Mengajar dengan Bertanya

Mengajar anak tidak perlu selalu menggunakan metode kuliah tradisional, mengajukan pertanyaan yang tepat malah membuat anak kita belajar lebih banyak.

1,953 views   |   shares
  • Saya memiliki pengalaman mengajar kelas agama selama 26 tahun. Selama mengajar, metode yang paling saya sukai adalah metode 'Mengajar dengan Bertanya'. Berikut adalah beberapa metode bertanya yang paling sering saya gunakan dan sedikit contoh-contohnya.

  • Mengajar adalah sebuah cara agar siswa kita belajar. Cara belajar terbaik kalau siswa kita menemukan jawabannya sendiri. Secara tidak sadar sebenarnya kita sudah sering mengajar anak kita dengan bertanya. Contohnya: ketika anak kita pulang melewati jam malam yang telah ditentukan bersama maka kita biasanya berkata sebagai berikut:

  • Pertanyaan pencari fakta:

  • Ayah: "Jam berapa sekarang?"

  • Anak: "Jam 11.00 malam."

  • Ayah: "Jam berapa seharusnya kamu pulang?"

  • Anak: "Jam 10.00 malam."

  • Pertanyaan ayah itu adalah pertanyaan sederhana yang jawabnya sudah jelas, artinya ada jawaban salah atau benar. Jawabnya sudah jelas, 'pulang pukul 11.00 malam tetapi seharusnya diharapkan sudah di rumah pukul 10.00 malam'. Pertanyaan pencari fakta lainnya juga dapat dimulai dengan kata-kata:

    • Apa: Misalnya, apa nama keluarga Anda?

    • Siapa : Misalnya, siapa pendiri perusahaan Apple?

    • Di mana : Misalnya, Di mana letak Sungai Rokan?

    • Kapan : Misalnya, Kapan jatuhnya Kerajaan Mojopahit?

  • Pertanyaan pencari alasan: Metode ini sangat menarik, karena kita sedang mencari motif atau tujuan atau alasan atau penyebab suatu peristiwa atau tindakan. Pertanyaan ini mencari penjelasan yang masuk akal. Biasanya kita menggunakan kata: Mengapa, misalnya dalam dialog berikut:

  • Ayah: "Jadi, mengapa terlambat?"

  • Narator: Tentu saja anak Anda akan mengakui dalam hatinya bahwa dia bersalah meskipun mungkin dia memiliki alasan untuk itu.

  • Anak: "Memang, saya terlambat, karena tidak ada teman yang mengantarkan saya."

  • Pertanyaan pencari cara: Kita menggunakan kata Bagaimana untuk pencari cara. Misalnya sebagai berikut:

  • Ayah: "Lalu, bagaimana kamu sampai di rumah?"

  • Anak: "Kebetulan akhirnya ada teman yang bersedia mengantarkan aku pulang."

  • Pertanyaan untuk menegaskan kembali: Komunikasi verbal maupun tulisan bergantung pada interpretasi pendengarnya. Agar tidak terjadi salah paham, sebaiknya kita menegaskan kembali, apakah yang Anda pahami itu sesuai dengan apa yang dikatakan anak Anda. Ini bisa jadi sebuah kata atau kalimat. Misalnya dalam dialog berikut:

  • Ayah: "Apakah sewaktu kita menentukan jam malam tadi ada syarat 'asal ada teman yang ngantar kamu pulang'?"

  • Advertisement
  • Anak: "Tidak …"

  • Narator: Tanpa banyak wejangan, anak tersebut tentu sudah dapat menyimpulkan bahwa ayahnya tidak main-main dalam menentukan jam malam. Ayah tersebut menggunakan kata ganti 'kita' karena keputusan penetapan jam malam dilakukan atas persetujuan kedua belah pihak.

  • Disamping contoh dialog tersebut, dalam suasana yang berbeda ada beberapa kalimat pendek yang biasanya kita gunakan untuk menegaskan kembali seperti:

  • Apakah yang Anda maksudkan dengan kata … adalah atau Apakah Anda mengatakan bahwa … dan seterusnya..

  • Pertanyaan dengan jawaban 'ya' atau 'tidak'. Meskipun bukan pertanyaan yang menarik, tetapi dapat diubah menjadi pertanyaan yang membuat orang berpikir atau mengambil keputusan atau mengarah ke suatu kesimpulan. Misalnya dalam dialog antara ayah dan anak berikut:

  • Ayah: "Bukankah sudah disepakati bila seseorang yang melanggar 'jam malam keluarga' harus menerima hukuman?"

  • Anak: "Ya."

  • Pertanyaan menyelidiki jiwa (soul searching): Contoh dalam dialog ini cukup jelas.

  • Ayah: "Menurut kamu hukuman apakah yang pantas untuk kamu karena terlambat?"

  • Narator: Pertanyaan ini berarti bahwa hukuman bukan sebuah opsi, tetapi hanya menentukan jenis dan kualitas hukuman apa yang tepat untuk anaknya. Artinya: Anak tersebut tidak boleh sengaja terlambat pulang asalkan 'dibayar' dengan hukuman yang diketahuinya akan sanggup dijalaninya.

  • Saya harap artikel pendek ini cukup jelas untuk Anda simak. Sebenarnya kita dapat mengajar anak kita dengan mengajukan pertanyaan daripada marah-marah. Suasana yang saya lampirkan di atas adalah sewaktu kita ingin menegur anak kita, tetapi kita juga dapat melakukannya dalam suasana santai. Misalnya sewaktu anak-anak ditinggal bersama seorang pengasuh sementara Anda pergi kencan dengan pasangan hidup.

  • "Apa yang harus kalian lakukan bila terjadi suatu keadaan darurat?" "Bagaimana kalian melakukannya?" "Mengapa kalian harus melakukannya?" Dan seterusnya. Dengan demikian, maka secara tidak langsung anak-anak akan terlatih.

Anda suka artikel ini? Bagikan..

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Mengajar dengan Bertanya

Mengajar anak tidak perlu selalu menggunakan metode kuliah tradisional, mengajukan pertanyaan yang tepat malah membuat anak kita belajar lebih banyak.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr