Membesar-besarkan Masalah Sepele

Masalah sepele kadang-kadang membuat orang stres. Untuk menghindarinya, seseorang harus tahu dan belajar mengubah cara berpikir dan menanggapi masalah sepele tersebut.

3,677 views   |   6 shares
  • Dia memandang ke luar jendela dan melihat tumpukan daun yang rontok di atas halaman depan rumahnya. Sambil menghela nafas panjang, dia berkata sendiri: "Ah, seharusnya saya membersihkan halaman depan rumah saya sebelum musim dingin tiba."

  • Ya, memang itu ideal, tetapi seseorang tidak perlu stres gara-gara halaman depan rumahnya tertutup jutaan daun yang rontok dan sekarang mulai membusuk, terlihat kecoklatan dan jelek.

  • Ada suara halus dan lembut penuh kasih sayang yang bertanya, "Mengapa, nak, kamu tidak membersihkannya sebelum musim berganti?"

  • "Seandainya saja saya lebih cekatan mungkin saya masih memiliki waktu untuk itu. Anak saya tiga, dari 5 tahun hingga 11 tahun. Pagi-pagi saya harus bangun menyiapkan mereka sekolah, setelah itu saya sendiri harus pergi kerja, pulang kerja saya harus melakukan tugas rumah tangga dan menyiapkan makan malam …. seandainya saja …" demikian keluhnya.

  • Dia boleh jadi memang bukan tukang kebun yang baik, tetapi dia adalah seorang ibu yang bertanggung jawab untuk kesejahteraan anak-anaknya dan keluarganya. Mengapa dia masih mengeluh?

  • "Apa kata orang nanti kalau melihat halaman depan rumah saya jorok seperti itu?" Demikianlah ucapnya dalam hati.

  • Menurut Dr. Allan Beck, setiap orang yang depresi selalu tidak menyukai dirinya (David D. Burns MD. "Feeling Good", 59). Dia memandang dirinya terlalu rendah. Biasanya orang-orang yang depresi tersebut 'menjatuhkan' harga dirinya, karena mereka mengira orang lain akan terlalu usil untuk mengurusinya. Bagaimana dia mengetahui bahwa orang lain akan memandang rendah dirinya bila halaman depan rumahnya kotor? Lagi pula itu hanya daun-daun yang akan larut menjadi tanah bila musim dingin telah berlalu dan menjadi pupuk yang menyuburkan tanahnya.

  • Stres atas hal-hal sepele seperti ini justru sering terjadi pada diri seseorang. Sebenarnya dia dipermainkan oleh otaknya sendiri. Tahukah Anda bahwa otak seseorang itu sangat aktif bekerja 24/7 dan otak akan menciptakan skenario sendiri dengan menghubungkan semua ingatan yang berhasil direkamnya?

  • Hal-hal sepele akan selalu menghadang kita setiap hari. Misalnya secangkir coklat panas yang tumpah ke kemeja putih yang akan Anda kenakan untuk wawancara kerja. Teman meninggalkan Anda sendirian di pesta. Kita lupa menempatkan kunci mobil atau kunci rumah. Bila masalah sepele tersebut dibesarkan, maka masalah yang seharusnya tidak sangat berarti itu menjadi sesuatu yang membuat kita marah, jengkel, dongkol, bahkan stres dan frustrasi. Sebenarnya kita sendiri menghukum kita terlalu berat, sehingga kita merasa bahwa kita tidak ada harganya. Apalagi ditambah dengan 'Apa kata orang lain nanti'. Memangnya kita sudah pandai membaca pikiran orang lain?

  • Advertisement
  • Menyalahkan diri sendiri atau menghakimi dengan berat untuk masalah sepele sebenarnya adalah kebiasaan. Mungkin seseorang memulainya waktu masalah sepele tersebut membuatnya malu atau trauma, tetapi lama kelamaan perhatian seseorang makin terpusatkan pada hal-hal sepele dan otaknya ikut membantu memperbesarnya, sehingga muncullah keinginan untuk menyalahkan diri sendiri atau menghakimi diri terus menerus. Oleh karena itu, sebagaimana kebiasaan tersebut dimulai, demikian pula kebiasaan tersebut diakhiri. Dengan latihan berikut lama kelamaan pikiran kita dapat tersusun kembali:

    • Seseorang harus menyadari bahwa depresi sebenarnya disebabkan oleh hal-hal sepele: sesuatu yang sebenarnya dapat diabaikan, tetapi justru membuatnya merasa kehilangan percaya diri.

    • Ada beberapa orang yang berhasil mengatasi rasa stres atas hal-hal kecil dengan 'melempar' jauh-jauh masalah sepele yang dianggapnya mempermalukannya. Mereka menuliskan masalah yang dianggapnya memalukan tersebut kemudian kertas itu diremasnya dan dilempar jauh-jauh ke keranjang sampah, ke sungai, ke danau, atau ke lembah dan seterusnya. Perbuatan simbolik tersebut (untuk beberapa orang) rupanya memberi masukan kepada otaknya agar hal-hal sepele seperti itu tidak perlu direkam lagi.

    • Mengubah cara berpikir. Setiap kali pikiran negatif muncul, maka diusahakan untuk dibelokkan kepada yang positif. Berpikir positif bukan sekadar penyangkalan. Latihlah diri sendiri dengan bertanya kepada diri sendiri:

    • Kalaupun ada tetangga saya yang menganggap saya bukan ibu yang dapat mengatur kebun dengan baik, apakah lantas semua tetangga saya menilai saya dengan nilai yang sama?

    • Seandainya ada seorang yang tidak setuju dengan saya, apakah berarti semua orang tidak setuju dan akan memberi label 'produk gagal' di dahi saya?

    • Pada hakekatnya kita seringkali menyamaratakan suatu keadaan: 'Saya selalu gagal'. Mungkin kita pernah gagal, tetapi kata 'selalu' adalah berlebihan dan cenderung menyamaratakan keadaan.

    • Kadang-kadang kita memasang label diri: 'Saya akan mempermalukan diri sendiri'. Memang kadang-kadang kita salah tingkah atau ucapan, tetapi bukankah kodrat manusia selalu membuat kesalahan?

    • Kadang-kadang kita menjadi pembaca pikiran orang lain: 'Apa kata orang nanti'. Memang Anda tahu jalan pikiran orang lain?

  • Hal-hal seperti ini dapat dilakukan dengan latihan (yang baik adalah secara tertulis dengan mengelompokkan mana pikiran yang 'menyamaratakan', mana yang 'memasang label diri', dan mana yang 'membaca pikiran orang lain') agar kita dapat mengembalikan cara berpikir ke format default, seperti pikiran Anda sebelum dikotori oleh berbagai pikiran negatif.

  • Advertisement
  • Kalau semua sudah Anda lakukan, tetapi pikiran akan hal-hal sepele tersebut masih mengganggu Anda, daripada berusaha keras menyingkirkannya, lebih baik Anda beri kesempatan dalam waktu yang sudah Anda tetapkan untuk memikirkannya. Cara ini dimaksudkan agar emosi Anda tidak terlalu terlibat dalam urusan sepele tersebut, sehingga pikiran objektif Anda mengambil alih dan lambat laun, Anda akan menyadari bahwa sebenarnya Anda tidak perlu memusingkan hal-hal itu, masih ada hal-hal lain yang lebih penting yang butuh perhatian Anda.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Membesar-besarkan Masalah Sepele

Masalah sepele kadang-kadang membuat orang stres. Untuk menghindarinya, seseorang harus tahu dan belajar mengubah cara berpikir dan menanggapi masalah sepele tersebut.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr