Jangan mengingat seperti gajah! Iya, gajah!

Gajah adalah satwa dengan ingatan yang hebat. Namun seringkali membahayakan sebab lebih mudah trauma. Padahal belakangan, banyak tutorial untuk mengingat seperti gajah. Benarkah kita menginginkan itu?

6,203 views   |   5 shares
  • Belakangan ini, gajah sering dijadikan contoh dalam buku motivasi karena keunggulannya dalam mengingat begitu banyak hal. Bahkan kerap dijadikan perumpamaan, "Hebat sekali, ingatanmu tajam seperti gajah".

  • Tapi apakah kita benar-benar mau mengingat seperti gajah? Padahal ada satu anugerah Tuhan untuk kita , yakni "lupa".

  • Ya, gajah memang punya ingatan yang kuat, namun akalnya tidak sepandai manusia. Gajah-gajah "pintar", yang mampu mengikuti perintah, dilatih pawangnya dengan menggunakan tungkai yang cukup tajam agar mereka patuh. Lalu, tungkai tajam itu diganti dengan tangan atau jari. Sementara gajah tetap patuh. Kenapa? Karena dalam memori gajah, jari lembut tersebut tetaplah tungkai tajam yang menyakitkan. Maka mereka mengikuti perintah yang diberikan.

  • Sebuah sumber mengatakan, "Ketika kesepakatan internasional melarang perdagangan gading gajah di 1989, tersisa sekitar sejuta gajah di Afrika dan sekitar 7,5 persennya diburu gadingnya per tahun. Sekarang, tersisa kurang dari separuhnya saja. Namun masih saja kita kehilangan 8 persennya karena pemburu gading. Pada dasarnya, para pemburu gading telah melakukan seleksi alam pada gajah. Gajah dengan gading yang bagus diburu dan dibunuh akibatnya jika sebelumnya hanya 2 hingga 5 persen saja gajah Asia yang lahir tanpa gading, sekarang naik hingga 38 persen. Lebih dari sepertiga populasi gajah."

  • Gajah betina kini lebih tertarik pada jantan yang tak memiliki gading, agar keturunannya tidak memiliki gading. Evolusi ini terjadi hanya dalam satu abad, semenjak para kolonial eropa mulai tertarik menjadikan gading gajah sebagai komoditas ekspor. Padahal fungsi utama gading adalah melindungi diri, namun kini mereka berevolusi tanpa gading - itu pun untuk melindungi diri dari kekejaman manusia. Namun betulkah, manusia lebih cerdas dari gajah? Atau kita semua sama saja, mudah trauma?

  • Jangan sampai hal yang seharusnya kita ingat, seperti keceriaan pagi ini, doa yang berbalas, atau matahari yang masih bersinar, malah dilupakan? Kemudian yang diingat hanya hal yang traumatis. Kalau begitu, apa bedanya kita dengan gajah? Padahal seharusnya kita lebih baik. Manusia, seharusnya mampu berjalan meninggalkan masa lalu yang terasa kelam. Kita berevolusi untuk menjadi lebih kuat dan hebat. Bukannya tenggelam dalam trauma yang menyedihkan.

  • Gajah berevolusi untuk menyelamatkan kelompoknya, sementara manusia punya kekuatan berlipat ganda saat berevolusi. Karena kita tidak hanya bisa menyelamatkan kelompok kita sendiri, kita bahkan bisa menyelamatkan para gajah.

  • Advertisement
  • Ingatlah, tugas kita masih banyak. Percaya dan yakin bahwa Tuhan itu ada dan selalu menjaga kita. Bersyukur akan membuat kita mampu melupakan hal-hal buruk yang memang seharusnya dilupakan, kemudian mengingat hal-hal baik yang harusnya selalu ada di hati.

  • Bukankah hidup kita itu hari ini, besok, lusa, tahun depan, dan seterusnya?

Bagikan pada teman dan keluarga..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Jangan mengingat seperti gajah! Iya, gajah!

Gajah adalah satwa dengan ingatan yang hebat. Namun seringkali membahayakan sebab lebih mudah trauma. Padahal belakangan, banyak tutorial untuk mengingat seperti gajah. Benarkah kita menginginkan itu?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr