Ibu dan sisa waktunya

Kadang kita merasa Tuhan masih akan memberikan waktu panjang bagi kita, untuk mengalami kebersamaan bersama ibu. Namun, akan tiba saatnya nanti ia tiada. Apakah saat hal itu terjadi, kenangan indah atau penyesalan yang ada di dalam hati?

1,939 views   |   1 shares
  • Pernahkah Anda merasa risih karena ibu, mama, bunda, atau apapun kita memanggilnya, masih saja bawel menasihati kita ini itu, meski kini kita sudah dewasa dan berkeluarga?

  • Pernah kesal karena ibu, orang yang melahirkan kita itu, rutin menelepon dan meminta kita datang mengunjungi mereka, seperti tak mengerti kesibukan kita?

  • Semakin tua usia ibu, biasanya, dia memang akan semakin drama. Semakin perasa, dan cengeng. Tepat disaat kita sedang berada di masa mengejar karier, atau kerepotan mengurus balita yang tidak bisa ditinggal. Maka pertengkaran jadi biasa terjadi, karena ada benturan kepentingan yang dibumbui melodrama.

  • Ya, wajar. Kita merasa sudah dewasa, dan sudah mengerti apa yang harus dikerjakan, tanpa harus terus menerus dibaweli. Sebab kita sering merasa bahwa waktu yang kita miliki bersamanya masih panjang. Maka, semestinya masih akan ada waktu besok lagi, untuk hadir dan menemaninya bercerita.

  • Padahal, waktu dan umur, adalah misteri. Tak ada satupun mahluk hidup yang tahu persis mengenai hal itu. bukan tidak mungkin, Tuhan, tiba-tiba mengambil mama, dan dalam sekejap, kita baru sadar bahwa tak akan ada lagi suara bawel yang mengingatkan kita agar tidak lupa makan, meski sedang sibuk.

  • Tak akan ada lagi omelan yang menasehati kita agar waspada saat harus pulang malam sendirian.

  • Tak akan ada lagi senyum hangat dan pelukan erat yang menyambut, saat kita datang berkunjung, meski dengan muka lelah tanpa buah tangan sedikitpun.

  • Dan yang paling pedih adalah, tak akan ada lagi orang yang tak putus berdoa untuk kebahagiaan dan kesehatan kita, setiap hari.

  • You don't know what you've got, until it's gone. Percayalah.

  • Jika saat itu terjadi, ketika Tuhan benar-benar mengambil satu-satunya mahluk yang paling mencintai kita di muka bumi ini, penyesalan akan datang bertubi-tubi. Di dalam hati terkecil, yang tersembunyi dibalik tangisan dan ratapan karena kehilangan itu, akan muncul rasa kesal yang menyalahkan diri sendiri.

  • Bahwa sebenarnya, suara cempreng dengan intonasi tinggi yang selama ini mengiringi puluhan tahun kehidupan kita itulah, yang bisa membuat diri kita sampai sejauh ini. Sesukses ini. Bahwa sesungguhnya, doa yang dipanjatkannya setiap pagi saat kita berangkat, dan malam saat kita pulang itulah, yang membuat kita merasakan kebahagiaan dan keselamatan.

  • Saat ia sudah tidak ada lagi di dunia, nanti baru terasa betapa sedih hatinya saat kita menolak datang karena capek. Padahal ia sudah memasakkan lauk pauk kesukaan kita. Padahal ia pernah membesarkan kita, dengan kelelahan yang mungkin lebih banyak dari yang kita rasakan, tapi tak pernah absen dari hidup kita.

  • Advertisement
  • Hal ini, sesungguhnya, akan menjadikan kesedihan yang berlipat ganda, dan air mata yang tak akan berhenti menggenangi pelupuk mata, acapkali teringat dirinya. Ya karena penyesalan, datangnya memang selalu belakangan.

  • Maka, sekarang, saat ia masih ada, ingatlah bahwa ibu adalah manusia yang akan selalu ada buat kita, kapanpun. Cobalah, setidaknya, membalas keberadaan itu. Karena apapun yang kita lakukan takkan pernah bisa menempatkan kedudukan kita di posisi sejajar. Ibu akan selalu lebih unggul. Jadi, cobalah lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan.

  • Kebanyakan ibu, tidak menginginkan rumah mewah, mobil baru, atau emas berlian sebagai balasan dari seorang anak. Seringkali mereka hanya ingin kita ada. Menemani minum teh sore, mengantarnya berolahraga, mengajaknya berlibur ke pantai, meneleponnya tiap hari, memeluk kesepiannya, dan tertawa bersama-sama.

  • Tidak susah. Tidak mahal. Dan setidaknya, nanti, saat ia benar-benar tiada, kita tidak terlalu menyesal, karena pernah ada menemani orang yang rela melakukan apapun untuk kita sejak berada di dalam kandungan hingga dewasa. Setidaknya, ada senyum dan tawa yang pernah kita bagi dengannya. Kadang, buat ibu, hal itu cukup.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Ibu dan sisa waktunya

Kadang kita merasa Tuhan masih akan memberikan waktu panjang bagi kita, untuk mengalami kebersamaan bersama ibu. Namun, akan tiba saatnya nanti ia tiada. Apakah saat hal itu terjadi, kenangan indah atau penyesalan yang ada di dalam hati?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr