Kenapa anak saya hobi menyalahkan orang lain?

Banyak orangtua tidak tahan dengan tangisan anak, dan mencari cara singkat untuk mendiamkannya dengan menyalahkan pihak lain atas sesuatu yang menimpa anaknya. Apakah Anda termasuk salah satunya?

3,935 views   |   11 shares
  • "Siapa yang nakal ya? Ini sudah mama pukul mejanya…sudah cep….cep…jangan nangis lagi ya.." [lalu meja dipukul.]

  • Jujur, Anda pasti pernah menuturkan kalimat di atas kepada anak Anda.

  • Perilaku umum ini terjadi di banyak orang dalam keluarganya. Hal kecil, dan cara mudah untuk mendiamkan tangisan si kecil, dengan alasan sayang pada anak. Sebab, anaknya masih kecil, dan belum patut disalahkan atas peristiwa yang terjadi karena ketidaktahuan. Maka orangtua memilih untuk meyalahkan pihak lain. seolah-olah, harus saja ada yang salah dalam setiap kejadian.

  • Padahal, tanpa disadarinya, sikap menyalahkan ini akan berdampak amat besar. Karena pada akhirnya nanti, tanpa disadari, anak akan belajar menyalahkan pihak lain pada setiap kejadian. Entah itu benda ataupun orang lain.

  • Menurut pakar perkembangan anak, Ayah Edy, pemikiran ini akan terus terbawa hingga seorang anak beranjak dewasa. Dampaknya adalah, setiap kali mengalami peristiwa dan terjadi suatu kekeliruan, maka yang salah adalah orang lain, dan dirinya selalu benar.

  • Yang lebih menguatirkan lagi, ia akan merasa, yang pantas untuk diberi peringatan sanksi atau hukuman justru adalah orang lain. Yang bahkan tidak melakukan kesalahan. Dari 'memukul meja' tumbuh menjadi manusia yang tidak bisa bersikap adil, dan bahkan cenderung menjerumuskan orang lain ke dalam bahaya.

  • Biasanya, sebagian besar orangtua baru menyadari hal itu saat si anak sudah mulai melawan. Padahal perilaku berani melawan sejak kecil inipun terbangun karena tanpa sadar, orangtuanya sudah mengajarkan untuk tidak pernah merasa bersalah.

  • Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan saat anak melakukan kesalahan baik disengaja atau tidak disengaja, dan membuatnya menangis?

  • Menurut Ayah Edy, ajarkanlah anak-anak untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi; katakan padanya;

  • "Sayang kamu terbentur ya, sakit ya? Lain kali hati-hati ya, jalannya pelan-pelan saja, supaya tidak terbentur." sambil mengusap bagian yang sakit, atau memangku dan memeluknya dengan sayang.

  • Maka, rasa sayang pada anak, bukan berarti memperlakukan anak bagai raja, yang tidak pernah dianggap salah. Mengaplikasikan rasa sayang, adalah mengajak anak hidup mandiri, berani dan bisa menjaga diri sendiri. Karena kita tidak akan pernah tahu, sampai kapan orangtua bisa hidup dan melindungi anaknya.

  • Kalau besok kita meninggal dunia, dan anak masih merasa selalu benar, maka celakalah kita sebagai orangtua. Karena dengan cara itu, kita sudah mendidik anak untuk menjadi orang yang egois dan senantiasa menyalahkan orang lain. Secara tidak langsung, orangtua juga sudah membuat orang di sekitarnya susah, karena dia akan melawan terus.

  • Advertisement
  • Dokter anak, Dr. Sears dari www.askdrsears.com pernah bilang; "Anak dapat menilai salah atau benar berdasarkan apa yang diajarkan oleh orangtuanya. Pada usia 5 tahun, ia akan mulai mengenali nilai-nilai yang Anda tanamkan: Apa yang benar untuk Anda, maka benar untuk dia. Nilai-nilai Anda, baik atau tidak, akan menjadi bagian dari anak Anda. Semoga ini bisa jadi pengingat dalam hidup kita, soal membesarkan anak.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Kenapa anak saya hobi menyalahkan orang lain?

Banyak orangtua tidak tahan dengan tangisan anak, dan mencari cara singkat untuk mendiamkannya dengan menyalahkan pihak lain atas sesuatu yang menimpa anaknya. Apakah Anda termasuk salah satunya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr