Membesarkan Remaja Dewasa dalam Dunia yang Melaju dengan Kecepatan Gigabyte

Meskipun kita pernah sukses membesarkan anak-anak kita sebelumnya, kita masih tetap harus belajar hal baru.

1,083 views   |   shares
  • Menjadi orang tua anak-anak kita yang beranjak dewasa adalah suatu tantangan. Kita tidak dapat lagi mengikuti cara mendidik tradisional peninggalan orang tua kita, meskipun mungkin kita lahir di tahun 70-an, sebab kemajuan dan perubahan teknologi, ekonomi, cara berpikir dan tata masyarakat serta etika sudah melangkah meninggalkan kita.

  • Bayangkan saja, waktu saya membesarkan anak-anak remaja saya (tahun 70-an) dulu, TV berwarna baru mulai dikembangkan. Kemudian saya berkenalan dengan mesin faksimili di kantor, dan tak lama kemudian, komputer generasi pertama muncul, dan tak lama kemudian anak-anak saya justru mulai mengajari saya berkomunikasi lewat surat elektronik (e-mail) dan dilanjutkan dengan chatting (ngerumpi tertulis lewat internet), lantas semuanya berlangsung demikian cepatnya, sehingga tahu-tahu dengan rendah hati saya harus belajar lagi.

  • Ada beberapa hal yang paling ditakuti orang tua pada umumnya adalah:

    • Anak-anak tidak berhasil menyelesaikan sekolah mereka

    • Anak-anak terlibat dalam petualangan minuman beralkohol, merokok dan narkoba

    • Anak-anak lelaki menghamili anak orang lain dan terpaksa menikah di bawah umur

    • Anak-anak perempuan hamil di bawah umur

    • Anak-anak terlibat melakukan kejahatan

  • Anak-anak yang tak begitu lama masih kita gantikan popoknya, setiap hari hidup penuh tawa dan riang, yang masih kita tuntun waktu menyeberangi jalan, dan sangat manis dan penurut sekarang telah menjadi 'orang lain' bahkan ada yang menjadi seperti anak dari planet lain sehingga kita mengira mungkin yang kita bawa pulang dari rumah bersalin dulu bukan anak kita.

  • Di samping tubuhnya yang tumbuh dengan mengejutkan, seolah-olah ada DNA dinosaurus tercampur di dalam darahnya, dia tumbuh seperti raksasa, lebih tinggi dari bapaknya dan dapat menenteng ibunya dengan sebelah tangan, wataknya pun ikut berubah.

  • Kalau dia adalah anak perempuan kita, maka sekarang suka uring-uringan. Dia mulai menaruh perhatian kepada lemak yang membanjiri kulit wajahnya dan jerawatnya daripada pelajaran di sekolah dan orang tuanya. Telinganya lebih banyak menempel di telepon atau kalau sekarang, perhatiannya lebih besar kepada pesan tertulis di telepon pintarnya daripada lingkungan keluarganya.

  • Mereka sudah tidak lagi percaya kepada Santa demikian juga kepada Anda sebagai orang tua mereka. Belum lagi kalau kita beritahu tentang 'kebijaksanaan' kita mereka selalu menentangnya, membantah atau paling sedikit memiliki argumentasi. Jangan coba-coba membungkamnya seperti menyuruhnya pergi ke kamar tidurnya atau … maka dia akan benar-benar meninggalkan Anda dan membuat Anda benar-benar hidup dalam 'neraka' setelahnya.

  • Advertisement
  • Beberapa hal berikut adalah sebagian kecil permasalahan yang dihadapi orangtua yang membesarkan remaja dewasa mereka di zaman yang melaju dengan kecepatan gigabyte.

  • Penampilan dan pakaian

  • Penampilan dan pakaian menjadi perhatian utama bagi kaum remaja. "Apa kata teman saya tentang penampilan dan pakaian saya? Bagaimana penampilan dan pakaian normal remaja seusia saya?" adalah pertanyaan yang muncul dalam hati mereka. Penampilan tersebut termasuk adanya perangkat keras dan lunak telepon pintar mereka.

  • Bukan saja mereka akan meminta Anda untuk membelikan perangkat keras dan lunak yang memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga Anda harus belajar sehingga tahu cara menggunakannya, karena di samping kebaikan juga kadang-kadang menciptakan masalah. Misalnya, dalam contoh tragis tentang gadis (Rebecca Sedwick, Florida) yang bunuh diri karena selalu diusik oleh penggertak (bully) seusianya lewat internet.

  • Jadi, sebagai orang tua kita paling sedikit harus tahu cara membicarakan hal-hal seperti menggunakan telepon pintar dengan anak remaja kita. Jangan segan-segan belajar dari mereka. Ini adalah dunia mereka.

  • Semua temannya ada dalam telepon pintarnya dan laptopnya. Jangan sekali-kali mencoba mengintip ke dalamnya, mereka lebih pintar dari Anda dalam melindungi perangkat elektronik mereka, dan jangan-jangan justru mereka yang akan masuk ke dalam jaringan telepon pintar Anda dan komputer Anda.

  • Demikian pula dengan pakaian yang mereka kenakan. Dulu, di tahun 60-an, celana ketat atau cutbray jean adalah model yang digemari dan sudah membuat orang tua kita pusing kepala. Sekarang, mereka mungkin akan mengenakan busana dari yang pantas dikenakan oleh gembel yang tidak sanggup membeli pakaian hingga mengenakan pakaian seperti dongeng 'Raja yang Gemar Pakaian Baru' (alias hampir telanjang).

  • Mereka bertingkah seperti itu bukan karena memperlihatkan pemberontakan (karena benci atau balas dendam), tetapi karena senang diperhatikan. Ingatlah bahwa mereka baru saja kehilangan perhatian yang mereka nikmati lebih dari sepuluh tahun, yang tiba-tiba saja hilang, mungkin karena orang tua 'kaget' melihat anak yang manis itu telah berubah, atau mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi untuk seorang 'dewasa' tersebut. Anak-anak remaja kita berusaha memindahkan perhatian dari orang tua ke kelompoknya atau lingkungan barunya. Identitas kelompok mereka ada pada penampilan dan busana. Hal itu sama seperti pakaian seragam dalam pekerjaan. Di samping 'pakaian seragam', mereka juga memiliki 'budaya' leburan mereka sendiri yang mungkin nampak 'aneh' di mata orang dewasa.

  • Advertisement
  • Belajar untuk gagal

  • Ini adalah 'budaya' baru yang mereka pelajari: belajar untuk gagal. Jangan kaget untuk itu. Tetapi juga jangan dibiarkan. Semoga masih ada sepercik saling mempercayai agar Anda dapat membicarakannya.

  • Orang tua yang paranoid anaknya akan gagal, justru mendorong anak mereka belajar untuk gagal. Orang tua semacam ini menganggap kegagalan seperti penyakit menular, harus dijauhi. Mereka tidak pernah mengira bahwa anak remaja mereka sudah dapat berpikir secara logis, dan menyadari betapa pun kerasnya usaha mereka, kegagalan mungkin masih akan terjadi.

  • Jadi sebelum gagal, mereka mengambil sikap kalau mereka sudah gagal, maka mereka tidak dapat lebih gagal lagi. Di samping itu, mereka sekarang juga sudah memiliki kelompok sebayanya dan ingin mendapatkan pengakuan dari mereka. Di antara teman-temannya tentu ada kelompok pecundang dan pemberontak karena dibesarkan oleh orang tua yang sama paranoidnya. Oleh karena itu, mereka belajar bagaimana menjadi gagal untuk mendukung teman-teman atau kelompok mereka yang pecundang itu. Proses pembauran tersebut akan berlangsung terus menerus dalam hidup anak-anak remaja kita, sampai mereka menemukan jati dirinya.

  • Jadi, kalau mereka tidak mendapatkan 'pengakuan' dari keluarganya, maka mereka akan mencari 'pengakuan' dari kelompok sebaya mereka. Dalam dunia yang bergerak cepat seperti yang kita alami sekarang, bahayanya makin dipercepat juga. Bayangkan saja komunikasi antar teman dapat berlangsung bukan dalam waktu hari, tetapi menit bahkan detik. Suatu peristiwa yang terjadi puluhan bahkan ratusan kilometer dapat ditangkap dalam waktu detik. Kalau teman mereka ada yang dikeroyok oleh kelompok lain dalam perkelahian dan terjadi puluhan kilometer maka tidak dibutuhkan berhari-hari untuk membalas. Dalam ukuran menit atau jam, mungkin semua anak remaja ini telah berkumpul untuk melakukan pembalasan.

  • Pesta, alkohol, narkoba dan seks

  • Tubuh anak remaja dewasa ini bukan lagi tubuh anak-anak. Dengan makin dewasa tubuhnya, maka dorongan-dorongan tertentu juga ikut bermunculan, kalau tak terkendali, akan merusak atau paling sedikit mengganggu masa depan mereka.

  • Mereka ingin menirukan seseorang yang berhasil (sebelum mereka berhasil menemukan jati dirinya, mereka akan terus menerus mengambil peran (role taking) orang lain terutama yang menjadi idola mereka), dan menurut mereka orang yang berhasil tersebut seperti yang mereka lihat di layar TV atau perak atau dibicarakan oleh teman-teman adalah pesta, alkohol, narkoba dan seks. Sekarang mereka telah sanggup melakukan semuanya, apalagi didukung oleh ekonomi orang tua yang makin baik dan kesempatan, ditambah lagi dengan kemajuan teknologi serba cepat, telepon pintar, mobil, dan entah apa lagi, maka kemungkinan mereka akan terlibat ke dalam dunia 'gemerlapan' ala remaja ini tak dapat dihindari.

  • Advertisement
  • Solusi

  • Anda tidak akan dapat berbuat banyak untuk menghindarinya kecuali mengajar anak-anak bertanggung jawab atas keputusan yang mereka ambil. Anda tidak mungkin menjadi body guard anak Anda ke mana pun dia pergi. Anda pun tidak mungkin mengintai setiap perbuatannya. Betapa pun bijak wejangan Anda juga tidak akan meresap ke dalam pikirannya. Jadi, sebaiknya, ajarilah bahwa orang dewasa dan kemampuannya bertindak sebagai orang dewasa itu memiliki tanggung jawab atas risiko yang diambil dari keputusan baik atau buruknya.

Bagikan hasil Anda kepada teman..

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Membesarkan Remaja Dewasa dalam Dunia yang Melaju dengan Kecepatan Gigabyte

Meskipun kita pernah sukses membesarkan anak-anak kita sebelumnya, kita masih tetap harus belajar hal baru.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr