Selamat Hari Peduli Autisme Sedunia

Autisme adalah gangguan yang menyebabkan sesesorang sulit berkomunikasi dengan dunia luar. Biasanya gejalanya sudah terlihat sejak sebelum berusia 3 tahun. Dan ini adalah saat terberat menjadi orangtua dari Anak dengan kebutuhan khusus, autisme.

868 views   |   3 shares
  • Berdasarkan informasi dari Yayasan Autisma Indonesia, autisme biasanya membuat anak tidak dapat secara otomatis beajar untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga ia seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.

  • Pernah merasa frustasi karena anak kita mengeksplor dunia dengan caranya yang 'nakal'? bicara melulu tak kenal henti, merobek-robek, memanjat jendela, berlari kesana kemari, menarik-narik baju meminta sesuatu hingga tidak mau tidur karena masih asyik mengobrol?

  • Apa yang kita rasakan? Lelah? Ingin marah? Apalagi ditengah rutinitas pekerjaan dan hal-hal lain yang juga harus dilakukan. Sebelum memarahi anak yang sedang berusaha mengenal dunia itu, coba sesekali kunjungilah pusat-pusat terapi anak berkebutuhan khusus (ABK). Duduk saja disitu satu jam, dengarkan para orangtua yang sedang menunggu anaknya, sembari mengobrol.

  • Satu jam itu, akan menjadi sangat berharga untuk kita yang memiliki anak biasa, tidak spesial seperti anak-anak yang sedang diterapi itu. Sebab, dengan duduk dan mendengarkan berbagai kisah tersebut, kita akan menyadari bahwa kelelahan yang kita alami, tak ada seujung kuku dilema yang dialami para orangtua itu, setiap harinya.

  • Bagaimana sulitnya mereka mengajak putra atau putrinya berkomunikasi, bagaimana peliknya kondisi keuangan karena biaya sekolah, terapi hingga shadow teacher yang harus disediakan bagi anaknya amatlah mahal, bahkan betapa bahagianya hati mereka, saat anak-anak yang mereka kandung dan lahirkan dengan susah payah itu, bisa mengenal ibunya sendiri. Meski itu, baru terjadi di usia tiga tahun.

  • Mereka, adalah orang-orang kuat yang punya keinginan sederhana. "Yah, setidaknya dia bisa bertahan hidup, kalau saya meninggal nanti..." "Enggak perlu-lah pintar matematika, bahasa, atau fisika, yang penting bisa membuat KTP sendiri, bisa keluar dan pulang sendiri, serta bisa menghasilkan uang secukupnya saja, sudah tenang..." "Rasanya saya Cuma mau bisa mengobrol dengan dia, seperti orang lain.." begitu biasanya hal-hal yang terucap dari bibir orang-orang hebat itu.

  • Tak ada lelahnya, tak ada kata menyerah, buat mereka. Sebab, anak mereka, spesial. Dan yang harus dilakukan pun teramat spesial dalam membesarkan anak-anak itu. Akan malu sekali hati kita, saat mengeluh karena anak-anak kita sedang 'nakal-nakal nya'. Karena 'kenakalan' yang kita alami ini, adalah dambaan para orangtua tersebut.

  • Bersyukurlah, dan berempatilah. Misalnya dengan berhenti menggunakan kata "autis" untuk menggambarkan orang yang asyik sendiri. Atau menyebut anak-anak spesial dengan "idiot" atau "anak aneh". Bayangkan saja perasaan orangtuanya, yang sudah lelah membesarkan anak dengan kebutuhan khusus tersebut. Apa rasanya, jika kita ada di posisi itu?

  • Advertisement
  • Sebab kita belum tentu kuat. Menerima apa adanya, dan terus berusaha agar anak yang mengalami kesulitan berinteraksi ini, setidaknya mampu hidup mandiri saja, sudah merupakan hal yang luar biasa. Belum lagi tekanan dari lingkungan sekitar, rasa bersalah dan rasa iri melihat anak-anak lain yang bisa bermain dan berkomunikasi dengan baik.

  • Kesabaran dan kekuatan hati para orangtua dari ABK ini, adalah contoh betapa kecilnya kelelahan yang kita alami sehari-hari. Jadi, berhentilah mengeluh karena anak kita melakukan percobaan demi percobaan yang membuat rumah berantakkan. Sadarilah bahwa diluar sana, ada orang-orang yang tidak mengalami kegembiraan menyaksikan putra putrinya mampu berteman dan melakukan 'kenakalan' bersama teman-temannya.

  • Setelah itu, marilah kita sama-sama mendukung dan menguatkan hati para orangtua dengan anak spesial. Ulurkan tangan dan bukalah pintu hati untuk mereka, sebab banyak diantara mereka yang bahkan tak mampu membayar biaya terapi, hingga berusaha keras membesarkan sendiri anaknya. Contoh besar yang bahkan pernah di film kan adalah Profesor Temple Grandin di Amerika Serikat. Ibunya membesarkan sendiri, miss Grandin, hingga sukses dan mampu mandiri.

  • Jadi bukan tak mungkin kita membantu, mengurangi beban yang harus mereka tanggung, bahkan dengan hal kecil seperti jadi pendengar yang baik untuk setiap kisah yang mengalir sendu dari mulut-mulut mereka. Mari kita jadi bagian dari orang-orang yang peduli terhadap sesama, tanpa membedakan apapun. Karena seperti kata Miss Grandin "They're different, but not less.."

  • Selamat Hari Peduli Autisme Sedunia, 2 April 2015.

Bagikan pada teman dan keluarga..

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Selamat Hari Peduli Autisme Sedunia

Autisme adalah gangguan yang menyebabkan sesesorang sulit berkomunikasi dengan dunia luar. Biasanya gejalanya sudah terlihat sejak sebelum berusia 3 tahun. Dan ini adalah saat terberat menjadi orangtua dari Anak dengan kebutuhan khusus, autisme.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr