Hati yang Murni

Ini bukan agama juga bukan permainan kata-kata. Artikel ini mencoba menggugah pikiran Anda bahwa segala sesuatu yang dilakukan dalam sebuah keluarga hendaknya dilandasi oleh hati yang murni.

3,604 views   |   1 shares
  • Dalam acara Discovery Channel ada tayangan yang berjudul "True Heroes" (2008). Kisah-kisah nyata yang diangkat di situ adalah orang-orang yang menolong sesamanya tanpa memikirkan risiko bagi diri mereka sendiri.

  • Salah satunya mengisahkan tentang seorang bapak seperti kebanyakan orang. Katakan namanya adalah James. Dia memiliki keluarga dan pekerjaannya biasa. Suatu hari, ketika sedang melintas di sebuah jembatan, dia melihat di depannya ada mobil yang selip dan mencebur ke dalam sungai. Mobil itu ditumpangi oleh ayah dan ibu serta dua orang anaknya. Ayah dan ibu serta seorang anaknya berhasil keluar dari mobil. Anak mereka yang berusia 5 tahun terperangkap di dalam mobil yang tenggelam dan terbawa arus.

  • Orang-orang yang sedang memancing di sungai itu segera memberikan bantuan, tetapi, karena arus bawah sungai yang deras, mereka tidak dapat menyelam hingga ke dasar sungai karena selalu terdorong mental ke permukaan sungai.

  • James menyadari bahwa lebih dari 5 menit, maka anak yang tidak dikenalnya sama sekali itu akan binasa. Paramedis yang dipanggil sedang dalam perjalanan. Menanti mereka akan terlambat.

  • Semasa mudanya James ini memang memiliki pengalaman sebagai penyelam. Oleh karena itu, dia tahu bagaimana memanfaatkan arus dan sebagainya. Setelah beberapa kali usaha, maka berhasillah James menyelamatkan anak usia 5 tahun itu. Dia dianugerahi bintang jasa karena perbuatan yang gagah tersebut.

  • Dalam kisah-kisah "True Heroes" tersebut, pertolongan selalu dilakukan oleh orang biasa yang melakukan perbuatan luar biasa. Mereka selalu tidak memikirkan risiko dirinya sendiri. Tujuan mereka menyelamatkan sesamanya itu MURNI, bukan untuk mendapatkan bintang jasa. Setelah menyelamatkan orang lain, mereka masih tetap warga biasa, mereka tidak pernah diperlakukan istimewa dan juga tidak meminta untuk diperlakukan demikian.

  • Ketulusan yang keluar dari hati yang murni tanpa dikotori oleh berbagai ambisi sering diterapkan dalam usaha membangun kota-kota atau masyarakat utopia. Namun demikian kita sering mendengar, membaca, atau menyaksikan usaha-usaha tersebut dan yang sejenisnya, kebanyakan berakhir dengan kegagalan. Kalau kita memeriksanya, maka sering solusinya adalah sederhana, para pendirinya, atau anggotanya tidak memiliki satu bahan yang sangat penting, yaitu 'hati yang murni'. Mungkin pada awal usaha mereka ada sepercik 'hati yang murni' tersebut, tetapi dalam perjalanannya, seringkali dikotori oleh berbagai agenda tersembunyi.

  • Advertisement
  • Namun demikian 'hati yang murni' tersebut bukan sekadar permainan kata, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga kita.

  • Kata "murni" itu sendiri artinya 'tidak dicampuri'. Kalau kita ingin merasakan jus apel, misalnya, jangan ditambahi dengan jus jeruk atau pun gula, sehingga kita dapat tahu betul bagaimana rasanya jus apel itu. Demikian pula dalam hal ingin membantu, misalnya, jangan dicampuri oleh hasrat ingin mendapat pujian atau yang lainnya.

  • Di dalam keluarga, terhadap sesama anggota keluarga, hendaknya selalu mempraktikan hati yang murni tersebut. Sewaktu anak-anak masih kecil ayah dan ibu hendaknya selalu rela mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan hartanya untuk memajukan kehidupan anak-anaknya. Kalau murni tujuannya, maka semua keuntungan adalah untuk anak-anaknya. Misalnya, bila tabungan Anda sebagai orangtua adalah untuk membeli TV 50" tetapi pada saat yang sama anak-anak membutuhkan uang pangkal sekolah yang mahal, maka Anda rela 'kehilangan' TV 50" agar anak-anak Anda dapat melanjutkan sekolah mereka dengan tenang.

  • Orang tua melahirkan anak-anak, namun mereka bukan 'benda milik' orang tua. Orang tua memiliki kewajiban untuk mempersiapkan anak-anak mereka menghadapi hidup dewasa mereka, sehingga mereka dapat hidup bahagia. Setelah mereka dewasa, maka perlahan-lahan mereka harus didorong memasuki masyarakat luas dan berjuang mencapai hasrat, mimpi, dan ambisi mereka. Perlahan-lahan, orang tua mengundurkan diri ke belakang anak-anak mereka dan mendukung keputusan yang mereka ambil.

  • Bila kedua orang tua atau salah satu orang tua terlalu banyak ikut campur dalam urusan anak, disamping tidak baik untuk perkembangan jiwa anak itu sendiri, juga akan mendorong anak menjauhi orang tuanya dan yang ekstrim mungkin melupakan orang tua mereka sama sekali. Saya memahami bahwa dasar orang tua ikut campur dalam urusan anak adalah karena khawatir akan masa depan anaknya, dan kalau disertai oleh perasaan serba tahu, dan porsi ikut campurnya terlalu besar, justru akan merugikan kedua belah pihak.

  • Misalnya dalam kisah nyata berikut ini: Suatu hari Bank of China di mana Anak tersebut bekerja ditutup. Semua pegawai yang berprestasi akan direlokasi ke Hong Kong. Salah seorang pegawainya adalah anak itu. Karena dia adalah anak tunggal maka ibunya yang sudah tua merasa khawatir, dan 'mencegah'nya untuk pergi, dengan alasan "Kalau suatu hari saya mati, siapa yang akan merawat saya". Karena dia seorang anak yang baik maka dia membiarkan ibunya mengambil keputusan untuknya. Akhirnya, anak tersebut terperangkap dalam lingkaran kemiskinan dan stres berat, akhirnya meninggal dunia dalam usia relatif muda.

  • Advertisement
  • Kalau anak-anak sudah dewasa, dan mereka meninggalkan orang tua mereka, hidup bersama keluarga mereka, jangan ikut campur lagi. Orang tua yang merasa serba tahu merah dan hitamnya kehidupan ini mungkin terlalu bersemangat memberi wejangan kepada anaknya yang akan atau sudah berkeluarga sehingga mengganggu.

  • Misalnya dalam kisah nyata berikut ini: Ada seorang ibu yang tinggal bersama anak perempuannya yang sudah berkeluarga merasa tidak suka dengan perilaku menantu lelakinya. Dia mengeritik perilaku menantunya di depan anak perempuannya setiap hari, sehingga pikiran negatif tersebut merasuk ke dalam pikirannya dan hampir saja memutuskan untuk menceraikan suaminya. Akhirnya, ibu dan anak tersebut diputuskan untuk hidup terpisah, dan tenteramlah hidup keluarga anaknya hingga di hari tua.

  • Hati murni juga wajib ada dalam pasangan suami isteri. Adalah menjadi kewajiban masing-masing pasangan untuk mendukung ambisi dan mimpi pasangannya. Tidak boleh ada seorang pun yang menjadi tuan atas pasangan hidupnya dan membatasi segala keinginan dan kegiatannya. Bila seseorang merasa kuatir dengan keputusan yang diambil pasangannya, sebaiknya berunding untuk itu dan mengambil keputusan bersama. Tentu saja harus ada tawar menawar. Namun setelah keputusan diambil, maka apa pun keputusan tersebut, harus didukung bersama.

  • Di dalam keluarga besar (extended family) juga harus ada hati yang murni, sehingga semua anggota keluarganya rela untuk saling berkorban untuk kemakmuran bersama. Kepunyaan satu anggota keluarga adalah kepunyaan bersama keluarga itu. Tentunya masih ada aturan-aturan sederhana di dalamnya, sehingga ada keteraturan. Misalnya, sepeda kakek boleh dipakai oleh cucunya asalkan kembali pada pukul sekian.

  • Setelah dewasa, hubungan anggota keluarga harus tetap saling membantu. Sebisanya tidak ada yang merasa disisihkan karena faktor ekonomi atau jenis pekerjaannya. Di dalam keluarga tentu ada satu atau dua anggota keluarga yang tidak berhasil secara ekonomi. Yang berhasil hendaknya paling sedikit tidak memandang rendah yang tidak berhasil. Saya tidak mengatakan yang kaya harus dimiskinkan atau sebaliknya, sehingga sama. Tetapi, paling sedikit bila berkumpul bersama keluarga sendiri, dia tidak merasa bahwa kegagalan ekonominya di masyarakat membuatnya rendah diri. Ingatlah sewaktu masih sama-sama kecil, anak-anak itu tumbuh dengan bahagia dan sederhana, demikian pula sewaktu mereka dewasa, mereka harus tetap merasakan kebahagiaan dan masalahnya sederhana bila sedang berkumpul dengan keluarga.

  • Advertisement
Bagikan pada teman dan keluarga..

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Hati yang Murni

Ini bukan agama juga bukan permainan kata-kata. Artikel ini mencoba menggugah pikiran Anda bahwa segala sesuatu yang dilakukan dalam sebuah keluarga hendaknya dilandasi oleh hati yang murni.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr