Memilah Masalah dalam Keluarga

Berikut adalah secuil pemikiran dan pelajaran tentang bagaimana kita sebagai orang tua memilah masalah yang dihadapi oleh anggota keluarga. Kalau tidak pandai-pandai memilah masalah kita, maka kita akan terjebak mengurusi masalah orang lain.

1,219 views   |   1 shares
  • Berikut adalah secuil pemikiran dan pelajaran tentang bagaimana kita sebagai orang tua memilah masalah yang dihadapi oleh anggota keluarga.

  • Suatu hari datanglah seorang ayah yang sudah lama saya kenal. Pagi itu dia nampak sedih. Dia bilang dia butuh nasihat, katanya, "Saya punya masalah, anak lelaki saya yang sudah berkeluarga tinggal serumah dengan pacarnya dan sekarang mereka punya anak."

  • Tanya saya, "Apa masalah bapak?"

  • Jawabnya: "Apa kata orang kampung nanti kepada saya?"

  • Nasihat saya, "Pak, Anda tidak punya masalah. Anak Anda yang akan atau bahkan sudah menghadapi masalah rumit."

  • Banyak orang yang pernah saya jumpai tidak mampu memisahkan masalah, karena mereka terlibat secara emosional. Seperti bapak tersebut, masalahnya adalah masalah semu. Bagaimana dia tahu apa yang dipikirkan orang kampung terhadapnya? Apakah dia sekarang telah menjadi dukun peramal yang dapat membaca pikiran orang lain? Kalau pun seandainya mereka 'menyalahkan' atau 'mengasingkan' bapak itu karena perbuatan anaknya, dapatkah perbuatan semacam itu dibenarkan? Bukankah seharusnya seseorang itu dihukum atas perbuatannya sendiri, dan bukan perbuatan orang lain bahkan seandainya itu perbuatan buruk anak kita atau pasangan hidup kita?

  • Sewaktu anak kita masih kecil, masalah yang dihadapi anak kita masih dapat kita benahi, karena biasanya hanya sebatas kenakalan anak dan kecelakaan karena bermain. Ketika mereka beranjak dewasa, masalahnya makin rumit, tetapi kita masih dapat membenahi. Namun, ketika mereka dewasa, masuk ke dalam masyarakat orang dewasa, masalah yang mereka buat kadang-kadang harus berurusan dengan hukum dan yang berwajib. Jadi, kapan kita memberesi masalah mereka dan kapan kita tidak dapat memberesinya?

  • Anak balita: Anak balita ini suka bermain sendirian, oleh karena itu bila anak-anak ini dikumpulkan seringkali suka berantem mulut, sekali-kali fisik juga. Bila salah satu dari mereka datang menangis kepada Anda, jangan segera Anda beresi masalahnya. Memang gampang buat Anda, tetapi tidak membuat anak Anda belajar menyelesaikan sendiri masalahnya. Sekali-kali perlu dikirim kembali dengan kata-kata, "Nak, ibu tidak selalu dapat membantu kamu, mangapa tidak kamu coba bereskan masalahmu dengan dia?"

  • Anak remaja: Biasanya masalah yang dihadapi anak remaja masih berkisar pada lingkungan sekolah dan pekerjaan sekolah. Anak-anak ini sudah mulai dapat diajak bicara walaupun kadang-kadang masih menggunakan cara berpikir secara emosional. Anak-anak seusia ini biasanya lebih takut malu atau mendapat malu daripada bersalah. Oleh karena itu keputusan yang dibuatnya kadang-kadang nampak 'bodoh' di depan kita. Misalnya, menggenjot sepeda motornya sekencang-kencangnya karena melewati kelompok remaja lain. Tujuannya adalah untuk mejeng atau nampang, tanpa memikirkan bahayanya bila terjadi kecelakaan.

  • Advertisement
  • Remaja dewasa: Sebenarnya secara fisik bukan remaja lagi. Dia adalah orang dewasa, tetapi tata masyarakat masih tidak mengizinkannya mengambil beban orang dewasa, seperti menikah dan berkeluarga. Masalah yang dihadapi juga transisi antara remaja dan dewasa. Misalnya, urusan sekolah dan kehamilan. Seorang bapak yang anak perempuannya masih duduk di bangku SMU kelas dua mendapati anaknya hamil dengan pacarnya. Nasihat saya, "Pak, lebih baik tidak dinikahkan, karena kalau dinikahkan maka mereka akan melahirkan anak lagi. Lebih baik anak yang lahir itu Anda adopsi, dan biarkan mereka melanjutkan sekolah menengah hingga selesai." Tetapi bapak itu memutuskan untuk menikahkan anak perempuannya dengan pacarnya tanpa sepengetahuan ayah anak lelaki tersebut (hanya pamannya yang tahu). Rupanya anak lelaki tersebut tinggal di luar kota sendirian selama sekolah. Memang benar, anak kedua dan ketiga lahir ke dunia, dan sekolah mereka berantakan, dan berakhir dengan perceraian.

  • Orang dewasa: Kalau sudah dewasa masalahnya kadang menyangkut kesehatan, ekonomi, keluarga dan hukum negara. Masalahnya demikian besar sehingga orang tua hampir tidak dapat ikut membereskan lagi. Namun demikian, untuk keadaan-keadaan tertentu masih dapat membantu meringankan secara tidak langsung. Misalnya, anak dan menantu bekerja penuh waktu, untuk menyewa pengasuh anak tidak mampu, maka orang tua dapat meringankan beban dengan menjadi 'pengasuh anak' bagi mereka. Tapi bila menyangkut masalah anak lelaki tersebut di atas yang selingkuh dengan bekas pacarnya sehingga melahirkan anak, paling-paling sebagai orang tua dapat menjadi penengah agar masalahnya tidak memburuk sehingga terjadi tindak kekerasan.

  • Kadang-kadang sebagai orang tua, kita terlalu khawatir dengan masalah yang ada hubungannya dengan masa depan anak kita yang sudah dewasa, karena kelihatannya dia tidak cukup ulet dan selalu membuat kesalahan. Kalau Anda sedang memiliki kekhawatiran seperti itu, pikirkan waktu Anda masih muda dulu, saya kira orang tua Anda pasti juga punya kekhawatiran yang sama terhadap Anda. Pikirkan juga betapa uletnya Anda berusaha keluar dari keadaan 'sulit' yang sedang Anda hadapi. Setiap anak yang dibesarkan dengan wajar, betapa pun jeleknya posisi dia di masyarakat pada waktu itu, pasti memiliki secercah keinginan untuk berhasil. Secercah angan-angan untuk berhasil tersebut cukup baginya untuk keluar dari belenggu apa pun yang sedang mengurungnya.

  • Saya kenal dengan seorang anak remaja yang selalu dikeluarkan dari kelas dan sekolah karena sukar diatur. Dia pindah-pindah sekolah dan yang berakhir di sekolah yang paling jelek di kotanya. Dia mulai belajar merokok, bolos sekolah adalah pekerjaannya sehari-hari. Dia hadir lebih banyak di gedung bioskop daripada di sekolah atau di rumah. Kalau malam tiba selalu bergadang dengan teman-teman. Setelah lulus SMU, dia tidak memiliki pekerjaan tetapi sudah menikah akan tetapi masih tidak punya pekerjaan, bahkan pernah ditahan polisi dan militer, karena melanggar hukum. Sampai di sini, tentu orang tua anak tersebut tidak dapat membayangkan masa depan anak lelakinya. Sudah pasti mereka memiliki hak untuk sangat khawatir.

  • Advertisement
  • Di luar dugaan semua orang, anak tersebut akhirnya bertobat, menjadi pemuka agama dan berhasil membesarkan anak-anaknya dengan baik, sehingga semua anaknya memiliki gelar sarjana dan keluarga sendiri-sendiri.

  • Yang penting di sini bukan berarti seseorang harus menjadi pemuka agama atau yang sejenis itu. Di dalam dirinya ada secercah keinginan untuk sukses. Secercah keinginan tersebut yang membuatnya ulet dan berjuang untuk keluar dari belenggu apa pun yang mengurungnya. Oleh karena itu, bila nanti menghadapi masalah yang dilakukan oleh anak-anak, Anda sudah tahu bagaimana memisahkannya dan kapan ikut turun tangan memberesinya, dan berilah kepercayaan kepada anak Anda untuk keluar dari belenggu kesulitan hidupnya.

1 menit saja untuk membagikan artikel ini..

Sebagai penulis, Effian sangat terinspirasi dengan karya-karya John Grisham, Michael Creighton, David Baldacci, James Patterson dan Dan Brown. Kegiatan favoritnya selain menulis adalah memasak dan melukis.

Memilah Masalah dalam Keluarga

Berikut adalah secuil pemikiran dan pelajaran tentang bagaimana kita sebagai orang tua memilah masalah yang dihadapi oleh anggota keluarga. Kalau tidak pandai-pandai memilah masalah kita, maka kita akan terjebak mengurusi masalah orang lain.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr