Ke Arah Mana Kita Menghadap?

Kita sering merasa perlu menyenangkan orang lain untuk menjadi populer atau supaya disukai orang banyak dengan melakukan sesuatu yang salah.

705 views   |   shares
  • Kita sering merasa perlu menyenangkan orang lain untuk menjadi populer atau supaya disukai orang banyak dengan melakukan sesuatu yang salah. Baik sejak kita masih remaja dan merasakan tekanan sosial di antara teman-teman sebaya di sekolah, maupun sesudah kita dewasa dan harus menjaga citra diri kita di antara rekan sekerja atau relasi bisnis. Ketika melakukan hal itu kadang-kadang kita lupa bahwa kita berpaling ke arah yang salah. Kita perlu mengajukan pertanyaan ini kepada diri kita "Ke arah mana saya menghadap?" Mengapa kita tahu bahwa sesuatu itu salah tetapi kita masih memilih menghadap ke arah yang salah dalam kehidupan ini?

  • Tekanan sosial

  • Ada kalanya kita menyerah kepada keinginan orang banyak karena tidak ingin kehilangan popularitas. Contohnya semasa remaja, kita tahu bahwa merokok adalah berbahaya, tetapi karena desakan teman-teman sebaya yang mengatakan bahwa merokok itu keren, kita mengalah dan mencoba satu kali saja yang pada akhirnya membuat kita kecanduan. Tekanan sosial tidak saja terjadi pada remaja, tetapi juga pada orang dewasa. Merasa dirinya tidak keren kalau tidak ikut minum-minum di bar, seseorang dapat menjadi peminum berat.

  • Keserakahan

  • Sesudah kita dewasa dan berkecimpung di dunia bisnis kita masih suka menghadap ke arah yang salah akibat keserakahan kita. Contohnya ratu rumah tangga Martha Stewart yang masuk penjara 5 bulan gara-gara melakukan insider trading di bidang saham. Ketika mendapat info dari orang dalam bahwa sebuah saham akan jatuh, dia buru-buru menjual saham itu. Mungkin Anda berpikir "Apa salahnya, kan saham itu milik dia, mengapa dia tidak boleh menjualnya?" Menurut peraturan pemerintah AS, dia bersalah menjual saham yang dia tahu akan jatuh. Walau dia sadar itu dilarang, tetapi dia memilih menghadap ke arah yang salah. Waktu itu dia sendiri sudah kaya raya, dia mempunyai tayangan di TV, produk-produk rumah tangganya terkenal dan dijual di beberapa toserba besar, namun dia masih takut menghadapi kerugian di bidang saham.

  • Ketenaran

  • Kita berpikir bahwa menjadi selebriti itu enak, terkenal, banyak duit, di puja-puja orang banyak. Kenyataannya, banyak efek sampingan yang buruk dari ketenaran itu. Mereka kehilangan privasi, ke mana-mana dikejar-kejar paparazi, kehidupan pribadinya sering berantakan karena gosip. Semua itu sering mendatangkan tekanan batin, di tengah-tengah kepopuleran namanya, mereka merasa kesepian. Mereka berusaha melarikan diri dari semua itu dengan memakai heroin atau minum minuman keras. Mereka tahu hal-hal itu berbahaya dan dapat merusak badan serta kesehatan, bahkan bisa berakibat fatal, tetapi mereka memilih menghadap ke arah yang salah. Akibatnya kita mendengar berita buruk tentang kematian artis gara-gara overdosis.

  • Advertisement
  • Kesombongan

  • Banyak yang mengira bahwa mereka akan lolos walaupun melakukan suatu kesalahan. Karena itu mereka tidak peduli bahwa mereka menghadap ke arah yang salah. Contohnya, Robert Downey Jr, bintang Iron Man, pada tahun 1999 dia masuk penjara selama setahun gara-gara ketahuan memiliki heroin. Tidak sedikit bintang tenar Hollywood yang mengenakan seragam penjara akibat melanggar hukum. Bahkan Paris Hilton, anak pemilik hotel Hilton yang kaya raya itu juga pernah mendekam di balik terali besi setelah tertangkap ketika mengendarai mobil selagi SIM-nya dibekukan. Mereka itu mungkin tidak mengira bahwa ketenaran dan uang tidak dapat mencegah aparat negara untuk menjebloskan mereka ke penjara.

  • Bagaimana menghindarinya?

  • Melarang diri kita untuk menghadap ke arah yang salah membutuhkan kemampuan mengendalikan diri yang sangat besar. Kita perlu memiliki motivasi yang kuat. Motivasi itu dapat berupa agama, ajaran orang tua, cinta terhadap keluarga dan harga diri atau martabat. Kepercayaan kita terhadap Tuhan membuat kita enggan melanggar hukum-Nya. Kita tidak ingin membuat malu orang tua kita yang telah mendidik kita dengan baik ketika kita menghadapi pilihan untuk berbuat benar atau salah. Cinta kita terhadap keluarga juga menjadikan kita berpikir lebih jauh sebelum melakukan sesuatu yang buruk. Begitu pula harga diri kita tidak ingin kita rendahkan demi menyenangkan orang lain dan memilih menghadap ke arah yang salah.

  • (Sumber: Which Way Do You Face? Lynn G. Robbins)

Bagikan pada teman dan keluarga..

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through

Situs: https://joojoo.com

Ke Arah Mana Kita Menghadap?

Kita sering merasa perlu menyenangkan orang lain untuk menjadi populer atau supaya disukai orang banyak dengan melakukan sesuatu yang salah.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr