Humanum Convention: Sebuah Pertemuan Lintas Agama Mengenai Keluarga dan Pernikahan

Kita sekarang hidup dalam budaya temporer, yang di dalamnya semakin banyak orang yang dengan mudahnya menyerah dalam hal pernikahan sebagai komitmen publik.

1,015 views   |   shares
  • Sebuah konferensi lintas agama yang membahas mengenai keluarga dan pernikahan berlangsung di Vatikan pada tanggal 17-19 November 2014. Konferensi ini diberi tajuk Humanum: An International Interreligious Colloquium on the Complementarity of Man and Woman. Acara tersebut dihadiri oleh sekitar 350 orang yang terdiri dari para pemimpin agama dan para cendekiawan.

  • Hal menarik adalah bahwa masalah-masalah yang terkait dengan keluarga pada masa sekarang telah menjadi keprihatinan utama para pemimpin agama di dunia sehingga isu ini menjadi tema pada konferensi tersebut.

  • Dalam konferensi ini, Paus Fransiskus menyatakan keprihatinannya mengenai memudarnya nilai-nilai tentang keluarga atas nama kebebasan. Ia pun menyerukan kembali tentang pentingnya keluarga sebagai unit dasar dalam peradaban kita.

  • Dalam ceramahnya Paus Fransiskus menyatakan, "Kita tahu bahwa pernikahan dan keluarga masa kini sedang mengalami krisis. Kita sekarang hidup dalam budaya temporer, yang di dalamnya semakin banyak orang yang dengan mudahnya menyerah dalam hal pernikahan sebagai komitmen publik. Revolusi dalam tata krama dan moral ini telah sering mengibarkan bendera kebebasan, namun pada kenyataannya telah mendatangkan kehancuran rohani dan materi kepada tak terhitung umat manusia, teristimewa kepada mereka yang paling miskin dan paling rentan. Bukti semakin kuat bahwa penyangkalan terhadap budaya pernikahan adalah terkait dengan meningkatnya kemiskinan serta sejumlah penyakit sosial lainnya, secara tidak proporsional memengaruhi para wanita, anak-anak dan orang-orang lanjut usia. Senantiasa merekalah yang paling menderita dalam krisis ini."

  • Paus Fransiskus juga mempersamakan kondisi sosial saat ini dengan kondisi lingkungan alam yang sedang mengalami krisis dan memerlukan perhatian. Dia menyatakan keprihatinan atas lambannya kita secara budaya untuk menyadari betapa lingkungan sosial kita yang rapuh sedang berada di bawah ancaman.

  • "Adalah perlu untuk terlebih dahulu mempromosikan pilar dasar yang memengaruhi sebuah bangsa: nilai-nilainya yang tidak bersifat kebendaan. Keluarga adalah landasan dari hidup berdampingan dan penyembuh terhadap perpecahan sosial. Anak-anak berhak untuk tumbuh dalam sebuah keluarga dengan seorang ayah dan seorang ibu yang mempu menciptakan lingkungan yang sesuai dengan perkembangan dan kedewasaan emosi anak," ujarnya.

  • Dalam ceramahnya di hadapan para pemimpin agama ini, Paus Fransiskus juga menekankan pentingnya untuk memahami isu-isu mengenai keluarga dalam pemahaman universal serta terpisah dari isu-isu politik. Paus Fransiskus berkata, "Jangan jatuh ke dalam perangkap buaian gagasan politik. Keluarga adalah fakta antropologis—-sebuah fakta yang terkait secara sosial dan budaya. Kita tidak dapat mengualifikasikannya berdasarkan gagasan atau konsep ideologis yang nilai pentingnya hanya pada satu masa dalam sejarah. Kita tidak dapat memikirkannya sebagai aliran konservatif atau aliran progresif. Keluarga adalah keluarga. Hal itu tidak dapat dikualifikasi melalui gagasan ideologis. Keluarga adalah hal tersendiri. Itu merupakan kekuatan tersendiri."

  • Advertisement
  • Pemimpin agama lainnya yang turut hadir dalam konferensi ini adalah Henry B. Eyring. Dalam ceramahnya Henry B. Eyring membahas mengenai perbedaan antara pria dan wanita dalam pernikahan dan perbedaan itu dapat saling melengkapi sebagai sumber kebahagiaan dalam keluarga.

  • Henry B. Eyring mengatakan, "Anda telah melihat cukup banyak ketidakbahagiaan dalam pernikahan dan keluarga untuk mempertanyakan mengapa sebagian pernikahan menghasilkan kebahagiaan sementara yang lainnya menimbulkan ketidakbahagiaan. Banyak faktor yang membedakannya, namun satu hal yang menonjol bagi saya. Di mana ada keegoisan, perbedaan alami antara pria dan wanita sering kali terbagi. Di mana ada sifat yang tidak mementingkan diri sendiri, perbedaan menjadi pelengkap dan memberikan peluang untuk membantu dan membangun satu sama lain. Pasangan dan para anggota keluarga dapat saling mengangkat dan terangkat bersama bila mereka lebih memedulikan kepentingan orang lain daripada kepentingan mereka sendiri. Bila sifat yang tidak mementingkan diri sendiri merupakan kunci untuk pernikahan yang saling melengkapi antara pria dan wanita, kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk membantu menciptakan renaisans dari kehidupan pernikahan dan keluarga yang berhasil."

Bantu kami menyebarkan

Setiaman Zebua is a native of Nias, Sumatra Utara,now living in Bekasi, Jawa Barat, Indonesia, and working for a family owned catering business. He is a father of two.

Humanum Convention: Sebuah Pertemuan Lintas Agama Mengenai Keluarga dan Pernikahan

Kita sekarang hidup dalam budaya temporer, yang di dalamnya semakin banyak orang yang dengan mudahnya menyerah dalam hal pernikahan sebagai komitmen publik.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr