Sikap Menghadapi Krisis

Kita tidak mungkin menghindari krisis. Krisis akan terjadi dalam hidup kita dengan atau tanpa peringatan sebelumnya, dan akan terjadi oleh karena kesalahan kita maupun keadaan, tetapi dengan sikap yang tepat, maka kita akan keluar sebagai pemenang.

1,684 views   |   shares
  • Setiap orang hidup pasti akan mengalami krisis. Krisis tersebut ada yang sangat parah dan berlangsung lama dan ada yang pendek. Untuk menghadapinya, sikap kita terhadap krisis adalah sangat penting agar Anda lebih tabah dan teguh serta mampu bangkit kembali untuk melanjutkan hidup Anda.

  • Meskipun yang saya gunakan sebagai rujukan di sini adalah kesulitan ekonomi yang pernah dialami Meksiko di tahun 1982-3, saya kira reaksi menghadapi krisis ekonomi tersebut masih relevan dengan tulisan ini. Menurut para ilmuwan (John Makin, The Global Debt Crisis, America's Growing Involvement, 225-245) yang mempelajari krisis ini mengatakan bahwa ada 4 tingkatan yang harus dilalui sebelum keadaan berubah. Berubah jadi baik, atau makin buruk.

    • Tingkat pertama adalah penolakan atau penyangkalan. Biasanya kita akan mengatakan bahwa kita masih baik atau perasaan kita masih mati karena adrenalin yang mengalir dengan deras dalam tubuh kita. Misalnya, masih belum merasakan sakitnya luka-luka yang timbul dalam suatu kecelakaan.

    • Tingkat kedua adalah panik. Pada waktu adrenalin kita mulai surut, maka kepanikan muncul. Misalnya, dalam kecelakaan, luka-luka yang terbuka mulai terasa sakit.

    • Tingkat ketiga adalah konfrontasi. Kita mungkin mulai memerangi penyebab krisis ini. Ada beberapa orang yang segera mengambil keputusan yang dilematis atau drastis, yang kemungkinan besar akan disesali di kemudian hari. Misalnya, waktu menghadapi krisis keuangan maka kita mulai berhutang dengan harapan segera mendapatkan pekerjaan sehingga dapat membayar kembali hutang kita.

    • Tingkat keempat adalah pasrah. Bila ternyata masalahnya tidak segera berakhir, maka kita mulai menerima kenyataan dan menyesuaikan hidup kita dengan kenyataan.

  • Tingkatan menghadapi krisis tersebut akan dialami oleh setiap orang. Tetapi begitu reaksi alami tersebut telah dilewati, maka sikap berikut ini hendaknya menggantikan kekosongan yang ditinggalkan oleh perasaan pasrah karena keadaan yang demikian membingungkan tersebut.

  • Kalau Friedrich Nietzsche pernah mengatakan 'segala sesuatu yang tidak membunuh Anda akan memperkuat Anda'(http://www.brainyquote.com/quotes/quotes/f/friedrichn101616.html), maka saya berkata, 'saya bukan seorang korban, tetapi pemecah masalah' bila menghadapi krisis hidup. Dengan demikian, saya masih mengakui dan menerima bahwa saya memang memiliki masalah, tetapi saya adalah orang yang akan memecahkan masalah tersebut, bukan orang lain. Dengan demikian, saya tidak menanti orang lain mengerjakannya buat saya, tetapi saya akan mengatasinya sendirian bila perlu. Lagi pula bukankah memang kodrat manusia untuk hidup berdampingan dengan masalah?

  • Advertisement
  • Teman saya yang membuat saya bangga adalah teman sekelas di SMU. Kami dulu sama-sama berboncengan sepeda ke sekolah. Dia adalah anak jalanan. Orang tuanya demikian miskin, sehingga sejak kecil anak ini selalu mencari jalan hidup sendiri. Sewaktu di SMU dulu dia berjualan koran di tepi jalan. Sekolah di zaman itu masih murah, jangan dibandingkan dengan sekarang.

  • Setelah lulus SMU, kami sama-sama kuliah di IKIP Malang. Saya DO di tengah jalan, dia tetap kuliah. Perjalanan kuliahnya tidak pernah mulus, karena dia harus bekerja sambil kuliah. Kadang-kadang tempat kerjanya tidak mengizinkannya untuk kuliah sehingga sering di DO oleh kampus, karena di zaman itu sistemnya adalah sistem paket. Gagal di satu mata kuliah berarti harus mengulang seluruhnya. Kuliah yang seharusnya diselesaikan 5 tahun ditempuhnya selama 14 tahun.

  • Terakhir bertemu dengan saya, dia menjadi guru bahasa Inggris, wakil kepala sekolah dan sekarang pensiun dan hidup bahagia dengan istri dan anak-anaknya yang tidak bernasib seperti dia. Semua anaknya dibesarkan di rumah dan memiliki gelar sarjana.

  • Di sini kita menyaksikan seseorang yang tidak memiliki nasib baik, kegagalan demi kegagalan menghantuinya, tetapi dia selalu menganggap dirinya bukan korban yang lemah, dia adalah pemecah masalah. Daripada menangisi nasibnya yang tidak baik, dia memusatkan perhatian dan tenaganya kepada tujuan hidupnya: menyelesaikan kuliah dan mendapatkan gelar sarjana. Dengan menyisihkan semua urusan lain yang tidak akan menolongnya berhasil, maka dia seperti pemanah yang memiliki sasaran. Dengan demikian, tiada sesuatu pun yang akan sanggup mengalahkannya kecuali dia sendiri.

  • Yang ingin saya katakan adalah bahwa kita tidak mungkin menghindari masalah, tetapi dengan sikap yang tepat, maka kita akan keluar sebagai pemenang.

Luangkan waktu sejenak dan bagikan!

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Sikap Menghadapi Krisis

Kita tidak mungkin menghindari krisis. Krisis akan terjadi dalam hidup kita dengan atau tanpa peringatan sebelumnya, dan akan terjadi oleh karena kesalahan kita maupun keadaan, tetapi dengan sikap yang tepat, maka kita akan keluar sebagai pemenang.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr