Bahagia

Hidup bahagia adalah hak setiap orang. Namun demikian, kita terlalu sering terpapar pada kebahagiaan semu yang ditampilkan dalam berbagai bentuk iklan komersial, seolah-olah kebahagiaan kita seluruhnya bergantung pada faktor eksternal tersebut.

1,995 views   |   2 shares
  • Bahagia, menurut 'Kamus Besar Bahasa Indonesia' artinya memiliki perasaan 'senang dan tenteram'. Jadi, menurut bahasa Indonesia, kata 'bahagia' yang mengandung kata 'tenteram', tentu lebih langgeng dibandingkan dengan sekedar girang.

  • Kita sering dengar orang berkata, "Seandainya saya begini dan begitu … maka saya akan bahagia …" atau "Seandainya saya memperoleh ini atau itu … maka saya akan bahagia …" dan seterusnya. Kebahagiaan semacam itu adalah kebahagiaan yang tidak langgeng, karena bergantung pada faktor eksternal ('begini atau begitu … ini atau itu …'). Kalau faktor eksternal itu, katakanlah sebuah mobil idaman atau istri bak bintang film, tidak pernah didapatkan tentu seseorang akan sengsara selamanya.

  • Di zaman modern ini, banyak orang mengira dia akan bahagia kalau tidak ada kesulitan dalam hidupnya. Mana mungkin? Bukankah sudah menjadi kodrat manusia bahwa susah payah, peluh, air mata dan duri onak adalah pendamping kita?

  • Daripada kita bersusah payah untuk mencari hidup yang tiada memiliki kesulitan, lebih baik kita belajar hidup berdampingan dengan kesulitan dan percaya bahwa kesulitan itu akan membuat kita menjadi sehat dan kuat.

  • Kesulitan itu sendiri sebenarnya tidak akan mengganggu kedamaian seseorang, sampai dia menghubungkan kesulitan itu dengan latar belakang yang menimbulkan rasa kuatir, takut dan sedih. Contohnya, bila orang yang kita kasihi meninggal dunia, kematian itu sendiri sebenarnya merupakan fakta proses kehidupan, bukan pilihan, tetapi kita menjadi sedih, karena kita hubungkan kematian seseorang yang kita kasihi itu dengan nilai-nilai tertentu yang diciptakannya selama kehidupannya.

  • Dapatkah kita tidak menggantungkan kebahagiaan kita kepada faktor eksternal? Sebaiknya begitu. Sebab faktor eksternal adalah hasrat manusia yang tidak pernah puas, seperti dalam dongeng berikut ini:

  • Di suatu zaman hiduplah seorang raja yang sedang berkeliling di negerinya untuk memeriksa rakyatnya. Pada saat itu datanglah seorang pengemis yang mambawa mangkuk di tangannya. Pengemis itu mendekati raja tersebut dan berkata: "Dapatkah paduka memenuhi permintaan saya?"

  • "Tentu saja" jawab raja serta merta, mengingat bahwa dia memiliki segalanya.

  • Pengemis itu menyelanya, "Jangan tergesa-gesa, mungkin kali ini paduka tidak dapat memenuhi permintaan saya."

  • Jawab raja dengan ketus, "Omong kosong, sebutkan saja!"

  • Pengemis itu berkata, "Dapatkah paduka mengisi penuh mangkuk saya?"

  • Maka raja itu memerintahkan pengawalnya untuk mengisi uang ke dalamnya. Begitu uang tersebut menyentuh mangkuk, maka hilanglah uang itu. Maka disuruhnya pengawalnya mengisinya kembali. Demikianlah berulang-ulang sehingga seluruh kekayaan raja hilang ke dalam mangkuk pengemis. Akhirnya raja tersebut berlutut di depan pengemis itu dan bertanya, "Mangkuk apakah itu?"

  • Advertisement
  • Jawab pengemis, "Mangkuk ini terbuat dari hasrat manusia!" (Gary Keller & Jay Papasan. "The One Thing" 139-141)

  • Kalau kita menggantungkan kebahagiaan kita pada faktor eksternal yang pada hakikatnya adalah hasrat manusia, maka kita justru tidak akan pernah puas yang tentu saja berakhir dengan ketidakbahagiaan.

  • Faktor eksternal itu dapat berupa sesuatu yang tak dapat diubah, materi, atau seseorang. Oleh karena itu:

    • Daripada memikirkan keadaan yang sudah tidak dapat diubah atau keadaan yang belum ada kepastiannya, lebih baik melakukan sesuatu yang sudah jelas dapat dikerjakan sekarang, maka kita pasti tidak akan dibebani oleh harapan kosong. Apa yang tidak dapat kita ubah adalah kodrat kita, atau kesulitan. Jadi, biarkan semuanya itu ada di sekitar Anda. Katakan kepada diri Anda sendiri, "Saya membutuhkan semuanya itu, karena saya bukan korban yang tak berdaya."

    • Daripada memikirkan apa yang tidak kita miliki lebih baik memikirkan apa yang dapat kita lakukan dengan apa yang kita miliki sekarang sehingga memberi peluang baru.

  • Apakah orang bahagia itu tidak pernah sedih? Omong kosong! Kalau kita kecewa atau ditinggal oleh orang yang kita kasihi, kita sedih. Kesedihan adalah reaksi wajar emosi kita terhadap suatu peristiwa dan kita berkata kepada diri sendiri, "Saya telah kehilangan dia, saya tidak lagi dapat menikmati penemanannya, saya tidak lagi dapat berbagi kasih dengannya."

  • Perasaan ini sehat dan akan menolong kita menjadi makin lembut dan memahami keadaan orang lain yang kehilangan atau dikecewakan seperti kita. Tetapi, kalau kita mulai berkata, "Saya tidak lagi akan bahagia karena ditinggalnya. Itu tidak adil", maka kita mulai menggantungkan kebahagiaan kita kepada faktor eksternal dan kita cenderung menjadi stres, karena kita memutarbalikkan kebenaran dan mulai meninggalkan 'hak untuk bahagia'.

  • Asas yang dapat kita pelajari adalah bahwa kebahagiaan sejati itu seharusnya dimulai dari dalam diri kita. Kita terlalu sering terpapar pada iklan produk tertentu yang menggambarkan orang 'bahagia' karena menggunakan produk tersebut. Kita ingin meniru kebahagiaan semu yang ditawarkan itu. Setelah kita membeli produk itu, dan kita gunakan, masalah pun muncul, dan kita tetap tidak bahagia.

  • Kebahagiaan sejati berasal dari dalam dan tidak bergantung pada faktor eksternal apa pun dan keadaan apa pun. Untuk mencapai taraf kebahagiaan seperti itu:

    • Mulai sekarang kita harus belajar untuk membiasakan diri agar kebahagiaan kita tidak bergantung pada siapa pun dan apa pun

    • Kita hendaknya sering meninjau jiwa kita yang sunyi senyap dan meninggalkan hiruk pikuk suara-suara dunia di sekeliling kita

    • Mempercayai kenyataan akan kodrat alam kita, bahwa kesulitan akan selalu menyertai kita ke mana pun kita pergi dan kapan pun kita hidup

    • Kita akan mengatasi setiap kesulitan itu dengan berani dan keluar sebagai pemenang

    • Memiliki tujuan yang jelas dalam hidup ini.

  • Advertisement
Bagikan hasil Anda kepada teman..

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Bahagia

Hidup bahagia adalah hak setiap orang. Namun demikian, kita terlalu sering terpapar pada kebahagiaan semu yang ditampilkan dalam berbagai bentuk iklan komersial, seolah-olah kebahagiaan kita seluruhnya bergantung pada faktor eksternal tersebut.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr