Rumah Kita Sudah Penuh

Sumber alam kita selamanya terbatas. Manusia dapat dikatakan telah mendominasi sumber alam tersebut. Kecuali kita melestarikannya, maka kita justru akan menjadi wabah yang merusak sumber alam tersebut.

259 views   |   shares
  • Suatu hari kita tidak akan boleh lagi menggunakan kemampuan dan hak kita hanya karena kita sanggup. Kita memiliki banyak kemampuan dan hak, misalnya, kemampuan melahirkan dan hak memiliki sebanyak anak yang sanggup kita lahirkan dan pelihara. Namun demikian, kemampuan dan hak tersebut suatu hari akan terbatas atau terpaksa dibatasi, karena rumah kita sudah penuh.

  • Untuk menjelaskan pokok pemikiran tersebut, saya angkat contoh yang sekarang sudah terjadi di beberapa negara yang sudah sangat maju dan pertumbuhannya sudah jenuh adalah pembatasan mengairi rumput halaman rumah kita. Pembatasan ini bukan karena musim kemarau yang berkepanjangan, tetapi karena sumber air yang mulai surut. Setiap rumah dibatasi berapa lama air dapat digunakan untuk menyirami rumput di halaman rumah sendiri. Di negara-negara seperti itu, seseorang yang mampu membayar pun tidak diizinkan menggunakan air untuk menyirami rumput lebih daripada yang diizinkan. Bahkan ada polisi air yang memeriksa setiap rumah dan menerapkan denda atau sanksi lain.

  • Sumber alam di dunia ini terbatas. Kalau kita sanggup menikmati sesuatu yang lebih banyak daripada orang lain, berarti ada seseorang di luar sana yang tidak dapat menikmatinya lagi, karena kita telah mengambilnya. Hal tersebut berlaku untuk segala bidang, mulai dari lapangan pekerjaan sampai kepada udara yang kita hirup.

  • Setiap insan yang hidup selalu dipacu untuk meningkatkan prestasi dan keberhasilan hidup. Dalam usaha memenuhi ambisi tersebut selalu terjadi pergulatan dan pengambilalihan hak orang lain yang kurang beruntung.

  • Kelahiran seorang anak ke dunia berarti dunia harus menyediakan sekian banyak makanan dan minuman untuknya hingga dia dewasa, bila terjadi kelangkaan sumber pakan tersebut, maka pasti ada anak yang tidak beruntung yang tidak kebagian makanan lagi. Di dalam rumah kita sudah pernah mengalami sendiri, di mana seorang bayi lahir, maka kamar yang tadinya untuk dua orang kakaknya sekarang harus direnovasi untuk menyediakan tempat bagi si upik. Tetapi, bila sudah tidak ada tempat yang terbuka untuk dikelola, maka kemungkinan kebebasan dua anak sebelumnya harus dibatasi dan ruangan sempit untuk mereka akan bertambah sempit.

  • Kembali duapuluh tahun lalu ketika negara seperti Cina dan India mulai bergeliat dan ekonomi mereka mulai membaik, maka rakyatnya lambat laun beramai-ramai membeli kendaraan, rumah-rumah baru sehingga pembangkit listrik perlu ditambah. Akibatnya konsumsi minyak bumi meningkat dengan cepat dan menyebabkan krisis bahan bakar di dunia. Harga jual minyak makin mahal karena penawaran terbatas sedangkan permintaan meningkat terus. Untungnya segala sesuatu yang terjadi di dunia ini selalu mengalami titik jenuh, sehingga sesuatu yang naik tidak terus meningkat tak terkendali. Sampai pada batas tertentu, maka peningkatan tersebut akan mengalami titik plateau (datar) atau menurun.

  • Advertisement
  • Di Yellowstone, sebuah Taman Nasional Amerika di negara bagian Wyoming pernah terjadi wabah kijang, karena tidak ada predator yang menjaga keseimbangan ekologi populasi kijang terhadap sumber alam atau hutan di taman nasional tersebut. Oleh karena itu, diimpor sejumlah serigala untuk maksud itu. Kalau tidak demikian maka populasi kijang terlalu banyak dan merusak lingkungan alam di taman nasional tersebut yang akhirnya akan merepotkan pelestarian kijang.

  • Pikirkan bahwa jumlah penduduk bumi telah mengalami peledakan menurut deret ukur (2, 4, 8, 16 dan seterusnya) sehingga jumlah penduduk bumi sekarang mencapai tujuh miliar. Kendali untuk keseimbangan ekologi kehidupan makhluk hidup yang sebelumnya dilakukan oleh makhluk hidup itu sendiri (melalui peperangan dan sebagainya), bencana alam, dan penyakit, sekarang hampir dapat dikatakan telah ditiadakan.

  • Setelah menyampaikan fakta-fakta demikian, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita mengajar anak-anak kita menghargai sumber alam yang terbatas tersebut:

    • Ajar anak-anak menghargai rumah dan lingkungan sekitar tempat mereka tinggal. Segala pelajaran harus dimulai dari rumah. Kalau setiap rumah menyapu halamannya maka dunia pun akan bersih, demikian ujar orang bijaksana.

    • Matikan listrik bila tidak digunakan. Kita menganggap listrik adalah hal biasa. Kadang-kadang kita lalai. Oleh sebab itu, jangan biarkan lampu-lampu menyala terus selama tak terpakai, hanya karena Anda sanggup membayar rekeningnya. Energi tersebut terbatas.

    • Matikan air bila tidak digunakan. Yang satu itu sudah terlihat di negara-negara maju betapa terbatasnya sumber air yang dianggap bahan yang murah. Hematlah setiap tetes air. Ajarlah anak-anak selalu mematikan keran selama menggosok gigi, misalnya.

    • Jangan mengambil makanan yang nantinya akan dibuang. Demikian pula dengan makanan, ajarlah anak-anak untuk lebih baik menambah daripada mengambil makanan yang akhirnya terbuang dengan sia-sia.

    • Matikan kompor gas segera setelah selesai memakainya. Disamping berbahaya dibiarkan menyala terus, juga gas adalah sumber alam yang terbatas

    • Sampah-sampah tidak boleh sembarangan dibuang. Ada sampah organik dan sampah yang didaur ulang. Semua yang dapat didaur ulang, harus dikumpulkan untuk disumbangkan atau dijual kepada perusahaan daur ulang. Yang organik harus dibuang di tempatnya, dengan demikian kesehatan pun dapat terjaga. Lingkungan yang kotor tentu bukan tempat yang sehat untuk ditinggali.

    • Bekas minyak mobil dan goreng hendaknya tidak dibuang diselokan yang akan merusak lingkungan. Ajar anak-anak agar memperhatikan yang satu ini. Membuang oli bekas ke tanah akan merusak kesuburan tanah dan meresap ke dalam sumber air tanah. Demikian pula dengan minyak goreng bekas, kebanyakan dituangkan ke selokan yang berakhir pada sumber air kita di muara.

    • Penggalian sumur air tawat hendaknya tidak sembarangan dilakukan karena dikhawatirkan akan merusak lingkungan. Alam selalu menjaga keseimbangan. Bila air tanah dikuras, maka rongga tempat air tanah itu akan diisi oleh air laut, sehingga tanah di atasnya cenderung menjadi gersang dan akibat negatif lainnya.

    • Pohon tidak boleh sembarangan ditebang. Pohon adalah paru-paru bumi yang menghasilkan oksigen untuk kita bernafas, dan menyerap polusi akibat pembakaran bahan bakar. Bila jumlah pohon makin berkurang, maka daya pembersih udara kita akan sangat terpengaruh.

    • Membakar sampah akan merusak kebersihan udara. Ajar anak-anak agar membiasakan diri tidak membakar sampah-sampah setelah membersihkan halaman rumah. Memang lebih mudah dan murah, tetapi kerugian dari polusi udara yang ditimbulkan akan jauh lebih mahal nantinya.

    • Ajar anak-anak agar tidak membunuh serangga, karena kemungkinan besar serangga tersebut ikut membantu melestarikan ekologi lingkungan.

  • Advertisement
Bagikan pada teman dan keluarga..

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Rumah Kita Sudah Penuh

Sumber alam kita selamanya terbatas. Manusia dapat dikatakan telah mendominasi sumber alam tersebut. Kecuali kita melestarikannya, maka kita justru akan menjadi wabah yang merusak sumber alam tersebut.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr