Latihan Memperbaiki Perilaku

Cognitive behavior training atau latihan memperbaiki perilaku bagi penderita kelainan kecemasan sosial perlu diambil agar mereka dapat hidup normal kembali.

3,341 views   |   shares
  • Cognitive Behavior Training (secara harafiah dapat diterjemahkan Latihan Memahami Perilaku, tetapi sebenarnya lebih tepat disebutkan Latihan Memperbaiki Perilaku) adalah sebuah latihan untuk memahami dan mengubah perilaku dan sikap seseorang terhadap masalah atau tantangan yang ditakutinya. Biasanya ketakutannya itu sangat berlebihan. Oleh karena itu, dalam latihan tersebut, justru seseorang harus berhadapan dengan sesuatu yang ditakutinya namun dengan pemahaman dan sikap yang berbeda.

  • Penderita social anxiety disorder atau kelainan kecemasan sosial selalu membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya atau paling sedikit sesuatu yang membuatnya dipermalukan di tengah-tengah kelompok orang banyak akan terjadi.

  • Misalnya, dia pernah mengalami trauma berhadapan dengan seseorang yang sangat berang kepadanya ketika mobilnya menyerempet mobil lain. Badannya gemetaran, keringat dingin mengalir di seluruh tubuh, dan bicaranya tidak lancar, dan yang terutama, banyak orang yang menyaksikannya. Walaupun dia memiliki asuransi mobil dan 'kecelakaan' tersebut juga tidak membawa korban apa-apa, mobil pun tidak ada yang tergores, hanya supir mobil lain yang menjadi berang dan membentak-bentaknya. Pikirnya, "Saya tidak mungkin menghindari hal tersebut. Oleh karena itu saya lebih baik berhenti mengemudikan kendaraan, agar saya tidak perlu dipermalukan lagi." Padahal dia adalah seorang pengemudi yang sopan dan selalu berhati-hati.

  • Agar dia dapat kembali menggunakan kendaraannya dengan nyaman, dia butuh cognitive behavior training atau latihan memperbaiki perilaku.

  • Fakta: 'Kecelakaan' di jalanan tidak dapat dihindari. Setiap orang selalu membuat kesalahan. Dia butuh kendaraan untuk pergi dan pulang dari tempat kerja dan kegiatan lain.

  • Fakta: Dia memutuskan untuk berhenti mengemudikan mobilnya karena takut dipermalukan orang lain bila dia harus berkonfrontasi dengan seseorang yang menjadi berang karena kesalahannya atau kesalahan orang lain atau keduanya.

  • Fakta: Akibat dia berhenti mengemudikan mobil, dia bergantung kepada taksi yang mahal dan angkutan umum yang menghabiskan waktunya di jalanan sehingga tidak ada waktu untuk kegiatan lainnya.

  • Fakta: Dia sebenarnya tidak takut mengemudikan mobil. Dia takut ada orang yang berang kepadanya dan dia merasa dipermalukan.

  • Setelah melihat fakta-fakta di atas, maka dia harus melewati beberapa latihan untuk menghadapi seseorang yang berang dengan seorang pemandu yang akan membimbingnya agar dia tidak lagi kikuk, tegang, dan berkeringat dingin.

  • Advertisement
  • Yang pertama-tama harus dilakukan adalah bahwa dia harus sadar bahwa kejadian tersebut mungkin akan terulang kembali betapa pun kecilnya kemungkinan tersebut. Kedua, dia harus memiliki cukup asuransi untuk melindungi diri dan harta orang lain bila kecelakaan tersebut terjadi. Selanjutnya, dia hanya perlu menghafalkan beberapa baris dialog yang sopan untuk menjelaskan kepada yang bersangkutan dan polisi.

  • Pikiran-pikiran liar yang biasanya menyertai seorang penderita social anxiety disorder seperti: bagaimana seandainya dia memukul saya, atau bagaimana kalau dia mengamuk dan kemudian merusak mobil saya dan seterusnya hendaknya ditinggalkan. Kemungkinan hal tersebut terjadi dalam suatu kecelakaan sangat kecil, terutama bila tidak ada sengketa.

  • Bagi orang yang tidak menderita fobia ini, skenario seperti itu nampak sederhana dan jelas. Tetapi, untuk yang menderita fobia, hal yang sederhana tersebut harus diulang-ulang beberapa kali. Yang penting baginya sekarang adalah agar seseorang yang menderita fobia tersebut memiliki 'senjata' untuk mempertahankan diri agar dia dapat berbicara dengan tenang dan tidak terlalu tegang dan 'memalukan'.

  • Peristiwa lain adalah seorang wanita yang ketika sedang makan di warung bakso, secara tidak sengaja menelan sebutir bakso yang lumayan besar sehingga tercekik. Setelah orang-orang disekitarnya heboh dan memberikan pertolongan pertama, akhirnya sebutir bakso 'sialan' tersebut pun keluar. Akibatnya fatal buat dia, karena sejak saat itu dia takut makan apa saja, terutama makan di tempat umum. Pertama, dia takut peristiwa yang sama terulang kembali. Kedua, dia takut dipermalukan di depan umum.

  • Selama makan, dia akan tegang sekali. Dia selalu memilah-milah makanannya sehingga waktu yang digunakan untuk makan berlangsung berjam-jam. Di samping itu, dia sudah jelas tidak mungkin makan di tempat umum lagi, seperti warung atau restoran. Akibatnya yang lebih fatal lagi adalah bahwa dia kehilangan pekerjaannya dan menyembunyikan diri di dalam rumah sepanjang hari.

  • Fakta: Kemungkinan seseorang makan bakso dan tidak sengaja tertelan kemudian tercekik karenanya adalah sangat jarang terjadi.

  • Fakta: Tidak semua makanan berbentuk bulat seperti bakso.

  • Fakta: Otaknya atau lebih tepat, peristiwa buruk yang direkam oleh otaknya, diperbesar dan diperbanyak oleh otaknya sehingga dia menjadi tegang menghadapi makanan apa saja.

  • Fakta: Dia merasa malu bahwa peristiwa tersebut terjadi pada dirinya di depan orang banyak. Tetapi, bukankah setiap manusia selalu membuat kesalahan, besar dan kecil, sengaja dan tidak sengaja?

  • Advertisement
  • Cognitive behavior training yang harus dilakukannya adalah agar dia tidak perlu menyamaratakan semua makanan. Dia harus sadar bahwa otaknya atau cara berpikirnya sebenarnya yang mempermainkannya. Kalau hal tersebut dapat diubah, atau dikendalikan, maka dia akan bersikap lebih positif terhadap makanan. Mungkin saja dia dapat menolak memakan bakso atau segala sesuatu yang sejenis itu, tetapi bukan berarti harus membiarkan dirinya ketakutan memakan makanan yang lain.

  • Di samping itu, dia harus mulai belajar makan di bawah pengawasan seorang pembimbing yang membuatnya memiliki 'keberanian' memakan makanan apa saja dengan kecepatan yang wajar. Di samping itu, lambat laun dia harus belajar memakan makanan di tempat umum. Dengan demikian, maka dia akan dapat kembali hidup normal dan bekerja kembali.

  • Demikianlah ilustrasi tentang cognitive behavior training. Untuk lebih jelas lagi bagi mereka yang menderita kelainan kecemasan sosial, silakan menghubungi psikiater atau psikolog yang memahami bidang tersebut.

Bagikan kepada teman-teman Anda!

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Latihan Memperbaiki Perilaku

Cognitive behavior training atau latihan memperbaiki perilaku bagi penderita kelainan kecemasan sosial perlu diambil agar mereka dapat hidup normal kembali.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr