

  • Padahal, membanding-bandingkan anak hanya akan menurunkan rasa percaya dirinya. Membuatnya merasa tidak bisa melakukan sesuatu, dan membunuh karakternya dengan mudah.

  • Memang bisa dianggap wajar, mengapa masih banyak orangtua yang membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain. Sebab, setiap orangtua pasti ingin anaknya sukses. Maka, kebanyakan, menganggap tindakan tersebut akan memberikan motivasi kepada anak.

  • "Lihat tuh de, teman kamu sudah bisa berenang. Kok kamu tidak bisa-bisa?" Ucapan tersebut dianggap akan membuat anak terdorong untuk bersaing dengan temannya. Sebaliknya yang terjadi malah membuat anak menjadi enggan belajar lebih banyak. Sebab ia merasa dirinya "tidak bisa-bisa". Orangtua kerap melupakan esensi anak untuk mempelajari sesuatu.

  • Berenang, misalnya. Coba tanyakan lagi kepada diri sendiri, mengapa kita mengirim anak untuk kursus berenang? Apakah agar anak bisa bertahan hidup, lebih aman saat bermain di alam, terlepas dari risiko tenggelam, atau, demi kebanggaan diri kita, bahwa anak sudah bisa berenang sejak dini? Jika tujuannya memang untuk anak, maka yang sebaiknya dilakukan adalah memotivasi dengan kata-kata yang membuatnya semangat.

  • "De, kamu kan senang outbond. Kadang-kadang ada kegiatan yang bermain di sungai. Kalau kamu tidak bisa berenang, nanti kamu bisa terhanyut. Bahaya kan? Hayoo...semangat ya berenangnya, agar bisa main di sungai dengan senang.." Anak akan lebih semangat, jika ia memahami alasan utamanya ia kursus berenang.

  • Namun patut diingat juga, orangtua tidak berhak memaksakan suatu kursus atau anak harus juara dalam suatu mata pelajaran. Karena setiap anak memiliki keahliannya masing-masing, bahkan kakak beradik. Jika sang kakak pintar dalam berhitung dan menggemari sains, belum tentu si adik demikian. Bisa saja, keahlian si adik dalam hal bahasa dan seni.

  • Tidak ada anak yang bodoh di dunia ini. mereka hanya berbeda, baik dari fisik, karakter maupun talentanya. Jadi tidak ada suatu standar baku keahlian seseorang, yang bisa dijadikan bahan pembanding antara satu manusia dengan manusia lainnya. Justru akan lebih baik jika, misalnya, menjadikan kakak dan adik sebagai satu tim.

  • Advertisement
  • Jadi untuk apa membanding-bandingkan anak dengan orang lain, jika mereka sebenarnya dapat saling mengisi dan menghasilkan sesuatu yang brilian dengan keahliannya masing-masing. Pakar perkembangan psikososial, Erik.H. Erikson mengungkapkan bahwa anak yang tumbuh dengan dibanding-bandingkan akan menjadi pribadi yang ragu pada banyak hal. Ragu, karena ia tahu, apa yang dikerjakannya akan selalu dibandingkan.

  • Ia juga akan malu, jika hasil perbandingannya negatif. Pada akhirnya ia menjadi takut untuk menampilkan potensi dirinya, dan kemandirian pun sulit dibentuk. Perilaku minder ini akan terbawa terus hingga dewasa. Kreativitas yang seharusnya makin berkembang pun, otomatis akan ikut terhambat.

  • Maka, ketimbang membandingkan, berikanlah ia pujian secukupnya, kemudian ajak ia untuk terus menciptakan hal-hal baru yang menakjubkan. Berikan inspirasi lewat buku, film atau cerita dari tokoh-tokoh dunia. Ajak ia mengenali potensinya dan menggalinya lebih dalam. Dukung ia, dan pacu semangatnya untuk terus melakukan eksplorasi.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Beri dukungan pada anak, bukan membandingkan

Ada begitu banyak cara memotivasi anak agar sukses. Membanding-bandingkan anak dengan yang lainnya, dianggap salah satunya. Benarkah? Memotivasi atau malah membunuh karakternya? Sebab sebetulnya tidak ada satupun anak yang suka dibandingkan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr