Komunikasi Terbuka

Komunikasi yang baik selalu memiliki dua jalur, ada pihak yang ingin mengutarakan isi hati atau pikirannya dan pihak lain yang bersedia mendengarkan dan ikut mempertimbangkan.

1,720 views   |   shares
  • Komunikasi yang baik selalu memiliki dua jalur, ada pihak yang ingin mengutarakan isi hati atau pikirannya dan pihak lain yang bersedia mendengarkan dan ikut mempertimbangkan. Jalan buntu dalam komunikasi bisa terjadi karena:

  • Setiap orang memiliki pendapat sendiri

  • Komunikasi jadi sulit kalau keduanya sudah memiliki pendapat masing-masing terhadap objek yang dibicarakan, sehingga terjadi jalan buntu. Misalnya, seseorang sedang membicarakan masalah hukum di Amerika tentang tidak ikut campurnya pemerintah dalam urusan agama kepada seorang sarjana hukum kenalannya. Menurut kenalannya pemerintah boleh membubarkan suatu agama bila agama tersebut menganjurkan anggotanya melakukan pelanggaran hukum, sedangkan yang lain berpendapat bahwa yang akan ditangkap oleh pemerintah adalah pelanggar hukum tersebut, bukan membubarkan organisasinya. Contohnya, gereja Mormon Fundamental mengajarkan anggotanya untuk mempraktikan poligami kalau ingin memperoleh kemuliaan tertinggi di surga. Praktik poligami itu dilarang dan akan dikenakan sanksi hukum di Amerika. Tetapi sejauh anggota menjalankannya untuk tujuan mempraktikan kepercayaan agamanya, maka pemerintah tidak akan menangkap pelaku poligami. Yang diurus dan ditangkap oleh pemerintah adalah pelaku poligami yang menikah dengan anak perempuan di bawah umur atau bila terjadi tindak kekerasan atau pemaksaan dalam menjalankan praktik agama tersebut.

  • Masing-masing merasa disalahkan

  • Perasaan bersalah ini kadang-kadang dapat menyelinap ke dalam hati seseorang bahkan dalam pertanyaan sederhana seperti, "Di mana kamu letakkan remote control TV?" Maka jawab orang yang merasa dipersalahkan, "Mana gua tahu, memangnya elo tidak pernah nonton TV?" Kalu tidak merasa bersalah, pertanyaan sederhana semacam itu sebenarnya cukup dijawab dengan, "Ndak tahu, mungkin terselip di bawah sofa."

  • Tanpa disadari dalam komunikasi terbuka kadang-kadang seseorang itu justru membuat pintu bayangan untuk menutupnya. Kemungkinan karena tidak menaruh perhatian, sudah kelelahan dari kegiatan sepanjang hari atau kerja, sehingga seseorang tersebut cenderung memutus percakapan di tengah jalan ("Maaf, saya harus pergi sekarang") atau mengangguk-angguk seolah-olah mengerti dan percaya tetapi sebenarnya ingin mengakhiri percakapan tersebut secepatnya. Kadang-kadang seseorang justru mengkritik atau menyalahkan anak sendiri yang sedang mengutarakan perasaannya. Kalau itu yang terjadi, maka anak tersebut akan menutup pintunya di kemudian hari, "Percuma bicara dengan ayah (atau ibu), dia terlalu sibuk untuk urusan anak-anak seperti kita."

  • Advertisement
  • Dalam kehidupan ini seseorang yang dapat kita kendalikan hanyalah diri kita sendiri. Oleh karena itu, untuk membuat komunikasi terbuka tersebut kita hendaknya selalu memulai dari diri sendiri. Berikut adalah gagasan untuk memulai komunikasi terbuka:

    • Secara terbuka katakan pikiran, gagasan, tujuan dan perasaan Anda. Sebelum dapat mengutarakan pikiran dan gagasan serta tujuan dan perasaan kita, maka kita wajib memahami sendiri apa yang sedang kita rasakan, pikirkan, dan tujuan apa yang ingin kita capai dalam hidup ini. Hanya karena anak sendiri yang ingin diajak berbicara bukan berarti kita boleh mengatakan secara sembarangan atau sembrono. Bayangkan berapa banyak anak yang patah hati karena orang tua sering sembarangan mengucapkan pikirannya terhadap anaknya sendiri. Misalnya, ucapan "Kamu adalah anak bodoh (sembrono, atau tidak becus dan lain-lain) yang tidak sanggup menyelesaikan urusan sederhana seperti itu" akan menyisakan luka yang tidak atau sulit dilupakan anak kecil yang otaknya menyerap segala sesuatu seperti busa cuci piring dan yang mempercayai segala ucapan yang dikatakan orang tuanya.

    • Anda harus memulai membuka pembicaraan, jangan menunggu anak Anda memulainya. Tentu saja sebelum memulai pembicaraan, Anda sebagai orang tua benar-benar memiliki minat untuk mengetahui dan memahami apa yang dilakukan, dipikirkan dan dirasakan anak Anda sehari-hari. Anda tentu tidak tahu betul, tapi tidak ada salahnya menanyakan pertanyaan seperti, "Bagaimana latihan karate tadi sore?" atau "Bagaimana ulangan matematika tadi?"

    • Kendalikan pikiran, ucapan, dan perbuatan Anda. Kadang-kadang Anda kecewa dengan anak Anda. Memang tidak ada salahnya, tetapi, selama kecewa dan jengkel atau dongkol, berhati-hatilah menjaga pikiran Anda. Jangan sekali-kali mulai memasang label buruk atau negatif untuk anak Anda, salah-salah tak sengaja Anda mengucapkannya dan menyakiti hatinya dan membekas untuk selama-lamanya.

    • Bertanggung jawab atas segala ucapan dan perbuatan Anda, tidak perlu menyalahkan orang lain. Orang tua masih tetap manusia. Sudah menjadi kodrat manusia untuk sekali-kali melakukan kesalahan. Jangan berusaha menyembunyikannya atau anak Anda justru akan sangat kecewa bila menemukan kekurangan Anda. Dengan demikian hilanglah rasa saling mempercayai yang dengan susah payah telah terbina.

    • Katakan, bila perlu, kelemahan Anda di samping kekuatan Anda, untuk membangun hubungan saling mempercayai dan kedekatan. Orang tua terlihat rentan sebenarnya tidak masalah.

    • Sebisanya berbicaralah kepada anak-anak Anda dalam tingkatan yang sama seperti terhadap sesama orang dewasa.

  • Advertisement
Baca, hidupkan, bagikan!

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Komunikasi Terbuka

Komunikasi yang baik selalu memiliki dua jalur, ada pihak yang ingin mengutarakan isi hati atau pikirannya dan pihak lain yang bersedia mendengarkan dan ikut mempertimbangkan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr