Hujan Itu berkah. Syukurilah!

Anak-anak sangat gemar bermain hujan, tapi banyak orang dewasa mengeluh jika hujan terus turun. Padahal, hujan adalah berkah. Dan harusnya disyukuri. Mungkin kita harus mulai melakukan perubahan kecil, agar lambat laun hujan tak lagi jadi masalah.

1,440 views   |   5 shares
  • Musim hujan sudah berlalu. Kini tiba saatnya kemarau lagi. saatnya suhu tengah hari berkisar antara 30 hingga 34 derajat celcius. Saatnya kita kembali merindukan datangnya hujan, yang menentramkan.

  • Namun mari kita coba mengingat, berapa kali kita mengeluhkan hujan saat musimnya tiba kemarin itu? Berapa kali kita mengutuk datangnya hujan, karena jalanan pasti macet, banyak genangan hingga banjir melanda, dan anak-anak jadi tidak bisa bermain di luar karena takut sakit. Berapa banyak dari kita yang terkena flu, lalu menyalahkan musim penghujan?

  • Hujan itu, sebetulnya adalah berkah dari Tuhan. Bukan salah hujan, jika saatnya turun lalu mengakibatkan banjir. Bukan salah hujan, jika dinginnya mengakibatkan kita terkena virus dan jatuh sakit. Bukan salah hujan juga, ketika harus membasahi bumi lalu jalanan otomatis menjadi dua kali lebih macet.

  • Salah kita.

  • Saat mengutuk hujan, mencela kinerja pemerintah, dan menghina kinerja sistem pengelolaan air yang lamban, sudahkah kita membuang sampah dengan benar? Dipilih dan dipilah sesuai jenisnya. Sudahkah kita membantu mengurangi sampah, yang mengakibatkan banjir, dengan mendaur ulang, mangubur sampah bekas masak, dan tidak membuang-buang makanan? Sudahkah kita berupaya untuk menjaga kesehatan dengan makanan bergizi?

  • Sudahkah kita mengurangi penggunaan kendaraan pribadi? Membuat lubang biopori? Diet kantong plastik? Kalau sudah, mari kita protes. Namun jika belum, cobalah kembali lagi berkaca. Sudah pantaskah kita marah-marah dan mengutuk, mencela lalu menghina. Baik hujan, maupun orang lain.

  • Seperti yang selalu kita ulang-ulang, dalam dongeng tidur anak-anak, hujan diturunkan Tuhan agar bumi selalu subur. Tanaman bisa tumbuh, dan hewan bisa makan tanaman, lalu kita bisa memakan keduanya. Rantai makanan berjalan dengan baik, dan kehidupan stabil. Betapa berharganya keberadaan hujan, yang pada realitanya kerap kita hina.

  • Marah-marah dan menyalahkan sistem, adalah tindakan melelahkan yang hanya berbuntut pada rasa semakin lelah. Teriak sekencang apapun, takkan ada telinga yang mendengar. Bukan begitu caranya. Protes, menunjukkan emosi, memperlihatkan kemarahan, hanya akan menjadi contoh buruk bagi anak-anak kita. Apalagi mereka juga lambat laun menyadari bahwa yang kita lakukan hanyalah kesia-siaan. Membuang-buang waktu dan energi yang berharga.

  • Jadi bagaimana jika kita, di musim kemarau ini, mulai melakukan perubahan dalam sistem pengelolaan sampah keluarga. Kita mulai saja dari diri sendiri. Mulailah memisahkan sampah rumah tangga. Jika masih ada sisa tanah di halaman, sisihkan waktu dan uang untuk membuat lubang-lubang penguburan sampah sisa memasak. Syukur jika menambah pengetahuan mengolah sampah menjadi pupuk.

  • Advertisement
  • Kurangi waktu jalan-jalan di mal dan menghabiskan uang untuk membelikan mainan anak. Mari kita ajak anak-anak bermain dengan barang bekas yang masih bisa dipergunakan kembali. Membuat alat musik dari botol dan kaleng bekas, misalnya. Akan menjadi saat-saat menyenangkan dan cukup efektif mengurangi tumpukan sampah. Kemudian, persiapkan lubang-lubang biopori di halaman. Jika memungkinkan, ajak para tetangga untuk melakukan hal yang sama. Akan mengasyikkan jika setelah bersama-sama membuat lubang, lalu berkumpul bersama tetangga sambil bercengkrama.

  • Persiapkan diri untuk menghadapi musim penghujan yang akan datang. Ajari anak-anak agar tetap sehat, hingga tidak takut sakit lagi saat bermain di bawah titik hujan yang menyuburkan tanah. Kembalikan lagi nama baik hujan, sebagai berkah, yang dinanti setiap mahluk di dunia. Berhenti mencela, berhenti menjadi contoh perilaku penuh cacian dan makian kepada anak-anak.

  • Mari kita berbuat sedikit, lalu bagikan pengetahuan ini, sebarkan ke seluruh dunia. Agar yang sedikit, menjadi banyak, dan terasa manfaatnya.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Hujan Itu berkah. Syukurilah!

Anak-anak sangat gemar bermain hujan, tapi banyak orang dewasa mengeluh jika hujan terus turun. Padahal, hujan adalah berkah. Dan harusnya disyukuri. Mungkin kita harus mulai melakukan perubahan kecil, agar lambat laun hujan tak lagi jadi masalah.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr