Daycare, Mampukah Jadi Solusi Ibu Bekerja?

Balita adalah anak-anak yang berada dalam periode emas kehidupan. Mereka membutuhkan banyak stimulasi untuk perkembangan otaknya. Sementara dengan orangtua yang harus bekerja, cukupkah menitipkan anak yang sedang pintar-pintar nya itu kepada ART?

2,213 views   |   7 shares
  • "Buat apa capek-capek kuliah tinggi-tinggi, lalu mengabdikan diri dalam karier, sementara anak di rumah diurus Asisten Rumah Tangga, yang lulus SMP saja tidak..."

  • Kalimat ini keluar dari seorang pakar pendidikan, pada suatu waktu. Menohok sekali di hati. Namun, di masa kini, keadaan kadang menjepit posisi seorang ibu yang mau tidak mau harus meninggalkan putra atau putrinya, karena bekerja, atau berbisnis.

  • Data statistik menunjukkan bahwa pada 2014, terdapat 118,2 jumlah total pekerja di Indonesia, dan sebesar 43 juta nya adalah perempuan. Data hasil survey angkatan kerja nasional pun menunjukkan bahwa jumlah wanita bekerja tiap tahunnya bertambah 1,18 persen.

  • Lalu, bagaimana caranya para ibu bisa tenang meninggalkan anak tercinta sementara mereka bekerja mencari nafkah?

  • Rasanya ada satu opsi yang bisa dipertimbangkan. Yakni tempat penitipan anak, atau populer disebut dengan istilah berbahasa inggris; daycare.

  • Di daycare, rata-rata mereka menetapkan kurikulum serupa yang diajarkan di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk meningkatkan kemampuan kemandirian, life skills, dan sosialisasi balita. Hal ini akan mencegah balita tumbuh dengan kemampuan ART yang seadanya, dan menimbulkan rasa 'lengket' hanya pada si pengasuh.

  • Memang, biaya yang dikeluarkan mungkin akan lebih banyak. Tapi dari segi waktu, pemanfaatan untuk belajar dan bermain akan terasa lebih luas bagi anak.

  • Selain itu, ada pula fasilitas daycare yang juga menyediakan makanan sehat bagi anak, sehingga ibu tidak perlu kerepotan mengontrol nutrisi dengan harus terus memasak di sela kesibukan bekerja.

  • Poin terpentingnya adalah, orangtua tidak 'membuang-buang' periode emas balita yang sedang aktif-aktifnya. Kebutuhan eksplorasi dan belajar yang tinggi pada anak, lebih mungkin terpenuhi dengan keberadaan daycare.

  • Sayangnya, daycare juga punya beberapa kelemahan. Misalnya, mudah tertular virus flu dan sejenisnya dari anak lain yang sedang dalam kondisi lemah. Lalu, masih ada juga daycare yang belum menyediakan cctv atau kamera pemantau yang bisa diakses dari ponsel orangtua, belum lagi risiko menirukan perilaku dari anak lain yang tidak diinginkan orangtua.

  • Maka, bagaimanapun, setiap orangtua harus mampu memilih daycare yang akan dijadikan tempat menitipkan anak. Sebab tidak semua daycare mampu memfasilitasi kebutuhan anak dan keinginan pencapaian anak, oleh orangtua.

  • Advertisement
  • Selain itu, setiap orangtua yang hendak menitipkan anak di daycarepun harus lebih "bawel" saat meminta pelayanan yang maksimal bagi anaknya. Jangan pasrah dan diam saja jika ada perubahan di diri anak, terutama yang tidak diinginkan.

  • Karena periode emas balita, adalah masa-masa yang amat berharga. Dan ingatlah keberadaan orangtua untuk anak tetaplah hal yang terpenting bagi seorang anak.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Daycare, Mampukah Jadi Solusi Ibu Bekerja?

Balita adalah anak-anak yang berada dalam periode emas kehidupan. Mereka membutuhkan banyak stimulasi untuk perkembangan otaknya. Sementara dengan orangtua yang harus bekerja, cukupkah menitipkan anak yang sedang pintar-pintar nya itu kepada ART?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr