Overdosis 2

Biasanya kita menghubungkan istilah overdosis adalah untuk sesuatu yang tidak baik. Namun demikian, overdosis dengan kebaikan pun akan berdampak negatif.

279 views   |   shares
  • Ada sebuah keluarga yang menurut ukuran orang luar adalah sebuah keluarga baik yang patut diteladani. Suaminya adalah seorang lulusan perguruan tinggi terkenal, bekerja di departemen pemerintah dengan jabatan tinggi. Di rumah dia bergantian memasak buat istri dan anak-anak. Seminggu sekali dia akan membersihkan rumah dari lantai dua hingga ke lantai bawah tanah dan halaman sekitar rumah. Dia giat berolahraga setiap hari. Dia dan istrinya selalu aktif ke Gereja dan selalu terlibat dalam kegiatan sosial dan derma.

  • Istrinya adalah seorang ibu rumah tangga. Dia selalu bangun pagi-pagi sekali untuk menyediakan makan pagi dan siang buat anak-anak dan suami. Di samping itu, dia juga mengajar dan membantu anak-anaknya membuat PR di rumah. Kalau malam, dia akan menyiapkan makan malam buat keluarganya. Waktu liburan dia dan suaminya akan mengajak anak-anaknya berlibur.

  • Dari data tersebut di atas, maka pantaslah pasangan ini disebut ayah dan ibu super. Tetapi ada sesuatu yang tidak diketahui, sampai seseorang masuk ke dalam lingkungan keluarga tersebut.

  • Istrinya terlalu berkuasa di rumah. Suaminya adalah sosok yang 'lemah' di hadapan isteri. Anak-anaknya yang masih kecil tersebut selalu didorong untuk:

    • Mengambil ekstrakurikuler mulai dari menari, bermain musik, bahasa asing, dan karate, sehingga anak-anak tidak memiliki waktu bermain. Kalaupun ada, itu semua diprogram oleh orang tua dan ditakar menurut ukuran mereka. Hidup keluarga ini dimulai dari pukul 5.30 pagi hingga 8.00 malam. Pukul 6.00 pagi anak-anak sudah harus mengerjakan PR kursus bahasa asing sambil sarapan. Pukul 6.30 suami berangkat kerja. Pukul 8.00 pagi istri mengantarkan anak-anak ke sekolah. Anak-anak tinggal di sekolah hingga pukul 4.00 sore. Begitu sampai di rumah, ada yang pergi latihan musik, karate, atau kegiatan lain hingga pukul 6.00 sore. Begitu pulang mereka akan membuat PR untuk sekolah umum dan diikuti makan malam bersama pukul 7.00 malam. Selesai makan malam, mereka akan membaca kitab suci mereka dan tak lama maka pukul 8.00 malam tiba dan mereka sudah harus berada di kamar tidur masing-masing dan beristirahat sampai keesokan harinya, maka terulang kembalilah jadwal ketat tersebut.

    • Hari Sabtu bukan hari bermain, tetapi anak-anak harus pergi sekolah bahasa asing dari pukul 9.00 pagi hingga 4.00 sore. Sisa waktu di akhir pekan digunakan untuk bermain sebentar, makan malam, dan istirahat. Hari Minggu adalah hari Gereja. Keluarga ini menggunakan waktu dari pukul 12.00 siang hingga pukul 5.00 sore untuk kegiatan gereja di hari Minggu.

    • Memakan makanan sehat, terutama menjauhi gula. Di rumah ini semua harus makan banyak makanan yang mengandung serat, menjauhi lemak dan goreng-gorengan. Tidak ada jajan, kalau ada, itu pun ditentukan oleh orang tua atau jajanan buatan sendiri dengan kadar gula yang sangat dibatasi.

    • Di rumah tidak ada hiburan, tidak ada TV, yang ada hanyalah dari meja belajar ke meja belajar. Suami yang ingin nonton berita dan ramalan cuaca pun menjadi sasaran kritik tajam istrinya.

    • Agama adalah sesuatu yang sangat serius seolah-olah masih hidup di abad pertengahan.

    • Kesalahan adalah sesuatu yang sangat memalukan, sehingga pantas dikritik tajam, terutama oleh ibu. Di rumah ini seolah-olah semua harus hidup sempurna mulai dari sekarang.

    • Suami selalu berkata maaf untuk setiap kesalahan kecil yang dilakukannya dan terima kasih untuk apa saja yang dilakukan istri. Sebaliknya, istri banyak mengkritik perbuatan suami dan mengungkit-ungkit kesalahannya, sehingga anak-anak merasa bahwa ayah kurang 'sempurna' sedangkan ibu adalah teladan.

    • Berada di depan komputer berjam-jam tentu akan mendapatkan kritikan tajam kecuali kalau sedang bekerja. Apalagi ingin menonton film di depan komputer, tentu sudah dicurigai menonton pornografi.

  • Advertisement
  • Semua yang dilakukan dalam keluarga ini adalah kebaikan. Bukankah belajar bahasa asing dan mengerjakan PR sekolah adalah suatu kebaikan? Bukankah latihan jasmani sejak dini suatu kebaikan? Bukankah banyak memakan makanan berserat dan menjauhi lemak suatu kebaikan? Bukankah menjauhi dan menghindari melakukan kesalahan suatu kebaikan? Bukankah mengajarkan disiplin kepada anak-anak suatu kebaikan? Memang! Semua yang dilakukan oleh keluarga ini adalah suatu kebaikan. Namun demikian, seperti dalam tulisan saya terdahulu (Judul: Overdosis), segala sesuatu yang overdosis, termasuk kebaikan, dapat berdampak negatif pada seseorang. Suatu saat seseorang akan kelelahan (burn out) oleh kebaikan. Kalau terus dipaksakan, maka seseorang itu akan tidak tahu lagi apa yang harus dikerjakan, mengapa semua yang dilakukannya berimbas negatif kepadanya. Kalau sudah demikian, orang tersebut akan meninggalkan 'kebaikan' atau tetap melakukan 'kebaikan' tanpa menuai keberhasilan yang berarti.

  • Yang perlu disadari oleh orang tua super seperti contoh tersebut di atas adalah bahwa anak-anak itu bukan orang dewasa dalam ukuran mini. Anak-anak memiliki kejiwaan sendiri. Misalnya, anak usia balita hingga 8 tahun masih belum mengenal dikotomi waktu (pembagian waktu dan kegiatan yang berbeda, seperti yang disusun dalam jadwal kegiatan). Orang dewasa dapat menentukan jam sekian memotong rumput di halaman rumah kemudian jam sekian melakukan kegiatan yang sama sekali berbeda, misalnya mengarang naskah drama. Anak-anak tidak dapat berbuat demikian. Coba saja suruh anak 'normal' yang sedang bermain boneka untuk mandi. Anak itu tidak akan dapat berhenti bermain kemudian mandi, dia akan protes. Yang akan dilakukan oleh anak tersebut adalah membawa mainannya ke kamar mandi dan melanjutkan bermain dengan boneka sambil mandi. Kalau kejiwaan anak-anak tersebut dilanggar dan dipaksakan untuk menjadi miniatur orang dewasa, maka sesuatu yang negatif yang tidak dapat diketahui dikhawatirkan akan terjadi di kemudian hari.

  • Demikian pula keinginan melakukan semua kebaikan secara sempurna akan menerima tantangan di kemudian hari. Istri super yang merasa serba tahu tersebut dikhawatirkan akan menerima tantangan entah dari anak-anak atau dari suami bahkan mungkin dari diri sendiri. Akhir dari skenario seseorang yang ingin membangun keluarga super adalah tragedi, yang berkisar antara stres karena kesempurnaan itu tidak ada, hingga berantakan karena putus asa.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Overdosis 2

Biasanya kita menghubungkan istilah overdosis adalah untuk sesuatu yang tidak baik. Namun demikian, overdosis dengan kebaikan pun akan berdampak negatif.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr