Berhentilah membantu anak

Setiap orangtua sudah pasti menyayangi anaknya. Namun bagaimana seharusnya mengaplikasikan rasa sayang tersebut? Apakah dengan terus membelanya saat ia melakukan kesalahan, dan membantu setiap tugas-tugasnya?

3,397 views   |   8 shares
  • "Ini mainan kok bisa rusak, gimana sih mbak?"

  • "Itu si Adek yang banting-banting bu,"

  • "Jangan nyalahin adek dong, kan dia masih dua tahun. Harusnya kan kamu yang awasi, jangan sampe dia merusak mainan. Gimana sih, sudah digaji, kerja dong..."

  • Dialog di atas hanyalah sebuah contoh, bagaimana seorang ibu memarahi pengasuh anaknya, karena kesalahan yang dilakukan anaknya. Loh, tapi kan benar, adek masih kecil, wajar saja merusak mainan. Namun dua tahun, nampaknya sudah merupakan usia wajar saat orangtua bisa mengajak anak untuk lebih hati-hati saat bermain.

  • "Adek, besok-besok kalo main lebih hati-hati ya, kalau mainannya pecah lalu pecahannya kena badan kamu, gimana? Kan sakit. Lagian kan sayang mainannya, nanti enggak ibu belikan lagi looh..."

  • Begitu misalnya. Namun anak, perlu tahu bahwa dia juga melakukan kesalahan, seperti manusia lain. Bukannya segala kesalahan ditimpakan kepada pengasuh. Ya, memarahi pengasuh, apalagi di depan anak, hanya akan memperumit suasana. Pengasuh menjadi tidak betah bekerja, dan anak akan belajar satu hal; ia tidak pernah salah. Hal ini merupakan salah satu bentuk perilaku terlalu memanjakan, yang dilakukan orangtua kepada anak.

  • Kadang orangtua memang berlebihan dalam mengasuh anak, salah satunya ya itu, anak selalu benar. Hal lain, misalnya, selalu menyediakan fasilitas ternyaman, mengabulkan semua permintaan, dan tidak mengajarkan "tolong", "maaf" dan "terima kasih". Kebiasaan ini, jika tidak diubah, akan berlanjut hingga anak tumbuh remaja bahkan dewasa.

  • Yang terjadi biasanya anak menjadi lemah, mudah menyerah, tidak tertantang untuk berusaha meraih sesuatu dalam hidupnya, karena segala hal sudah disediakan oleh orangtuanya. Nah, didikan seperti ini hanya akan menghasilkan anak yang manja, cengeng dan kurang semangat juang. Anak akan menjadi pribadi yang lebih mudah tumbang dan patah semangat ketika menghadapi cobaan hidup.

  • Padahal jika sejak awal anak diajarkan bertanggung jawab atas segala perbuatannya, paham bahwa segala pilihan ada konsekuensinya, diajarkan bersabar dan mengerti bahwa tidak semua hal bisa langsung dimiliki saat diminta, juga mengajak anak memahami bahwa kehidupan tidak selalu nyaman, artinya anak sedang dididik untuk menghadapi masalah dan mencari solusinya.

  • Anak harus memahami benar bahwa kadang ada kesulitan dalam hidup, dan untuk mengatasinya, tidak selalu dengan cara mencari ayah dan ibu. Namun, mencoba menyelesaikannya dengan baik. Ia harus tahu kapan ia bersalah, lalu belajar mengatakan maaf. Ia harus tahu bahwa tidak semua orang senang diminta, maka saat harus meminta, ia harus mengatakan "tolong" dan meminta dengan baik. Ia juga harus paham bahwa kata "terima kasih" kadang bisa meluluhkan hati, dan menyelesaikan sedikit permasalahan.

  • Advertisement
  • Ia harus bisa mandiri, belajar mengerjakan tugas-tugasnya sendiri, tanpa bantuan siapapun. Segala hal yang dapat membantunya berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung kepada siapapun kecuali Tuhan. maka, ia akan menjadi pribadi yang kuat, dan tangguh dalam menghadapi masalah. Sebab sudah terbiasa menghadapi berbagai kesulitan dalam hidupnya.

  • Untuk itu, saat ada sesuatu kejadian, sebagai orangtua, coba pikirkan matang-matang. Menurut Rani Razak Noe'man dalam bukunya bicara bahasa anak, dijelaskan bahwa setiap menghadapi masalah, orangtua harus bertanya kepada diri sendiri. Apakah masalah itu mengganggu hak kita sebagai oragtua? Apakah masalah tersebut mengganggu keselamatan jiwa dan harta benda anak dan orangtua? Jika ya, berarti itu masalah kita sebagai orangtua.

  • Jika tidak,hal itu adalah masalah anak. Jika demikian, orangtua sebaiknya tidak ikut turun tangan mencari pemecahan masalahnya. Biarkan anak yang mencari solusinya. Biarkan anak berpikir dan menemukan jalannya. Sebab orangtua adalah fasilitator dan pengarah, bukanlah problem solver. Kini, Anda bebas memilih. Mendidik anak menjadi manja dan lemah, atau menjadi kuat dan tangguh?

Baca, hidupkan, bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Berhentilah membantu anak

Setiap orangtua sudah pasti menyayangi anaknya. Namun bagaimana seharusnya mengaplikasikan rasa sayang tersebut? Apakah dengan terus membelanya saat ia melakukan kesalahan, dan membantu setiap tugas-tugasnya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr