Kelainan Kecemasan Sosial

Kalau Anda selalu cemas berada di antara orang banyak, sehingga mempersulit mendapatkan pekerjaan, maka artikel ini perlu Anda baca.

1,630 views   |   shares
  • Anak-anak lahir selalu membawa watak masing-masing. Dalam pertumbuhannya, mereka selalu akan berhadapan dengan tantangan. Beberapa di antara tantangan tersebut membuatnya trauma. Akibatnya watak anak tersebut bercampur dengan trauma membuatnya memiliki kelainan (disorder). Ada yang takut pada ketinggian, kegelapan, dan ruang sempit serta serangga atau binatang melata tertentu, biasanya ular. Sering kali kelainan yang menjadi fobia tersebut menjadi 'tidak masuk akal' buat orang yang tidak memiliki fobia. Misalnya, orang yang memiliki fobia kepada ular, hanya melihat gambar ular sudah cukup membuatnya lari ketakutan. Orang mengira dia pura-pura, tetapi apabila diperiksa maka sering kali kita menjumpai bahwa adrenalin membanjiri tubuhnya, pori-porinya mengeluarkan keringat dingin, jendela matanya terbuka lebar, dan otot-ototnya menjadi tegang dan seterusnya.

  • Untuk mempersempit ulasan tentang fobia, artikel ini berfokus pada anak-anak yang lahir pemalu kemudian memiliki trauma dengan hubungan sosial, sehingga tumbuh ketakutan terhadap sosial atau sering disebut kelainan kecemasan sosial (social anxiety disorder).

  • Pengalaman traumatisnya mungkin diperparah oleh penindasan para penggertak (bully) di masa kecil, remaja atau dewasa. Anak-anak semacam ini sering kali tumbuh menjadi orang dewasa dengan beberapa sifat sebagai berikut:

    • Menyendiri. Kalaupun ada pergaulan, maka cenderung dalam lingkungan yang sempit. Biasanya teman-temannya adalah orang-orang yang diperkirakan dapat 'dikendalikan' olehnya. Sering kali susah untuk mempercayai orang baru. Tidak merasa menjadi bagian dari suatu masyarakat atau sekumpulan orang. Dia dapat merasa kesepian dalam sebuah pesta yang ramai. Selalu menghindari untuk diajak ke tempat-tempat ramai.

    • Anak-anak yang tumbuh demikian mungkin saja menjadi orang yang berhasil. Ada banyak tokoh dunia (Abraham Lincoln) bahkan artis (Barbra Streisand) yang menderita kelainan tersebut. Karena dia biasa sendirian, maka pekerjaan yang cocok untuknya adalah pekerjaan yang dapat dilakukan sendirian, seperti penulis, penyanyi solo, pelukis, tetapi kadang-kadang tidak terduga menjadi bintang film seperti Whoopi Goldberg. Orang-orang demikian memiliki sifat kerja yang baik, terutama dia dapat bekerja tanpa pengawasan ketat.

    • Orang-orang seperti itu sering kali juga selalu waspada atau dapat dikatakan 'ketakutan' setiap hari. Mereka selalu memikirkan selangkah ke depan, karena dalam hidupnya selalu dihantui oleh pikirkan 'seandainya' ini dan itu terjadi (what if), sehingga orang-orang demikian sangat tenang dalam keadaan darurat, seolah-olah mereka sudah disiapkan untuk menghadapinya. Jadi, pekerjaan lain yang tepat untuk orang-orang demikian adalah mungkin anggota tim SAR dan yang sejenisnya.

    • Karena selalu takut dipermalukan di depan umum, orang demikian juga suka belajar. Pikirnya dia harus mahir dalam beberapa hal agar tidak dipermalukan di depan umum. Jadi, kalau Anda mempekerjakan seseorang yang menderita kelainan sosial dia akan segera terlihat dan terbukti menguasai bidangnya dalam waktu yang cepat, karena baginya lebih baik mati daripada dipermalukan.

    • Orang demikian akan ketakutan setengah mati bila harus konfrontasi dengan orang lain, terutama bila itu terjadi tanpa persiapan.

    • Kata pertama yang diucapkannya bila diajak melakukan sesuatu yang tidak dikenalnya adalah "tidak". Oleh karena itu, bila Anda tahu dia sanggup melakukannya, dan melakukan dengan baik, maka sebaiknya Anda tahu cara membujuknya. Orang demikian selalu memikirkan akibat buruk lebih dahulu sebelum memikirkan hal-hal lainnya, oleh karena itu beri dia waktu untuk mencernanya.

    • Bila dia melakukan kesalahan, betapa pun kecilnya, dia selalu mengira orang lain akan selalu ingat akan kesalahannya. Perasaan bersalah tersebut akan dibawanya kemana pun dia berada. Bagi orang demikian, kesalahan tidak boleh terjadi. Oleh karena itu, kadang-kadang kalau rasa takut bersalahnya terutama dipermalukan orang lain terlalu kuat, maka dia akan menyembunyikan diri dari pergaulan. Dia akan menjadi makhluk soliter bukan makhluk sosial lagi.

    • Di samping takut bersalah, orang-orang demikian juga merasa hidupnya selalu diamati orang lain di mana pun dia berada, seperti sewaktu dia bekerja, mengerjakan sesuatu, atau sedang berbelanja pun dia selalu mengira ada orang lain yang mengawasinya dan memberi penilaian buruk terhadapnya. Itulah sebabnya dia akan lebih mudah membeli sesuatu untuk orang lain daripada untuk dirinya sendiri.

  • Advertisement
  • Mulutnya akan terasa kering, kandung kemihnya terlalu cepat penuh bila dia sedang berpikir untuk membeli sesuatu untuk dirinya sendiri. Kalau ada teman yang diajak berbicara, dia akan selalu mencari pembenaran tentang alasan dia ingin membeli barang tersebut, meskipun orang lain mungkin tidak ingin tahu apa alasannya. Dia akan mempelajarinya berhari-hari tentang barang yang akan dibelinya, bukan hanya karena takut membuat kesalahan, tetapi juga karena dia merasa ada orang lain yang akan menyalahkannya bila dia membeli barang tersebut, meskipun itu adalah uangnya sendiri dan dia seratus persen berhak membelanjakannya.

  • Tentu saja ada keuntungannya. Dengan demikian, dia dapat menghemat dan tidak belanja sembarangan, tetapi bila berlebihan, sehingga tidak dapat tidur semalam sebelum memutuskan untuk membelinya, itu adalah sesuatu yang sudah berlebihan.

    • Dia juga takut menerima telepon dan menelepon, terutama bila menelepon orang yang tidak dikenalnya untuk bertanya sesuatu. Dia takut orang yang diteleponnya akan merendahkannya atau menolaknya walaupun dia seseorang yang tidak dikenalinya atau salah sambung. Dia juga takut menelepon orang yang dikenalnya (bahkan mungkin kepada anak sendiri) karena dia takut sedang mengganggunya atau menelepon di saat yang tidak tepat atau orang lain yang mengangkat teleponnya.

    • Mereka selalu merasa orang lain akan selalu menyalahkannya. Oleh karena itu, orang demikian kemungkinan justru ada yang berperilaku 'buruk' atau kalau di sekolah disebut 'class clown' atau badut kelas, karena mereka mengira kalau sudah demikian 'buruk' tidak mungkin lebih 'buruk' lagi. Dengan demikian, dia dapat tinggal di dalam kelompok orang banyak. Kalau dia bertingkah normal, lebih baik tinggal di rumah sendirian. Dia selalu salah tingkah atau sengaja bertingkah konyol di dalam kelompok.

    • Mereka susah bergaul dengan orang yang 'sederajat' atau yang derajatnya lebih tinggi. Mereka akan tegang sekali, dan akan berlagak 'bodoh' di depan mereka. Justru karena itu, mereka akan lebih tidak nyaman lagi sehingga ingin cepat-cepat mengakhiri perjumpaan.

  • Kalau ada di antara para pembaca yang mengalami gejala-gejala seperti itu, tandanya Anda sedang menderita kelainan kecemasan sosial. Langkah pertama yang harus diambil adalah sadarlah bahwa semua yang Anda takutkan akan terjadi pada diri Anda (seperti Anda selalu diawasi orang lain dan dinilai buruk oleh mereka) tidak selalu benar.

  • Anda butuh bantuan psikiater atau psikolog yang mengerti bidang tersebut, karena tidak semua psikiater dan psikolog akan memahaminya. Yang tidak memahaminya akan mengira bahwa Anda sedang menderita serangan panik (panic attack) atau depresi.

  • Advertisement
  • Obat-obatan anti depresan tidak akan menyembuhkan. Anda butuh cognitive behavior training (CBT) agar paling sedikit dapat mengendalikan kelainan kecemasan sosial Anda.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Kelainan Kecemasan Sosial

Kalau Anda selalu cemas berada di antara orang banyak, sehingga mempersulit mendapatkan pekerjaan, maka artikel ini perlu Anda baca.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr