Mengatasi Tragedi

Bila suatu waktu kita sendiri yang mengalami tragedi, apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasinya?

1,152 views   |   shares
  • Akhir-akhir ini kita banyak mendengar tentang bencana yang melanda dunia seperti gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan, banjir, angin topan dan banyak lainnya. Kita belum lupa bagaimana Aceh dan beberapa negara di Asia Tenggara dihantam tsunami yang membawa korban ratusan ribu jiwa. Bila suatu waktu kita sendiri yang mengalami tragedi seperti itu, apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasinya? Kita dapat menjadikan pengalaman orang-orang di bawah ini sebagai teladan.

  • Kehilangan materi

  • Pada bulan Mei 2011, gempa bumi berskala 9 menghantam Jepang, mengambil nyawa 15.000 orang dan mengakibatkan kerugian material 200 milyar dolar AS. Ketika mendengar peringatan tentang tsunami, Kei seorang pria yang berusia 32 tahun mempersiapkan diri dengan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Keesokan harinya dia pulang untuk mengambil barang yang tersisa, tetapi semuanya sudah lenyap, yang tersisa hanyalah pondasi apartemennya. Mula-mula sulit baginya untuk memahami bahwa dia tidak saja kehilangan barang-barang pribadinya tetapi juga seluruh lingkungan hidupnya. Keluhnya, "Semua musnah—mobil saya; komputer yang saya pakai bekerja; meja, kursi dan sofa yang saya pakai untuk menjamu teman-teman; gitar, ukulele, seruling dan organ; alat-alat gambar, cat air, cat minyak dan pensil warna; semua lukisan dan gambar-gambar saya."

  • Kei mula-mula membuat daftar barang-barang yang dia inginkan, tetapi itu malah mengingatkan dia tentang segalanya yang tersapu bersih. Kemudian dia membuat daftar dari barang-barang yang sangat dia perlukan, dan mengubah daftar itu setiap kali kebutuhannya sudah terpenuhi. Dia menerima banyak bantuan dari negara maupun kerabat, lama-lama ini membuat dia kehilangan harga diri. Dia teringat bahwa lebih baik memberi daripada menerima. Karena dia sendiri masih sangat terbatas kemampuannya, dia memberikan apa yang dia mampu. Dia banyak menghibur dan membesarkan hati para korban lainnya, dengan demikian dia sendiri merasa terhibur.

  • Kehilangan kesehatan

  • Mabel seorang perawat dari Argentina, menjalani kehidupan yang aktif dan bekerja sebagai pelatih di pusat rehabilitasi orang sakit. Pada tahun 2007, dia merasa sangat lelah dan sakit kepala yang luar biasa setiap hari. Dia pergi ke beberapa dokter dan diberi bermacam-macam obat, namun semua itu tidak membantu. Akhirnya dokter memeriksanya dengan mesin MRI dan mengetahui bahwa ada tumor di otaknya. Mabel sangat terkejut, namun tidak sepenuhnya memahami kegawatan penyakitnya sampai sesudah dia dioperasi. Ketika dia sadar kembali di ruang gawat darurat dia tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Dia hanya dapat memandang langit-langit kamarnya dan mendengarkan suara mesin serta keluhan pasien-pasien lain di ruang gawat darurat itu. Dia merasa seakan-akan terhimpit oleh rasa sakit dan penderitaan yang memenuhi ruangan itu. Ketika akhirnya dia mulai dapat berjalan sendiri dan kadang-kadang pergi ke luar rumah, penglihatannya masih agak terganggu dan otot-ototnya kurang terkendali.

  • Advertisement
  • Mabel yang biasanya mandiri dan aktif dalam banyak hal kini merasa seperti pasien-pasien yang dulu dilatihnya. Tetapi dia mempertahankan pandangannya yang positif terhadap hidup. Latihan-latihan yang dijalaninya sangatlah menyakitkan sehingga kadang-kadang dia ingin menyerah. Dia memaksa dirinya menghapus pikiran yang negatif itu karena dia tahu bahwa usaha tersebut akan menghasilkan kebaikan. Dia tahu bahwa dengan berlalunya hari rasa sakit itu akan hilang selamanya.

  • Kehilangan anggota keluarga

  • Seorang ibu yang tinggal di Las Vegas utara kehilangan anak perempuannya yang kecil. Anak itu menyeberang jalan bersama adiknya dan seorang temannya di jalur penyeberangan yang tidak memakai lampu lalu lintas. Sebuah mobil berhenti untuk membiarkan ketiga anak perempuan kecil itu menyeberang. Sebuah mobil lain yang dikendarai oleh seorang wanita lanjut usia melaju di sebelah kirinya dan menabrak anak-anak itu. Seorang anak terpental dan tersangkut di bagian depan mobilnya sampai beberapa meter. Anak yang malang ini meninggal dan kedua anak lainnya masuk rumah sakit.

  • Orang tua dari anak yang meninggal itu bermurah hati memberikan ampun kepada nenek yang menabrak. Mereka tahu bahwa si nenek pasti menyesal atas kejadian itu dan penyesalan tersebut cukup menghukum jiwanya lebih dari apa pun. Mereka tidak menuntutnya ke pengadilan. Mereka tahu bahwa itu tidak akan membuat anak mereka hidup kembali. Mereka menguatkan diri dengan lebih mendalami ajaran agamanya. Dengan merelakan kepergian anaknya dan mengampuni nenek itu, perasaan mereka lebih terhibur.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through

Situs: https://joojoo.com

Mengatasi Tragedi

Bila suatu waktu kita sendiri yang mengalami tragedi, apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasinya?
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr