Terkadang, kita hanya butuh didengarkan

Ada satu hal yang terkadang kita lupa, yaitu hadir menjadi pendengar yang baik. Yah, cukup hanya diam, memberikan respon minimalis, tetapi mendengarkan dengan seksama setiap detail kisahnya.

3,768 views   |   10 shares
  • Dalam kehidupan sosial, setiap orang akan mengalami dua hal: masa-masa menyenangkan dan masa-masa sulit. Ketika kita merasa senang, ada yang ikut merasakan kebahagiaan itu, ada pula yang tidak. Itu semua wajar, sah-sah saja. Karena kita tidak bisa memaksa orang lain untuk suka dan tidak suka pada diri kita. Kalau orang-orang yang bisa bersimpati, mereka akan mengucapkan selamat atas kebahagiaan kita. Tetapi jika tidak, mereka dapat saja berpikiran negatif dengan perasaan bahagia yang kita alami.

  • Ketika kita merasa sedih, ada yang prihatin, ada pula yang tidak. Ini juga wajar dan sah-sah saja. Karena ada orang yang bisa berempati pada orang lain. Ada juga yang menganggap itu hal biasa saja. Yah, mungkin mereka belum pernah berada dalam posisi sulit yang kita alami, sehingga bisa berkata "halaaaah, gitu aja kok sedihnya berlarut-larut"

  • Sebagai contoh, saat kita mempunyai berita suka dan duka. Dan kita mengharapkan orang-orang terdekat kita untuk memberikan apresiasi positif. Tapi yang kita dapatkan adalah sebaliknya. Bagaimana perasaan Anda? Kecewa, kesal, marah, sedih, merasa diabaikan, merasa dia bukan teman yang baik, menyesal karena telah menceritakan masalah kita kepadanya, atau apa?

  • Inilah yang terkadang membuat sebuah hubungan persahabatan retak, karena tidak adanya rasa toleransi. Lalu, jika ingin merubahnya menjadi lebih baik apa yang seharusnya kita lakukan? Introspeksilah dengan memulai tiga pertanyaan berikut ini untuk diri kita sendiri.

  • Apakah kita sudah bersimpati? Apakah kita sudah berempati? Apakah kita sudah bertoleransi?

  • Jika belum, ubahlah secara perlahan dengan memberikan apresiasi kita secara tulus pada orang lain. Tak perlu dengan ucapan selamat ketika mereka senang atau ucapan prihatin ketika mereka sedih, apalagi mengucapkan sabar ketika mereka mendapat musibah.

  • Ada satu hal yang terkadang kita lupa, yaitu hadir menjadi pendengar yang baik. Yah, cukup hanya diam, memberikan respon minimalis, tetapi mendengarkan dengan seksama setiap detail kisahnya.

  • Mendengar dan mendengarkan adalah dua hal yang berbeda. Mendengar, tak perlu komunikasi dua arah. Tetapi mendengarkan membutuhkan komunikasi dua arah dan kehadiran.

  • Maka saat kita bersama orang-orang yang kita sayangi, entah keluarga, sahabat, atau orang lain yang baru kita temui berusahalah untuk hadir terlibat mendengarkan informasi yang disampaikannya. Dan responlah bahwa kita sangat mengapresiasi apa yang disampaikannya.

  • Baik itu kisah bahagia seperti mendapatkan pekerjaan baru, dilamar seseorang, atau baru saja mendapatkan hadiah doorprize. Cukup dengarkan !

  • Advertisement
  • Ataupun itu keluh kesah tentang kenaikan harga, pekerjaan yang menumpuk atau masalah keluarga. Sekali lagi dengarkan !

  • Karena terkadang kita tidak membutuhkan saran apalagi kritik. Tetapi yang kita butuhkan hanyalah kehadiran orang-orang terdekat kita. Untuk apa? Untuk sekedar merasa bahwa kita ada, kita diakui keberadaannya, kita didengarkan dan kita tidak sendiri.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Profil Penulis Irni, lulusan Sarjana Psikologi UBAYA. Saat ini menetap di Jepang mendampingi suami bersama dua buah hatinya. Aktif menulis di berbagai media dan buku Pengembangan Diri. Baginya menulis adalah media berbagi pada sesama.

Situs: http://www.irniis.com

Terkadang, kita hanya butuh didengarkan

Ada satu hal yang terkadang kita lupa, yaitu hadir menjadi pendengar yang baik. Yah, cukup hanya diam, memberikan respon minimalis, tetapi mendengarkan dengan seksama setiap detail kisahnya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr