Aturan Sederhana Ketika Marah terhadap Pasangan

Jadi bolehkah marah? Sebaiknya tidak. Tetapi kalau seandainya Anda masih seperti saya yang masih dalam proses belajar untuk tidak marah dan harus marah, maka semoga beberapa tips ini sedikit membantu.

39,946 views   |   57 shares
  • Entah karena penampilan saya atau kesan yang mereka tangkap, saya sering sekali menjadi tempat teman-teman saya untuk bercerita. Saya tidak selalu menjadi pendengar yang memiliki tanggapan, terkadang saya hanya menjadi benar-benar pendengar. Tapi tidak jarang bahan cerita mereka menjadi perenungan saya. Seperti contohnya topik yang menjadi bahan tulisan saya kali ini, marah terhadap pasangan, bolehkah? Idealnya, jawabannya adalah tidak. Idealnya, kita hendaknya tidak boleh marah terhadap pasangan atau bahkan siapa pun di dunia ini, kita hendaknya penuh kasih dan selalu lemah lembut dan memaafkan. Itulah idealnya.

  • Tapi pada kenyataanya, kita adalah manusia yang belum sempurna, yang masih belajar, yang belum ideal. Beberapa orang mungkin memiliki kontrol yang baik terhadap rasa marah mereka. Tapi bagi beberapa yang lain, hal itu masih terus diusahakan, diperbaiki dan disempurnakan. Kembali menjawab pertanyaan teman saya di suatu sesi cerita, pernahkan saya marah terhadap pasangan saya? Saya akan jawab, pernah. Lebih dari sekali pastinya. Tapi lain cerita kalau pertanyaanya adalah apa yang membuat saya marah, maka saya akan menjawab tidak tahu, saya lupa. Bukan karena terlalu banyaknya alasan saya marah hingga saya lupa, tetapi karena saya membiasakan diri untuk melupakan alasan-alasan saya marah. Saya mungkin belum ideal karena terkadang masih marah terhadap pasangan saya, tetapi paling tidak saya tidak menyimpan kemarahan itu hingga berlarut-larut dan menumpuk hingga membuat saya tidak bisa lupa. Ada beberapa aturan yang saya dan pasangan coba terapkan ketika kami "harus" marah terhadap satu sama lain. Dan salah satunya adalah melupakan. Di bawah ini saya bagikan beberapa aturan tersebut.

  • 1. Tidak boleh ada dua orang marah atau lebih dalam satu ruangan

  • Itu adalah aturan pertama yang selalu kami terapkan. Ketika kami berdua sedang sama-sama marah, maka salah satu akan keluar dari "area pertandingan". Kami percaya bahwa dua marah yang berada di satu ruangan dan dibiarkan berargumen tidak akan menghasilkan apa-apa. Karena orang yang sedang marah biasanya rentan untuk kehilangan akal sehat dan kesulitan mengontrol fungsi organ tubuh, seperti lidah dan tangan. Jadi logikanya, bagaimana mungkin didapatkan kesepakatan yang baik dari dua orang yang sedang sama-sama kehilangan akal sehat? Keluar dari "area pertandingan" di sini bukan berarti lari dari persoalan, tetapi lebih ke keluar untuk "mencari udara segar" dan menurunkan tensi kemarahan. Biasanya kemarahan yang tidak memiliki "sparing partner" akan cepat mereda dibanding yang memiliki lawan. Dan ketika rasa marah sudah turun mendekati suhu normal, maka biasanya akal sehat akan kembali, dan pada saat itu kesepakatan yang dibuat akan jauh lebih baik. Jadi ingatlah untuk tidak berkonfrontasi ketika sama-sama marah. Pastikan paling tidak satu pihak memiliki akal sehatnya.

  • Advertisement
  • 2. Marahlah tentang satu hal dalam satu waktu

  • Ketika memang harus marah, maka berusahalah untuk fokus dan tepat sasaran. Susah? Pasti. Pengalaman saya, biasanya kita akan mudah terbawa suasana untuk membawa serombongan pasukan penyebab kemarahan. Jangan! Tidak efektif, sungguh. Alih-alih didengarkan kita justru akan membuat tersudut pihak dengan siapa kita marah. Dan biasanya orang yang tersudut akan membela diri. Yang terjadi kemudian adalah "bentrokan" kemarahan yang tidak menghasilkan apa pun selain "kerusakan" akibat lidah dan pikiran yang tidak terkontrol. Fokuslah marah untuk satu hal dalam satu waktu. Terdengar aneh karena ketika marah biasanya kita lepas kendali dan tidak bisa mengontrol pikiran dan perkataan kita. Karena itulah itu perlu dibiasakan.

  • 3. Marah bukan benci

  • Poin ketiga ini yang paling saya sukai. Kita harus membedakan antara perasaan marah dan benci. Apakah saya pernah marah pada pasangan saya? Pernah. Tapi apakah saya membenci dia? Tidak. Bagi saya marah adalah emosi sesaat, berbeda dengan benci. Kebencian adalah emosi jangka panjang yang daya rusaknya lebih luas dan biasanya bertahan lebih lama. Salah satu resep terbaik untuk tidak menjadikan marah menjadi benci adalah dengan tidak menyimpan apa pun sisa kemarahan. Ibaratkanlah marah itu sampah, buanglah secepat mungkin, dan jangan disimpan lagi. Ketika kita marah dengan pasangan kita akan satu hal, segera selesaikan setelah itu buang, lupakan dan hidup kembali normal. Itu mengapa saya tidak pernah mengingat apa saja penyebab beberapa kali kemarahan saya terhadap pasangan saya. Karena ketika itu usai itu berarti benar -benar usai bagi saya. Apa gunanya menyimpan sampah?

  • 4. Marah bukan untuk dipamerkan

  • Ini fenomena yang sering saya temui. Dengan makin mudahnya akses media sosial kebanyakan dari kita tanpa sadar menggunakan hal itu sebagai ruang pamer. Bagus kalau yang dipamerkan hal positif atau berbagi pendapat yang membangun atau informasi yang berguna. Celakanya terkadang banyak yang, mungkin tidak sadar, memamerkan hal-hal yang tidak selayaknya dipamerkan. Seperti kemarahan misalnya. Itu jauh lebih tidak efektif menurut saya. Kita marah terhadap si A, kemudian kita menuliskan hal tersebut di media sosial. Apakah kita mendapat solusi? Tidak akan. Yang ada itu akan menjadi sampah yang dipamerkan di ruang publik, hanya mengotori saja. Malah kalau tidak berhati-hati itu bisa menjadi besar dan melibatkan banyak pihak. Banyak kasus ketika seseorang meluapkan kemarahannya di media sosial dan berakhir menjadi kasus yang berhubungan dengan hukum.

  • Advertisement
  • Jadi bolehkah marah? Sebaiknya tidak. Tetapi kalau seandainya Anda masih seperti saya yang masih dalam proses belajar untuk tidak marah dan harus marah, maka semoga beberapa tips di atas sedikit membantu.

Klik pilihan berbagi di bawah ini

It is my sincere desire and hope that my writing will positively influence readers, and help them be better and happier.

Aturan Sederhana Ketika Marah terhadap Pasangan

Jadi bolehkah marah? Sebaiknya tidak. Tetapi kalau seandainya Anda masih seperti saya yang masih dalam proses belajar untuk tidak marah dan harus marah, maka semoga beberapa tips ini sedikit membantu.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr