Bersaing? Siapa Takut!

Indonesia adalah negara besar, dengan jumlah penduduk yang banyak. Persaingan adalah keseharian kita. Namun mengapa kita masih terus kalah dari negara lain? Jangan-jangan karena kita terbiasa dengan sikap pasrah dan menerima saja?

917 views   |   3 shares
  • Pepatah bijak mengatakan bahwa hidup bukanlah melulu persaingan. Kadang kita harus legowo dan pasrah. Tidak ada yang salah dari kalimat itu. Yang salah adalah interpretasinya bahwa persaingan itu mengerikan.

  • Akhirnya, kita terus menciptakan generasi kalah, bahkan sebelum berjuang. Penduduk Indonesia jumlahnya sekitar 250 juta orang dengan penduduk miskin diprediksi mencapai 30,25 juta orang atau sekitar 12,25 persen dari total jumlah penduduk Indonesia.

  • Yang paling menyedihkan adalah ketimpangan antara penduduk miskin dan penduduk kaya juga semakin terlihat jelas. Presiden Direktur Dompet Dhuafa menjelaskan bahwa koefisien ini pada akhir 2014 diperkirakan mencapai 0,42. Masyarakat Indonesia terbagi atas tiga kelas: kelas atas sebesar 20 persen, kelas menengah sebesar 40 persen serta kelas paling bawah 40 persen.

  • Koefisien tersebut bukan tidak mungkin terus meningkat. Artinya, yang miskin terus miskin, dan yang kaya tetap kaya. Tidak ada lagi persaingan, tidak ada lagi saling berbagi.

  • Bagaimana Indonesia mampu bersaing dengan penduduk negara lain yang semakin maju, jika kemiskinan terus merajalela, tanpa dibekali kemampuan bersaing? Kemiskinan identik dengan sulitnya menerima akses pendidikan dan kesehatan. Maka, hanya 20 persen dari penduduk Indonesia yang dipastikan mampu bersaing dengan penduduk negara lain yang PDB-nya jauh melampaui Indonesia. Jumlah kelas menengah pun bisa terus menurun, jika prinsip hidupnya masih terus pasrah. Lalu siapa yang akan menguatkan Indonesia?

  • Sikap pasrah ini seharusnya muncul saat kita sudah berada dalam situasi berjuang hingga titik darah penghabisan, namun hasil tak kunjung baik. Misalnya, menghadapi persaingan mendapatkan beasiswa untuk masuk universitas terbaik, padahal belajar, berdoa, dan berusaha keras sudah dilakukan. Kita memang kemudian harus merelakan tetapi bukan berarti perjuangan berhenti. Kita bisa mencari universitas lain yang tak kalah baik, lalu berjuang masuk dengan jalan yang sama.

  • Begitulah anak-anak Tiongkok dibesarkan. Seperti buku Battle Hymn of the Tiger Mother karangan Amy Chua menimbulkan banyak kontroversi karena dianggap terlalu keras dalam mendidik anak. Tetapi kenyataan memang seringkali pahit. Faktanya, kita bersaing dengan begitu banyak penduduk. Belum lagi dengan penduduk negara lain yang kini terus gencar masuk ke Indonesia, turut 'berperang' dalam memperebutkan "kue" milik rakyat Indonesia.

  • Kita tidak bisa diam dan pasrah. Bayangkan betapa sulitnya masa depan yang akan diihadapi anak-anak kita kelak, jika kita tidak menanamkan nilai-nilai persaingan dalam hidup mereka sejak dini? Mereka akan menghabiskan masa kecil dengan bermain video game, nonton televisi dan menghabiskan waktu di mal.

  • Advertisement
  • Padahal suatu hari nanti, generasi anak-anak akan menggantikan kita. Akankah mereka terus mendapatkan turunan sikap legowo dan kalah sebelum bersaing? Kemudian tumbuh menjadi generasi "pengutuk" yang bisanya hanya marah-marahin pemerintah serta pengusaha kaya di televisi, namun menghabiskan kesehariannya dengan kegiatan yang tidak bisa membuatnya menguatkan diri sendiri.

  • Atau menjadi generasi yang kuat, mampu bersaing, tapi tetap punya hati mulia yang ikhlas, legowo lalu ringan tangan dalam membantu sesamanya. Saling menguatkan dan mendobrak rentang jarak koefisien antara si miskin dan si kaya?

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Bersaing? Siapa Takut!

Indonesia adalah negara besar, dengan jumlah penduduk yang banyak. Persaingan adalah keseharian kita. Namun mengapa kita masih terus kalah dari negara lain? Jangan-jangan karena kita terbiasa dengan sikap pasrah dan menerima saja?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr