Demensia atau Pikun

Dulu orang mengira pikun atau demensia adalah sesuatu yang lucu. Di zaman sekarang, kita menyadari bahwa pikun akan berkembang menjadi penyakit yang disebut Alzheimer yang berakibat fatal. Artikel ini berusaha menjelaskan gejala awal demensia.

1,064 views   |   1 shares
  • Demensia adalah istilah generik untuk kemunduran fungsi otak seseorang yang menyertai lanjut usia. Kemunduran fungsi otak tersebut dapat berupa lemahnya daya ingat jangka pendek dan panjang, perubahan perilaku, merosotnya kemampuan berbahasa dan menilai. Bila keadaan sudah parah sehingga tidak dapat mengenali kamar mandi sendiri dan tersesat di rumah sendiri misalnya, disebut Alzheimer. Bila sekadar sering lupa saja karena usia lanjut dan menjelang dimensia, disebut MCI (Mild Cognitive Impairment) atau pikun (Sumber: US National Health Library).

  • Lemahnya daya ingat

  • Pernahkah Anda berbicara kepada orang yang sudah lanjut usia yang bertanya, "Anak siapa kamu ini, nak?" Yang Anda jawab, "Ahmad," kemudian tak lama dia akan bertanya lagi, "Anak siapa kamu ini, nak?" sehingga dalam waktu 30 menit percakapan mungkin Anda harus menjelaskan kepadanya 3 hingga 4 kali anak siapa Anda itu sebenarnya.

  • Demikian pula dengan seorang pensiunan akuntan yang tentu saja terbiasa mengurusi buku besar dan jurnal yang rumit, tetapi sekarang mengalami kesulitan membaca saldo rekening banknya sendiri.

  • Ada beberapa yang tidak ingat lagi di mana dia dilahirkan dan dibesarkan. Tidak dapat mengenali anak sendiri. Ketika dijelaskan berkali-kali, pandangannya seperti orang kebingungan.

  • Yang sudah sangat parah bahkan tidak mengenali rumah tempat tinggal sendiri. Ketika bangun dari tidurnya, mungkin saja dia akan bertanya, "Di mana aku ini?" Mau ke kamar mandi sendiri harus diberitahu. Kadang-kadang proses sederhana melepas pakaian dan berganti pakaian pun merupakan sebuah proses yang sulit untuknya. Tentu saja ini adalah suatu penderitaan, seperti seseorang yang mengalami mimpi buruk dalam kesadaran penuh.

  • Perubahan perilaku

  • Mungkin dia adalah seorang pria sejati sewaktu masih muda. Dia tersenyum ketika istrinya memintanya mengantarkannya berbelanja ketika dia sedang asyik menonton sepak bola di TV dan pergi mengantarkannya atau bernegosiasi untuk mengajaknya makan malam setelah berbelanja kalau membiarkan dia menonton sepak bola hingga selesai. Tetapi, ketika sudah lanjut usia, sedikit gangguan ketika asyik nonton TV sudah cukup membuatnya terprovokasi untuk marah-marah. Perubahan perilakunya tersebut bukan seperti lagu Dewi Yul yang berkata, "Kau bukan dirimu lagi, sayang", tetapi kemungkinan dia sudah memiliki gejala-gejala pikun atau MCI. Mudah teragitasi oleh masalah-masalah kecil yang sebelumnya tak pernah terjadi patut dicurigai.

  • Advertisement
  • Kemampuan berbahasa merosot

  • Seseorang yang mengalami demensia akan sulit menyebutkan nama sebuah benda misalnya. Pernahkah Anda berbicara kepada seseorang yang sudah lanjut usia yang berkata, "Oh itu begini, setelah dicuci dan dikeringkan terus di …" kemudian terjadi kekosongan untuk sesaat. Setelah ditunggu-tunggu, kata benda yang akan diucapkan tak kunjung keluar dari mulutnya. "Di apa kan, oma?" desak cucunya. "Itu lho …" sambil menggoyang-goyangkan tangannya seperti seseorang menyetrika baju. Kata 'setrika' ada di ujung lidahnya, tetapi dia tidak mampu lagi mengucapkannya. Cucunya yang tidak sabar bilang, "Setrika?" Dengan segera, oma itu akan berkata, "Iya, gitu saja sulit …"

  • Kemampuan menilai juga ikut merosot

  • Orang-orang yang lanjut usia tersebut sering kali menjadi sasaran penipuan. Yang sering terjadi adalah sebagai berikut:

  • Suatu pagi seorang pensiunan menerima telepon dari seorang remaja putra. Katanya, "Nek, saya ada di rumah sakit sekarang karena kecelakaan, saya butuh uang nih."

  • Nenek bertanya, "Siapa kamu, nak?" Jawab remaja itu, "Saya cucumu, nek." "Amir?" tanya nenek itu. "Ya, nek, ini Amir." Tanya nenek, "Oh, kamu ingin saya menelepon orang tuamu?" Dengan tergesa-gesa anak itu menjawab, "Jangan nek, saya tidak ingin orang tua saya tahu."

  • Nah, dari sini saja, kalau kemampuan menilainya masih kuat, tentu tidak akan terjebak ke dalam plot seperti itu. Pastilah dia akan memeriksa ulang berita tersebut lewat rumah sakit atau menelepon rumah anak itu untuk memastikan apakah benar, walaupun sudah diingatkan agar tidak memberitahu orang tuanya.

  • Namun demikian, yang sering terjadi, nenek lanjut usia tersebut dengan patuh mengikuti petunjuk penipu dan mentransfer uangnya seperti yang diminta.

  • Memang ada kemungkinan Amir adalah cucu kesayangan, sehingga dia tidak dapat berpikir dengan jelas, tetapi, kalau dia adalah cucu kesayangan, pastilah dia tahu gaya bahasanya, kebiasaannya dan sebagainya.

  • Menurut banyak sumber yang ada, ternyata gejala-gejala demensia tersebut kadang-kadang terselubung sebagai berikut:

  • Sering jatuh

  • Kita sering mendengar orang lanjut usia jatuh dan patah tulang. Seolah-olah itu hal biasa. Kita mengira hal tersebut hanya karena makin lemahnya otot tubuhnya dan gerak motorik yang makin kaku. Sebenarnya ada hubungan dengan kemampuan otaknya untuk melihat atau mengira-ngira jarak dan kedalaman (depth perception). Itulah sebabnya terutama bila sedang menuruni anak tangga, seringkali mereka kelewatan satu anak tangga dan tumbanglah mereka.

  • Advertisement
  • Sering melanggar hukum atau peraturan secara sengaja

  • Mereka sering terlihat ingin bertualang, misalnya mengambil barang di toko tanpa membayar, mencuri di rumah orang, ngebut di jalanan dan lain-lain. Orang lain yang menyaksikannya atau mendengar ceritanya sering kali heran akan perubahan perilakunya, apalagi dia juga merasa senang melakukan semua hal tersebut seolah-olah mereka mengejek hukum dengan berkata, "Tangkaplah kalau kamu bisa".

  • Pandangan kosong

  • "Pandangan orang itu kosong" demikian kata teman Anda selesai berbicara dengan seseorang. Dia terlihat memandangnya, tetapi tidak ada reaksi dari pandangannya, seolah-olah itu hanya sepasang bola mata palsu yang dipajang di etalase toko. Di balik pandangan itu tidak ada jiwa atau ekspresi apa pun. Ini adalah gejala awal demensia juga.

  • Tidak tahu malu

  • Yang paling sering kita dengar adalah ucapan joroknya yang terang-terangan di hadapan orang banyak. Demikian pula dengan komentar-komentarnya yang sering kali tidak pantas disebutkan di depan umum. Yang lain mungkin adalah perilakunya, seperti buang air kecil di tempat terbuka dan tidak peduli dengan orang lain di sekitarnya, sehingga mereka menjauhinya atau marah-marah karena tingkahnya. Yang parah seringkali juga telanjang atau setengah telanjang keluar dari kamar atau kamar mandi tanpa menyadari bahwa ada banyak orang yang dilaluinya.

  • Perilaku yang diulang-ulang (Compulsive behavior)

  • Ada beberapa orang tua yang suka memungut sampah di jalan dan dibawa pulang, kemudian ditumpuk di kamarnya, di bawah tempat tidurnya, di atas lemari dan sebagainya. Ada peristiwa seperti ini sehingga rumahnya harus digusur, karena di dalamnya tumbuh bakteri yang berbahaya.

  • Boros

  • Kadang-kadang orang lanjut usia ini berbelanja sesuatu yang tidak mereka butuhkan sama sekali, bahkan ada yang membeli makanan tetapi tidak pernah dimakannya, sehingga busuk tergeletak di atas meja tetapi juga tidak dibuangnya. Ini bukan perilaku biasa, tetapi harus dicurigai sebagai bagian dari gejala-gejala demensia. Mereka berbelanja secara impulsif (impulsive shoppers), sehingga kartu kreditnya sering ditolak.

  • Orang lanjut usia seperti itu butuh pengawasan ketat. Kadang-kadang dibutuhkan dedikasi tinggi agar tidak stres dalam merawat mereka. Istri kenalan saya terpaksa tinggal di rumah sepanjang hari untuk merawat ibunya yang demikian sampai ibunya meninggal dunia. Betapa pun mulianya tugas tersebut, asal tahu saja, itu adalah tugas yang tidak ringan.

  • Advertisement
Anda suka artikel ini? Bagikan..

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Demensia atau Pikun

Dulu orang mengira pikun atau demensia adalah sesuatu yang lucu. Di zaman sekarang, kita menyadari bahwa pikun akan berkembang menjadi penyakit yang disebut Alzheimer yang berakibat fatal. Artikel ini berusaha menjelaskan gejala awal demensia.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr