Kehidupan seorang gadis di Afghanistan

Bagi orang-orang di jalan, Zahra hanyalah salah satu dari sekian banyak remaja putra di Kabul, Afghanistan.

10,182 views   |   24 shares
  • Zahra, seorang gadis berusia 15 tahun, berjalan di daerah tempat tinggalnya dengan gaya seperti remaja putra. Dengan baju kemeja yang longgar, celana jin dan sandal jepit, dia melangkah penuh percaya diri. Kedua tangan di saku celananya. Rambutnya gondrong tapi tidak melebihi bahu. Dia berjalan tertunduk menghindari pandangan mata orang. Bagi orang-orang di jalan, Zahra hanyalah salah satu dari sekian banyak remaja putra di Kabul, Afghanistan.

  • Di negara lain orang mungkin mengira Zahra adalah seorang gadis yang tomboy atau kelaki-lakian. Tetapi Zahra sebetulnya hidup sebagai lelaki. Pemisahan jenis di Afghanistan lebih ketat dari negara-negara lain di dunia. Wanita tidak mempunyai hak sebanyak pria karena hukum dan budaya yang konservatif. Tetapi Zahra tidak mau menerima hal ini. Bagi dia, apa saja lebih baik daripada bertampang atau menjadi gadis di Afghanistan.

  • "Orang-orang menyerukan kata-kata buruk bagi gadis-gadis di jalanan," ujar Zahra sambil menarik sepedanya yang berkarat dari sebuah pondok di mana dia meninggalkannya sebelum main sepak bola. "Melihat begitu, saya tidak ingin menjadi seorang gadis. Mereka tidak berbicara seperti itu kepada saya, karena mengira saya anak lelaki." Dengan menyaru sebagai remaja putra Zahra bebas berkeliaran, tanpa batasan dan pelecehan yang dihadapi kaum wanita.

  • Sebagai jurnalis Jenny Nordberg mengadakan perjalanan ke Afghanistan pertama kalinya di tahun 2009 untuk meneliti kemajuan wanita di negeri yang menjadi kancah peperangan itu. Sepanjang waktu itu dia melihat banyak remaja putri yang berdandan seperti pria. Namun ketika dia mencari di internet dan koran tentang masalah ini, tidak banyak yang sudah ditulis. Sewaktu dia bertanya kepada penerjemahnya, secara sambil lalu penerjemah pria ini menyebutkan bahwa ada sepupu jauhnya yang berdandan seperti itu. Mencari tahu urusan keluarga adalah tabu bagi orang asing seperti penulis, nasihat seorang kenalan lain.

  • Melalui info dari sana sini, si penulis berhasil menemukan Zahra dan keluarganya. Ibu Zahra bertutur bahwa dia mempunyai tiga anak perempuan berturut-turut. Kemudian bayi lelakinya keguguran dan seorang bayi lelaki lainnya meninggal tak lama sesudah dilahirkan. Orang tuanya memutuskan memberi Zahra baju lelaki sejak dia berumur dua tahun. Sebagai anak lelaki tidak saja Zahra meningkatkan kedudukan sosial keluarganya, tetapi dia juga dapat membantu mengerjakan tugas-tugas di luar rumah. Dia dapat pergi berbelanja ke toko atau mengawal saudara-saudara perempuannya bila mereka keluar.

  • Advertisement
  • Memiliki anak lelaki memberi reputasi yang baik bagi sebuah keluarga. Tanpa anak lelaki sebuah keluarga dianggap lemah di negara yang dilanda peperangan itu. Jika seorang wanita melahirkan anak lelaki, dia dianggap berhasil dan kepulangannya dari rumah sakit dirayakan dengan musik dan makanan. Wanita yang tidak mempunyai anak lelaki disebut dokhtar zai, atau "dia yang hanya mempunyai anak perempuan."

  • Kebanyakan bacha posh atau anak perempuan yang bergaya seperti lelaki di Afghanistan hanya berbuat demikian semasa remaja. Menjelang dewasa orang tuanya mengajar mereka tradisi wanita dan menyiapkan mereka untuk pernikahan. Banyak di antara mereka yang bertahan sampai selama mungkin sebagai lelaki. Zahra sejauh ini berhasil menolak keinginan orang tuanya untuk memanjangkan rambutnya dan berpakaian sebagai wanita.

  • Ibu Zahra bercerita bahwa putrinya sama seperti anak-anak perempuannya yang lain. Hal ini membuat Zahra marah dan membantah hal itu. "Itu urusanku sendiri, kenapa ibu ceritakan kepada orang lain?" Perbantahan yang biasa terjadi antara orang tua dan anak seperti di mana saja. Ayah Zahra hanya geleng-geleng kepala. Dia tidak keberatan melihat pakaian anaknya, celana dan baju komprang, hari itu. Namun dia juga menginginkan semua putrinya menikah dan mempunyai anak. Kadang-kadang dia lupa Zahra anak gadis, dia selalu harus mengingatkan dirinya.

  • Zahra berhasil meyakinkan orang dengan gayanya sebagai anak lelaki. Dia banyak menonton film Amerika dan India di teve. Rambutnya semula bergaya seperti Tom Cruise, belakangan lebih mirip Justin Bieber. Bahasa tubuhnya agresif, bajunya kedodoran sehingga menyembunyikan kenyataan bahwa dia memiliki payudara dan pinggul. Suatu hari ketika berjalan dengan adik perempuannya, seorang anak lelaki mencoba mengganggu adiknya. Zahra berteriak dan akhirnya berkelahi dengan anak itu yang habis ditendangi dan ditinjunya. (Sumber: The Underground Girls of Kabul, karya Jenny Nordberg)

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through

Situs: https://joojoo.com

Kehidupan seorang gadis di Afghanistan

Bagi orang-orang di jalan, Zahra hanyalah salah satu dari sekian banyak remaja putra di Kabul, Afghanistan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr