Yuk, kompak menyikapi perbedaan dalam keluarga

Perbedaan, adalah sesuati yang telah hadir di keseharian seorang manusia sejak lahir. Dalam pertemanan, keluarga dan pasangan, perbedaan akan selalu ada. Lalu bagaimana kita menyikapinya?

1,035 views   |   shares
  • "Kita berpisah karena sudah tidak cocok, terlalu banyak perbedaan.." adalah ungkapan yang banyak terdengar, dari mulut pasangan yang memutuskan untuk berpisah.

  • Mendengarnya jadi terasa wajar, meski sebenarnya tidak bisa diterima. Perbedaan, adalah sesuati yang telah hadir di keseharian seorang manusia sejak lahir. Coba lihat, dalam satu keluarga, yang sudah bersama-sama dalam waktu lama, mana ada yang benar-benar sama. Persahabatan pun, tak selalu bisa awet dalam kecocokan yang mutlak.

  • Begitu juga dalam hubungan rumah tangga. Perbedaan, seharusnya jadi akar yang kuat untuk menumbuhkan rasa keberagaman. Ada pertengkaran yang terjadi karena perbedaan pendapat, ya wajar. Sebab kita manusia, dan manusia mampu menyuarakan isi pikirannya. Maka, berpendapat, lalu berbeda satu sama lain, bukanlah kesalahan.

  • Hal ini seharusnya jadi alasan. Iya, alasan untuk menjalankan rumah tangga yang demokratis. Akan ada perdebatan, dan kekesalan didalamnya. Namun, perlu ditekankan pada satu poin penting jika ingin menciptakan sebuah keberhasilan; pembagian tugas. Komitmen berumah tangga, sebaiknya diiringi dengan kemampuan pasangan menjalankan sebuah 'mesin' dengan berbagai komponen. Caranya, ya dikelola dengan baik.

  • Bayangkan saja sebuah keluarga layaknya negara. Ada pemimpin, ada menteri, ada legislatif, dan ada rakyat. Tugas pemimpin adalah mendengarkan suara bawahannya, kemudian mempertimbangkan hasil musyawarah dari berbagai aspek dengan adil, lalu wajib mengambil keputusan. Inilah yang membuat tugas pemimpin, paling berat. Sebab, tidak semua keputusan yang diambil akan populer dan disukai. Kadang, ada keputusan yang ditentang habis-habisan oleh legislatif atau rakyat, namun harus tetap diambil, sebab sudah dipertimbangkan dan diyakini bahwa hal itu adalah yang terbaik. Hal ini, adalah tugas pria, sebagai kepala keluarga.

  • Jabatan pimpinan, adalah sesuatu yang amat mengerikan karena ia akan memiliki kewajiban menanggung seluruh kebutuhan warganya. Ia juga yang bertangung jawab akan keberlangsungan dan kesejahteraan bawahannya. Ini hal penting yang harus diingat kaum Adam, agar tidak menyalahgunakan posisinya untuk bersikap arogan. Pasalnya, sikap arogan, akan mampu menyebabkan keruntuhan rumah tangga.

  • Tugas berikutnya adalah milik menteri dan legislatif. Kedua tugas ini, tidak seberat pemimpin yang wajib mengambil keputusan terbaik. Namun, jika dijabarkan, jumlahnya akan jauh lebih banyak ketimbang tugas pimpinan. Jabatan ini, akan dipegang oleh ibu/istri. Perempuan ini, wajib menjalankan fungsi sebagai pendukung pemimpin, dikala keputusan yang diambil sudah yang terbaik.

  • Advertisement
  • Namun ia juga wajib menjalankan fungsi legislatifnya, saat pemimpin tak juga mampu mengambil keputusan yang tepat dan cepat. Ia harus senantiasa mengingatkan, tanpa jemu dan tanpa keluh. Ia juga yang wajib memberikan masukan, terkait keputusan tersebut. Ia harus mampu menyusun jadwal, membuat rancangan anggaran, dan bertanggung jawab untuk menyampaikan ke pimpnan, hingga ke detail, atas kebutuhan rakyat.

  • Terakhir adalah rakyat. Anak-anak memiliki posisi yang kurang lebih sama dengan rakyat. Apalagi jika usianya masih dibawah 18 tahun. pemimpin, menteri dan legislatif harus selau menjaga rakyatnya. Memberikan hal-hal yang wajib diberikan, mengajari, dan tentunya menyayangi. Mungkin nanti, saat anak sudah berusia cukup matang, ia bisa jadi bagian juga dari kementerian dan legislatif.

  • Dengan membagi tugas dan menjalankan fungsi 'kenegaraan' dalam rumah tangga, nampaknya semua anggota akan sibuk berperan sesuai 'job desc' nya. Dengan begitu, bagaimanapun kerasnya debat yang terjadi, semua anggota keluarga paham benar bahwa nanti ujungnya, keputusan akan diambil kepala keluarga.

  • Jadi, akan seperti apapun itu pendidikan anak, detail peletakan furniture, alat-alat rumah tanggga, semua itu harus dipilih istri/ibu. Untuk, tentunya, nanti akan dilaporkan kepada ayah, dan disetujui. Yah, well, atau tidak. Yang jelas, setiap kali akan membeli, menentukan pilihan sekolah, kursus, atau bahkan sesederhana akhir pekan ini mau kemana, ibu harus mengajukan 'proposal', untuk di share dalam 'forum'. Kemudian ayah akan memberikan penilaian. Mungkin akan ada debat. Dan keputusan akan diambil oleh ayah.

  • Maka, perbedaan bukanlah merupakan hal besar lagi, untuk diributkan. Sebab, semua orang sudah memiliki fungsinya untuk sama-sama membangun rumah tangga, menjalankan rodanya, merawat mesinnya dengan baik. Sebab, keributan demi keributan yang terjadi karena menyalahkan perbedaan hanya akan memperkeruh suasana.

Baca, hidupkan, bagikan!

Yasmina Hasni adalah seorang ibu dari satu anak lelaki, mantan jurnalis, blogger, yang suka bikin kue. Ia lulus dari FISIP Universitas Padjadjaran, pada 2006, dan kini tinggal di Bekasi bersama suami, anak dan lima ekor kucing. Twit saya

Situs: http://yasminahasni.com

Yuk, kompak menyikapi perbedaan dalam keluarga

Perbedaan, adalah sesuati yang telah hadir di keseharian seorang manusia sejak lahir. Dalam pertemanan, keluarga dan pasangan, perbedaan akan selalu ada. Lalu bagaimana kita menyikapinya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr