Menghukum Anak

Bila anak Anda berbuat kesalahan, apakah Anda tidak akan menghukumnya untuk mendidik dia supaya menjadi orang yang baik?

8,646 views   |   3 shares
  • Bila Anda mempunyai pohon mangga yang berbuah lebat namun salah satu dahannya terlalu berat dan menarik pohonnya sehingga kemungkinan rubuh bila ada angin kencang, apakah Anda tidak akan memotong dahan itu untuk menyelamatkan pohonnya? Demikian pula bila anak Anda berbuat kesalahan apakah Anda tidak akan menghukumnya untuk mendidik dia supaya menjadi orang yang baik? Ada perbedaan antara menghukum dan merundung. Menghukum anak bukan menyiksa. Tujuannya adalah mendidik dengan penuh kasih. Simaklah pengalaman orang-orang di bawah ini.

  • Pak Hasyim dan istrinya tidak bisa tidur walau malam sudah larut, mereka menunggu putranya pulang. Janjinya dia akan pulang sebelum jam satu pagi sehabis merayakan lulusnya dari SMA bersama teman-temannya. Tetapi saat itu sudah jam 1 pagi dan dia belum muncul juga. Pak Hasyim dan istrinya khawatir kalau ada hal-hal buruk yang terjadi pada anaknya. Akhirnya menjelang pukul 2 pagi barulah Andy pulang. Orang tuanya menahan amarah mereka dan pergi tidur. Mereka memutuskan untuk berbicara dengan Andy besok pagi.

  • Minggu pagi, ketika mereka duduk bersama di meja makan untuk sarapan, mereka bertanya kepada Andy mengapa semalam dia pulang begitu larut. Andy menuturkan sebab-sebabnya, bagaimana dia bertanggung jawab mengantar teman-temannya pulang karena mereka mabuk sedangkan dia sendiri tidak minum-minum. Dia minta maaf karena tidak menelepon sehingga orang tuanya cemas. Orang tuanya mengatakan bahwa dia sudah melanggar janjinya kepada orang tuanya dan tidak memperhatikan perasaan mereka. Mereka memutuskan untuk melarang Andy keluar selama seminggu sebagai hukuman. Andy menerima hukuman itu karena merasa bertanggung jawab atas kesalahannya. Pak Hasyim dan istrinya merasa lega karena mereka dapat berbicara baik-baik dengan pikiran jauh dari kemarahan. Seandainya semalam mereka melampiaskan kemarahan mereka, mungkin hasilnya akan buruk karena semua orang sudah mengantuk, lelah, dan tidak dapat berpikir dengan jernih.

  • Selanjutnya adalah cerita berikut. Ina terkejut mendengar jeritan putrinya, ia segera lari ke kamar depan. Di situ dia melihat putrinya menangis sambil memegang kepalanya. Adik lelakinya yang baru berusia empat tahun memukulnya. Ina marah sekali, dia menyuruh putranya masuk ke kamar sebagai hukuman. Dia tidak ingin membentak anak itu ketika amarahnya sedang bergejolak. Sesudah agak tenang, dia memberitahu putranya dengan tegas bahwa di rumah ini tidak boleh ada kekerasan. Ina menunjukkan kepada putranya bagaimana dia sudah menyakiti kakaknya. Penanganan ini berhasil dengan baik, putranya minta maaf kepada kakaknya dan memeluknya. Dia berjanji tidak akan mengulang perbuatannya.

  • Advertisement
  • Berikutnya adalah cerita tentang seorang ayah bernama Rahman. Dia melihat putrinya memakai sebuah cincin. Ketika ditanya, putrinya yang masih kecil berkata bahwa dia menemukan cincin itu di jalan. Rahman curiga karena dia baru saja pulang dari pasar bersama putrinya. Dia bertanya berulang kali namun jawaban putrinya tetap sama. Dia ngotot berkata bahwa dia menemukannya di jalan. Setiap kali dia bersikeras hati Rahman seperti tergores pisau karena dia tahu putrinya berbohong. Akhirnya sesudah didesak berulang kali dan diancam tidak akan mendapat uang saku sebulan, putrinya mengaku bahwa dia mengambil cincin itu dari orang yang berjualan di pasar. Rahman membawa putrinya kembali ke pasar untuk mengembalikan cincin itu dan minta maaf kepada penjualnya. Dia memberitahu putrinya bahwa mencuri itu tidak baik. Dia mempertimbangkan usia anaknya dan karena itu dia tidak menjatuhkan hukuman yang berat. Sebagai hukuman dia tidak memberi putrinya uang saku selama seminggu.

  • Suami istri hendaknya sepakat dalam menerapkan disiplin kepada anak-anaknya. Karena itu banyak orang tua yang berkata "Tanya ibumu," atau "Tanya ayahmu," supaya jangan sampai mereka mengambil keputusan yang berbeda. Setiap kali Anda ingin menghukum anak, pertimbangkan juga segala keadaannya. Tanyakan kepada diri Anda, apakah perbuatan ini terus-menerus dilakukan atau hanya terjadi sekali ini saja? Apakah anak itu lelah atau tidak enak badan? Apakah perbuatannya itu merupakan gejala dari masalah lain? Dan teliti juga diri Anda, apakah hukuman yang Anda jatuhkan itu karena amarah, atau karena kasih Anda yang ingin membuat anak itu tumbuh dengan benar? Sebaiknya jangan menjatuhkan hukuman fisik. Anda dapat mengambil hak istimewanya seperti bermain video game atau menonton televisi, mengurungnya di kamar selama beberapa saat, atau tidak boleh keluar rumah kecuali bersama orang tua.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through

Situs: https://joojoo.com

Menghukum Anak

Bila anak Anda berbuat kesalahan, apakah Anda tidak akan menghukumnya untuk mendidik dia supaya menjadi orang yang baik?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr