Mengajar Anak-Anak untuk Bersyukur

Anak-anak hendaknya diajar untuk mensyukuri segala yang mereka miliki.

3,149 views   |   2 shares
  • "Ayo dihabiskan nasinya, pamali buang-buang makanan, nanti ayamnya mati," kata seorang ibu kepada anaknya yang masih kecil. Kepercayaan ini ditanamkan dalam hati anak-anak supaya mereka menghabiskan makanan di piringnya. Karena sekarang jarang orang memelihara ayam, ancaman itu tidak ada gunanya lagi. Salah-salah anak-anak malah senang berharap akan menikmati ayam goreng. Jadi orang tua zaman sekarang berkata, "Ayo dihabiskan nasinya, anak-anak di Ethiopia banyak yang mati kelaparan, kamu kok buang-buang makanan." Semua ini sebetulnya mendidik anak-anak untuk mensyukuri apa yang mereka miliki dan tidak boros. Apa lagi yang dapat kita ajarkan kepada anak-anak kita supaya mereka mensyukuri apa yang ada?

  • Sifat anak-anak

  • Kebanyakan anak kecil belum tahu menghargai segala yang mereka miliki karena mereka tidak mengerti betapa susahnya orang tua mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kita hendaknya memaklumi hal itu dan berusaha mengajarkan kepada anak-anak kita untuk menghargai apa yang mereka miliki.

  • Tradisi

  • Di AS ada sebuah tradisi yang dilakukan orang-orang pada hari Kamis ke empat di bulan November. Thanksgiving atau Hari Raya Syukuran dirayakan untuk menunjukkan rasa terima kasih atas apa saja yang mereka miliki, rumah, keluarga, kesehatan dan banyak lagi lainnya. Mereka memanggang kalkun atau ham dan memasak sayur-sayur lain untuk melengkapinya. Konon tradisi ini berasal dari para pilgrim atau pendatang baru di benua Amerika Utara yang mendarat dengan kapal Mayflower. Tentu saja tidak cukup mengajar anak-anak setahun sekali untuk bersyukur atas segala yang kita miliki. Mungkin kita dapat membuat tradisi baru dengan memilih satu hari dalam seminggu atau sebulan di mana kita mengadakan kegiatan dalam keluarga kita untuk mensyukuri semua karunia Allah.

  • Amal

  • Kita dapat mengajarkan anak-anak bersyukur dengan mengajak anak-anak melakukan kegiatan amal. Misalnya di hari raya Lebaran atau Natal kita bawa anak-anak ke rumah panti asuhan guna menyumbangkan hadiah-hadiah yang dibutuhkan anak-anak yang kurang beruntung itu. Dengan demikian anak-anak dapat membandingkan kehidupan mereka yang masih di bawah lindungan orang tua. Beritahu anak-anak bahwa di rumah yatim tidak tersedia makanan, mainan serta baju-baju sebanyak yang ada di rumah mereka. Biarkan anak-anak itu menyadari bahwa selain ada orang-orang yang lebih kaya dari mereka, ada pula orang-orang yang lebih miskin dan tidak seberuntung mereka.

  • Teladan

  • Advertisement
  • Ajaran yang paling mujarab ialah dengan cara teladan. Bila anak-anak melihat bagaimana orang tuanya banyak beramal, berhemat dan bersyukur, mereka akan mencamkan ajaran itu dalam hati mereka sampai tua. Teladan lebih berharga daripada seribu kata.

  • Pelajaran keras

  • Seorang ibu bercerita bahwa anak perempuannya merengek meminta baju baru. Katanya bajunya sudah ketinggalan zaman, teman-temannya selalu menertawakan bajunya. Si ibu sendiri baru pulang dari pekerjaannya sebagai perawat di sebuah rumah sakit anak-anak. Dia merasa stres karena melihat banyak pasiennya yang masih kecil berada dalam keadaan gawat. Karena itu dia menanggapi kerewelan anaknya dengan cara drastis. Dia bertanya baju mana yang paling disukai anaknya. Kemudian dia menggandeng anaknya ke mobil sambil membawa baju kesayangan itu. Sesampai di sebuah toko barang bekas dia menyuruh anaknya menyumbangkan bajunya ke toko itu, tidak peduli air mata anaknya bercucuran. Si ibu sendiri menyesal sampai bertahun-tahun kemudian walau sesudah anaknya besar dia berkata bahwa dia memaafkan ibunya yang bertindak terlalu keras.

  • Pengertian

  • Sebagai anak kecil cucu-cucu sering juga meminta ayahnya untuk membelikan mainan lego atau video game baru terutama menjelang hari ulang tahun mereka atau hari Natal. Ayah mereka mengajarkan bahwa bekerja itu membuat badan capai namun dia bersyukur mempunyai pekerjaan sehingga anak-anaknya tidak kekurangan. Karena itu anak-anak tersebut mengerti bahwa diperlukan banyak jam bekerja untuk dapat membeli mainan, itu pun sesudah semua kebutuhan lain terpenuhi. Sekarang kalau meminta sesuatu mereka akan berkata "Kalau ayah punya uang, kalau tidak ada uang untuk membeli mainan itu tidak apa-apa, tidak usah dibeli."

Bantu kami menyebarkan

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through

Situs: https://joojoo.com

Mengajar Anak-Anak untuk Bersyukur

Anak-anak hendaknya diajar untuk mensyukuri segala yang mereka miliki.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr