Merangkul Perbedaan

Manusia sering kali sulit menerima sesuatu yang berbeda, entah itu perbedaan secara jasmani atau perbedaan pendapat. Perbedaan-perbedaan seperti inilah yang sering mengakibatkan penggertakan atau bahkan perundungan.

1,013 views   |   1 shares
  • Manusia sering kali sulit menerima sesuatu yang berbeda, entah itu perbedaan secara jasmani atau perbedaan pendapat. Perbedaan-perbedaan seperti inilah yang sering mengakibatkan penggertakan atau bahkan perundungan. Bagaimana kita dapat menerima perbedaan-perbedaan yang kita temui dalam hidup ini sehingga tidak timbul kekerasan yang tidak kita inginkan?

  • Di sekolah

  • Anak-anak, baik anak kecil maupun remaja, senang membentuk kelompok. Kelompok itu terbentuk biasanya karena adanya persamaan. Misalnya saja perbedaan dalam hal kepandaian, kekayaan, tampang keren, dan lain-lain. Murid baru sulit dapat masuk ke kelompok yang ada kalau tidak memiliki persamaan tersebut. Anggota-anggota kelompok merasa kuat bila bersama-sama. Tidak jarang mereka bersikap memusuhi atau melecehkan murid lain yang mereka anggap berbeda dari mereka. Guru dan orang tua hendaknya mengajarkan bahwa semua orang tidak diciptakan sama, ada yang kurus ada yang gemuk, ada yang pendek ada yang jangkung, ada yang pandai ada yang lucu. Karena itulah hidup ini tidak membosankan dan kita hendaknya merangkul perbedaan-perbedaan itu. Bahkan yang kuat seharusnya membela yang lemah dan bukan melecehkannya.

  • Di tempat kerja

  • Walau bukan lagi anak remaja, orang-orang dewasa kadang-kadang melakukan pelecehan yang sama terhadap teman sekerjanya. Mereka membentuk kelompok karena terdiri dari suku yang sama. Mereka berbicara dengan dialek yang tidak dimengerti rekan-rekan yang lain, walaupun ketika mulai masuk kerja sudah ada penyuluhan dan pelatihan untuk selalu memakai bahasa nasional sehingga tidak menimbulkan prasangka. Klik mereka tidak memberikan kesempatan kepada orang dari suku lain untuk masuk dalam kelompok mereka.

  • Di keluarga

  • Anggota keluarga juga memiliki perbedaan masing-masing. Usia anak-anak yang mungkin berbeda jauh. Orang tua yang mungkin dibesarkan menurut agama yang berbeda. Semua perbedaan ini harus dimengerti dan diatasi supaya terbentuk rumah tangga yang bahagia. Seorang wanita mengeluh kepada pemimpin rohaninya tentang suaminya yang tidak mau mengikuti aliran agamanya. Dia sudah menikah 12 tahun dan suaminya selalu mengantar dia pergi beribadah. Dia bertanya apakah dia kurang sabar menunggu selama itu. Jawab si pemimpin rohani, dia harus bersikap lebih baik lagi terhadap suaminya. Dengan teladan kesabaran dan kebaikannya, hati suaminya pasti luluh. Si istri mengikuti nasihat tersebut dan benar saja tidak lama kemudian si suami secara resmi mengikuti agamanya, bahkan menjadi aktif dalam banyak kegiatan.

  • Advertisement
  • Di bidang politik

  • Mungkin Anda pernah berpikir bahwa bila hanya ada satu partai di sebuah negara maka negara itu akan aman, tidak ada gontok-gontokan antar partai. Tetapi sesungguhnya diperlukan paling sedikit dua partai seperti di AS untuk membangun negara. Karena bila partai yang satu melakukan kesalahan, maka partai lawannya akan mengecam sehingga partai yang salah harus memperbaiki kesalahan itu. Saling mengoreksi di antara keduanya supaya masing-masing tidak bertindak seenak perutnya sendiri. Perbedaan pendapat pasti timbul tetapi perbedaan itu diselesaikan secara baik-baik. Masing-masing menghormati partai lawannya dan mereka mengikuti aturan main sehingga negara maju.

  • Dalam olah raga

  • Setiap olah raga mempunyai peraturan sendiri dan biasanya ada wasit yang memimpin pertandingan untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan pendapat para pemain. Misalnya saja pertandingan sepak bola di mana ada 22 pemain berlari-lari memperebutkan satu bola di sebuah lapangan luas, wasit harus bekerja keras untuk melihat siapa yang melanggar peraturan.

  • Selain memberi teladan baik seperti contoh wanita di atas yang bersabar menunggu suaminya mengikuti agamanya, kita hendaknya melapangkan dada untuk menerima perbedaan-perbedaan yang ada di dunia ini, baik dalam hal politik, agama, suku, ras maupun keuangan. Hidup ini akan lebih damai bila kita mau merangkul perbedaan, bukannya berprasangka dan merundung. Semua itu dapat dimulai dalam keluarga, bila dijalankan dan diajarkan kepada anak-anak akan mencegah timbulnya penggertakan di sekolah dan di masyarakat. Orang tua dapat mengambil peran seperti wasit dalam pertandingan olah raga untuk menyelesaikan perbedaan pendapat.

  • Sumber: "Loving others and living with differences," karya Dallin H. Oaks.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through

Situs: https://joojoo.com

Merangkul Perbedaan

Manusia sering kali sulit menerima sesuatu yang berbeda, entah itu perbedaan secara jasmani atau perbedaan pendapat. Perbedaan-perbedaan seperti inilah yang sering mengakibatkan penggertakan atau bahkan perundungan.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr