Perbedaan justru mampu menguatkan ikatan pernikahan

Sebuah perbedaan menjadi momentum terbaik ketika kita mampu menyamakan perbedaan itu dalam satu visi rumah tangga yang notabene untuk kebahagiaan.

7,864 views   |   9 shares
  • Ketika kita menikah, maka kita bukan hanya menikah dengan satu orang. Tetapi kita juga menikahi keluarganya

  • Pernyataan di atas seringkali kita dengar dari para kerabat, keluarga dekat dan orang-orang di sekitar kita. Bahwa ketika kita memutuskan menikah, maka kita juga harus siap beradaptasi dengan keluarga besar dari suami atau istri kita.

  • Bukan saja soal memahami karakter setiap anggota keluarga. Tetapi budaya, kebiasaan, dan pola didikan serta tata aturan yang berbeda, adalah hal yang perlu kita cermati. Perbedaan di sini bukan masalah keyakinan, tetapi lebih kepada hal-hal kecil dalam menggabungkan dua keluarga sebelum terikat pernikahan.

  • "Menikah bukan berarti kita berhenti beradaptasi dalam banyak hal. Karena sudah sepakat untuk bisa saling menerima apa adanya. Jadi saya sendiri juga belajar untuk memahami keluarga dari suami. Harapan saya keluarga dari suami juga dapat beradaptasi dengan saya sebagai orang baru di keluarga mereka"(Rizka, 27 tahun).

  • Kita dan pasangan berasal dari pola asuh yang berbeda. Dididik dengan cara yang berbeda. Mendapatkan pengalaman dari lingkungan yang berbeda. Meskipun ada beberapa hal yang serupa, tetap saja berbeda. Jadi ketika seseorang memutuskan menikah dengan banyak perbedaan maka yang terjadi adalah masing-masing akan belajar untuk saling menerima, memahami, dan menghargai.

  • Kenapa 3 point ini menjadi sangat penting? Karena ketika kita sudah menikahi seseorang, maka secara tidak langsung kita menjadi bagian dari keluarga itu. Jika sedari awal kita tidak mampu menerima perbedaan, kita tidak mampu memahami dan kita tidak mampu menghargai satu sama lain. Bisa dikatakan kita tidak siap menerima pasangan kita apa adanya.

  • "Sejujurnya kita berdua pada dasarnya tidak melakukan sesuatu yang signifikan. Saya dan suami hanya perlu menerima saja bahwa kita beda budaya. Misal, oh di budaya Tionghoa begini, ya sudah. Oh di budaya Jawa begini, ya sudah. Hanya menambah pengetahuan saja tentang masing-masing dan berusaha memahami satu sama lain " (Ike, 34 tahun)

  • Sebuah perbedaan menjadi momentum terbaik ketika kita mampu menyamakan perbedaan itu dalam satu visi rumah tangga yang notabene untuk kebahagiaan. Sehingga ketika masalah menerpa dalam sebuah rumah tangga, justru perbedaan inilah yang seharusnya menguatkan pribadi masing-masing. Bahwa untuk mencapai masa di mana kita memutuskan "Saya menikah", maka sebenarnya perbedaan itu sudah melebur menjadi satu dalam diri kita masing-masing.

  • Advertisement
Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Profil Penulis Irni, lulusan Sarjana Psikologi UBAYA. Saat ini menetap di Jepang mendampingi suami bersama dua buah hatinya. Aktif menulis di berbagai media dan buku Pengembangan Diri. Baginya menulis adalah media berbagi pada sesama.

Situs: http://www.irniis.com

Perbedaan justru mampu menguatkan ikatan pernikahan

Sebuah perbedaan menjadi momentum terbaik ketika kita mampu menyamakan perbedaan itu dalam satu visi rumah tangga yang notabene untuk kebahagiaan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr