Stop membuang makanan!

Memesan satu porsi makanan, namun hanya menghabiskan setengah lalu membuangnya begitu saja. Kebiasaan buruk ini ternyata salah satu penyebab tumpukan sampah, lho!

1,769 views   |   6 shares
  • Entah karena memang sudah kenyang atau alasan diet, terkadang makanan yang dimasak di rumah – atau pesanan di restoran – tidak sanggup dihabiskan. Akhirnya, dibuang begitu saja. Padahal, masih ada begitu banyak orang yag kelaparan dan tidak bisa makan setiap hari. Terdengar menyedihkan? Ya.

  • Data terakhir dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa timbunan sampah nasional jumlahnya mencapai 176 ribu ton per hari, sebagian besar dari sampah rumah tangga. Meski memang tak ada data akuratnya bahwa sampah tersebut merupakan sisa makanan atau bukan, tetap saja, ribuan ton setiap hari adalah jumlah yang amat banyak.

  • Sementara, data terakhir dari para peneliti di Chicago memperkirakan 30-50 persen makanan yang dihasilkan di dunia berakhir tanpa dimakan. Menurut The Natural Resources Defense Council AS, setiap penduduk di Amerika rata-rata membuang 14 kg makanan setiap bulan. Dalam satu tahun, setiap orang di AS membuang hampir 181 kg makanan, yang sama beratnya dengan seekor gorila jantan dewasa.

  • Data lainnya, berasal dari Korea Selatan di mana makanan yang akhirnya menjadi sampah, dalam sehari, jumlahnya sekitar 4 ton dan terus meningkat hingga 6,5 ton. Jumlah itu, jika diuangkan, bisa mencapai 8 triliun Won! Uang yang cukup banyak untuk bisa membangun negara. Jika penduduk Kor-Sel mengurangi sampah makanannya, mereka mengurangi biaya pengelolaan sampah sebesar 7 miliar Won, yang bisa digunakan untuk membangun lahan demi kepentingan mengubur sampah.

  • Membuang makanan adalah pemborosan, pencemaran lingkungan, serta wujud dari tidak adanya rasa empati pada orang-orang yang kekurangan makanan. Ingatlah bahwa 1 dari 7 orang di dunia menderita kelaparan, padahal 1/3 makanan terbuang begitu saja.

  • Membuang sisa makanan memang tampak sepele. Tidak akan pernah terlintas di kepala bahwa kebiasaan tersebut berujung pada angka pemborosan yang jumlahnya amat fantastis.

  • Beberapa organisasi sosial di Australia mencoba mengatasi hal tersebut dengan mendistribusikan bahan makanan layak makan. Relawan-relawan berkeliling restoran, menjemput makanan yang tersisa setiap hari. Kemudian mereka memilah bahan makanan yang masih bisa diolah dan mengantarkannya ke rumah-rumah jompo, orang terlantar, atau dijadikan pupuk, seperti yang dikutip dari http://www.givenow.com dan http://www.secondbite.org .

  • Advertisement
  • Tiga cara untuk mengatasi hal ini:

    1. Sediakan makanan secukupnya saja

    2. Jangan pernah menyisakan makanan

    3. Saat makan di restoran, pesanlah makanan secukupnya. Jika berlebih, bungkus dan habiskan di rumah. Atau berikan pada orang yang tak mampu atau kepada hewan-hewan terlantar yang berkeliaran di sekitar rumah kita.

  • Tak perlu malu saat membungkus makanan dari restoran. Hemat seperti itu bukanlah pelit, melainkan 'elegant economy', yakni berusaha menghemat melalui modifikasi yang masih punya nilai manfaat.

  • Tanamkan hal semacam ini dalam nilai-nilai di keluarga kita. Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil yang dilakukan bersama-sama. Mari hentikan kebiasaan buang-buang makanan.

Anda suka artikel ini? Bagikan dengan teman-teman

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Stop membuang makanan!

Memesan satu porsi makanan, namun hanya menghabiskan setengah lalu membuangnya begitu saja. Kebiasaan buruk ini ternyata salah satu penyebab tumpukan sampah, lho!
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr