Budaya stres pada generasi sekarang

Betapa jauh bedanya dengan keadaan sekarang, semua serba tergesa-gesa, kalau tidak mau ketinggalan sepur, kata nenek-nenek. Generasi ini memang lebih sibuk, kuliah, kerja, berbagai kegiatan lain, semua itu menyita waktu mereka.

1,492 views   |   shares
  • "Nita, makan dulu, nak?" kata Bu Samsul dengan lembut kepada anaknya semata wayang. "Ah, gak sempet, Bu, aku harus buru-buru berangkat nih, nanti terlambat kerja," sahut Nita sambil lari keluar sesudah menyambar tasnya yang tergeletak di meja. Ibunya cuma bisa menghela napas panjang melihat anaknya terburu-buru pergi kerja. Dia ingat zaman ketika dia masih muda, di mana kuda masih menarik kereta andong berjalan pelan di depan rumahnya. Betapa jauh bedanya dengan keadaan sekarang, semua serba tergesa-gesa, kalau tidak mau ketinggalan sepur, kata nenek-nenek. Generasi ini memang lebih sibuk, kuliah, kerja, berbagai kegiatan lain, semua itu menyita waktu mereka. Dan semua itu mendatangkan stres, bahkan anak-anak SD stres dengan banyaknya PR yang diberikan guru. Tidak ada lagi saat santai ketika tuntutan hidup ini memburu kita untuk mengerjakan segala sesuatu dengan cepat. Apakah gaya kehidupan seperti ini sehat bagi kita semua?

  • Nita mengambil liburan di Bali selama 2 minggu. Dia duduk memandang matahari terbenam di Kuta. Pergi ke Sangeh bercanda dengan monyet-monyet yang lucu. Berjemur dan bermain air laut di tepi pantai Sanur. Menaiki tangga ke pura yang banyak tersebar di Bali. Dan menikmati makanan penduduk asli di warung-warung. Sungguh menyenangkan kehidupannya, serasa di nirwana, tidak ada yang mengganggu pikirannya. Namun sayang kehidupan seperti itu tidak bisa dijalani terus menerus, tugas dan kewajiban memanggil Nita pulang ke Jakarta.

  • Kembali dia bergulat dengan kemacetan lalu lintas, memburu waktu supaya tidak terlambat datang ke tempat kerja. Menyelesaikan tugas yang menumpuk menunggunya karena ditinggal pergi liburan. Sebagai seorang yang penuh tanggung jawab, Nita tidak mau melalaikan tugas-tugasnya. Dia harus berangkat subuh-subuh untuk menghindari kemacetan di jalan sehingga tidak sempat makan pagi. Di tempat kerja dia baru sempat sarapan pada saat jeda, itu pun cuma 15 menit. Makan siang yang cuma 30 menit sebetulnya tidak cukup buat dia membeli makanan dan menelannya cepat-cepat. Sampai di rumah petang sudah menjelang dan dia kadang-kadang masih membawa pekerjaan kantor yang belum selesai hari itu. Akhir pekannya dipenuhi dengan olahraga, membawa ibunya pergi berbelanja, mengurus kegiatan muda-mudi di lingkungannya. Seakan-akan tiada hari tanpa kesibukan baginya.

  • Suatu hari Yanti, temannya berkata, "Nita, waktu kamu baru pulang dari Bali, wajahmu segar sekali, sekarang kayanya banyak stres ya?" Keadaan ini tidak cuma dialami Nita saja. Menurut penelitian yang dilakukan untuk perusahaan kosmetik Elizabeth Arden lebih dari 50% wanita usia 18 sampai 33 tahun merasa stres dalam lima hari atau lebih seminggunya. Bukan hanya akibat tuntutan mental yang disebabkan oleh pekerjaan. Namun juga tuntutan masyarakat dan ponsel yang selalu memberi kemungkinan adanya info penting. Hal-hal seperti ini dapat meningkatkan hormon stres kita.

  • Advertisement
  • "Tubuh Anda menghasilkan adrenalin, kortisol dan hormon steroid lainnya sebagai tanggapan terhadap stres," tutur Dr. Ranella Hirsch seorang pakar dermatologi dari Massachusetts. "Sementara hormon-hormon ini dapat menyelamatkan hidup Anda dalam keadaan darurat, tubuh Anda perlu istirahat dari hormon-hormon itu," lanjut Dr. Hirsch.

  • Ketegangan yang terus menerus begitu umum dialami orang-orang zaman sekarang sehingga para ahli memberi sebutan baru untuk itu: "budaya stres." Dr. Howard Murad, seorang profesor kesehatan di universitas UCLA, AS mengamati masalah ini dalam bukunya Conquering Cultural Stess (Mengatasi Budaya Stres). "Stres mengalir seperti air yang menetes terus menerus," kata Dr. Murad. "Walau bukan banjir bandang, tapi akibat akhirnya akan sama buruknya." Dalam bukunya dia menjelaskan bahwa budaya stres menghalangi kemampuan sel-sel tubuh kita untuk menahan air, sehingga mempercepat usia lanjut. Dr. Amy Wechsler, penulis buku The Mind-Beauty Connection (Hubungan Antara Pikiran dan Kecantikan), menambahkan bahwa hormon kortisol juga merusak kolagen pada wajah kita sehingga menimbulkan keriput pada kulit.

  • "Ketika stres membuat tubuh Anda dalam keadaan tegang, lebih banyak darah mengalir ke jantung, paru-paru dan otak. (Sori, pipi yang merah jambu, menurut penilaian otak Anda bukanlah hal yang penting dalam keadaan seperti itu) menurut Dr. Wechsler. Salah satu cara yang mujarab untuk menghilangkan stres ialah dengan yoga, olahraga ringan dan pijat. Pijat membuat sirkulasi darah lebih merata dan kulit lebih bersinar serta kencang.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through

Situs: https://joojoo.com

Budaya stres pada generasi sekarang

Betapa jauh bedanya dengan keadaan sekarang, semua serba tergesa-gesa, kalau tidak mau ketinggalan sepur, kata nenek-nenek. Generasi ini memang lebih sibuk, kuliah, kerja, berbagai kegiatan lain, semua itu menyita waktu mereka.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr