Hidup Sekeluarga Lain Agama

Hidup damai dalam keluarga yang berlainan agama adalah mungkin asalkan ada kemauan untuk saling menghormati sesama sebagai insan manusia, bukan karena agamanya.

1,507 views   |   1 shares
  • Hidup damai dalam keluarga yang berlainan agama adalah mungkin asalkan ada kemauan untuk saling menghormati sesama sebagai insan manusia, bukan karena agamanya.

  • Bukan tidak mungkin dalam satu keluarga ada berbagai pemeluk agama, misalnya, ayah dan ibu Katolik, salah satu anaknya beragama Kristen Protestan, yang lain mungkin seorang Budis dan seterusnya, terutama kalau anak-anak sudah dewasa dan tidak tinggal serumah lagi.

  • Masalah agama ini kadang-kadang demikian sensitifnya sehingga kita tidak berani membicarakannya, karena takut menyinggung perasaan seseorang. Oleh karena itu kadang-kadang berlaku hukum: "Jangan bertanya, jangan memberitahu" (Don't ask, don't tell) seperti yang berlaku beberapa saat lalu sebelum kaum homo seksual disahkan dalam badan militer di Amerika.

  • Dalam sebuah pertemuan keagamaan, salah seorang mantan Jaksa Agung negara bagian Utah mengatakan bahwa, memang sulit untuk menjalankan perintah untuk saling mengasihi ... "Sebab, kita tinggal bersama mereka yang tidak memiliki kepercayaan dan nilai yang sama … seolah-olah kita tinggal di dunia yang sama tetapi tidak menjadi bagian daripadanya …" (Dallin H. Oaks, "Loving Others and Living With Differences").

  • Menurut beliau, "Suasana paling tepat untuk berlatih menghindari perselisihan dan saling menghormati untuk keberbedaan adalah di dalam keluarga kita dan hubungan keluarga. Perbedaan tidak dapat dihindari — beberapa perbedaan adalah kecil, yang lain sangat besar" (Oaks).

  • Sebagai orang tua, kadang-kadang mendapat kunjungan dari anak-anak dan cucu yang berlainan agama. Bila mereka berperilaku sedikit berbeda atau 'aneh' di mata orang tua, karena dandanan atau pakaian, atau makanan dan minuman, maka kita, sebagai orang tua mulai 'curiga', mungkin itu karena agama mereka. Kita pun tidak menanyakannya lebih lanjut. Saya pikir sebaiknya ditanyakan dan dipahami. Seperti suatu hari saya kedatangan mahasiswi IAIN yang sedang menyusun paper untuk perbandingan agama di kantor saya, dia menanyakan 'pakaian dalam orang Mormon', dan saya menanyakan juga apakah jilbab yang mereka kenakan suatu kewajiban pakai seperti 'pakaian dalam orang Mormon.' Dengan demikian kami masing-masing saling memiliki pemahaman.

  • Cara terbaik untuk hidup berdampingan dalam anggota keluarga yang berlainan agama:

    • Jauhilah perselisihan masalah agama. Namun demikian, menurut Oaks, "kita jangan berkompromi atau melarutkan komitmen kita kepada kebenaran yang kita pahami. Kita jangan sekali-kali mengurangi posisi dan nilai kita." (Oaks)

    • "… mengasihi sesama kita dan menghindari perselisihan … kita harus menjadi teladan peradaban. Kita hendaknya mengasihi semua orang, menjadi pendengar yang baik, dan memperlihatkan rasa prihatin yang tulus untuk kepercayaan mereka. Walaupun kita tidak sepaham, hendaknya tidak memperlihatkannya. Bila sedang membicarakan masalah yang kontroversial, hendaknya tidak dengan semangat perselisihan ... Sebaliknya kita pun meminta lawan bicara kita tidak menyerang kepercayaan agama kita dan kebebasan memeluk agama kita." (Oaks)

    • "Bila kita kalah [dalam diskusi], hendaknya menerimanya dengan lapang dada dan tetap beradab kepada lawan kita. Kepada setiap orang dan dalam setiap peristiwa hendaknya selalu beritikad baik, menghindari segala jenis penganiayaan, termasuk masalah SARA." (Oaks)

    • Berfokuslah pada persaudaraan, bukan pada perbedaan kepercayaan. Yang penting di sini adalah orangnya. Kalau dia adalah saudara kita, maka jangan karena agamanya maka kita menjauhinya. Terlepas betapa 'aneh'nya tata cara yang dilakukan oleh kepercayaannya, jangan kita lantas merasa 'memiliki hak' untuk mengoreksi perilakunya atau sifatnya yang 'aneh' itu. Bahkan seandainya saudara kita itu menganut kepercayaan bahwa hanya melalui pernikahan jamak maka seseorang akan diselamatkan di surga, sikap kita terhadap saudara kita wajib diusahakan untuk tetap sama seperti waktu dia belum menganut kepercayaan semacam itu. Memang hal tersebut tidak gampang. Tetapi, ingatlah bahwa dia, sebagai manusia seutuhnya adalah masih saudara Anda, kepercayaannya itu hanya sebagian dari dirinya. Yang lebih sulit lagi adalah apabila pasangan hidupnya, atau ipar kita adalah pemeluk ekstrim agama yang 'aneh' menurut pandangan kita. Kalau saudara kita mengasihinya, sebaiknya kita juga belajar menunjukkan sikap simpati yang asli (tidak pura-pura) kepadanya.

    • Pembicaraan terbuka tentang kepercayaan masing-masing lebih menarik asalkan tidak dimaksudkan untuk membetulkan 'kesalahan' agama orang lain. Asumsi bahwa semua agama mengajarkan 'kebaikan' yang diterima oleh masyarakat umum harus ditinggalkan, bila ingin saling memahami. Misalnya, asumsi bahwa semua agama mengajarkan mendukung pemerintah dalam menjalankan pemerintahan atau berobat di rumah sakit atau ke dokter bila menderita sakit atau menerima transfusi darah bila mendapati dirinya kehilangan darah dalam jumlah yang banyak, atau menggunakan perangkat modern seperti listrik, telepon, dan lain-lain sejenisnya.

    • Dalam hal kematian: Bila ada salah satu orang tua yang meninggal dari keluarga yang berlainan agama, menentukan tatacara agama kadang-kadang bisa terjadi perang saudara. Keutuhan keluarga jauh lebih penting dibandingkan dengan memaksakan keimanan kita kepada orang lain. Orang tua kita tentu tidak ingin melihat atau mengalami keruntuhan keluarga yang dibangun dengan jerih payah selama puluhan tahun dengan keringat dan kadang-kadang air mata, musnah hanya karena salah seorang anaknya ingin memaksakan agamanya ke dalam keluarga itu.

  • Advertisement
  • Agama menentukan gaya hidup seseorang. Karena simbol-simbol yang setiap pemeluk agama pakai dan gaya hidup yang berbeda, maka cara terbaik adalah memahaminya dan menghormatinya. Menghormati orangnya dan memperlakukan mereka sebagai sesama insan manusia adalah solusi paling baik.

Baca, hidupkan, bagikan!

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Hidup Sekeluarga Lain Agama

Hidup damai dalam keluarga yang berlainan agama adalah mungkin asalkan ada kemauan untuk saling menghormati sesama sebagai insan manusia, bukan karena agamanya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr