Menaruh Rasa Iba

Anda berpikir Anda duduk di mobil terlindung dari panas dan angin, bahkan ada AC yang mengalir sejuk, sedangkan perempuan itu kepanasan, menahan haus dan lapar, belum lagi bayinya.

1,198 views   |   0 shares
  • Seorang gelandangan berdiri di dekat lampu merah sambil menggendong bayi entah milik siapa. Setiap kali lampu merah menyala dia berjalan tertatih-tatih mendekati mobil demi mobil. "Kasihani bayi saya, Pak, saya sudah 3 hari tidak makan," katanya lirih memelas sambil mengulurkan tangannya yang coklat terbakar matahari. Anda merasa iba dan mengambil uang receh dari kotak di sebelah tempat duduk Anda. Anda berpikir Anda duduk di mobil terlindung dari panas dan angin, bahkan ada AC yang mengalir sejuk, sedangkan perempuan itu kepanasan, menahan haus dan lapar, belum lagi bayinya. Nurani Anda terganggu. Tetapi di balik itu Anda juga menyadari bahwa semua itu mungkin cuma sandiwara, bayi tadi disewa dari pengasuh yang memanfaatkan kepergian majikannya. Apa yang harus Anda lakukan bila Anda melihat lagi keadaan seperti ini?

  • Mengeraskan hati

  • Mengingat banyak berita di koran tentang ibu-ibu yang heran mengapa bayinya jadi gosong dan akhirnya kaget-kaget ketika mengenalinya di perempatan sedang digendong tukang minta-minta, Anda bisa jadi skeptis dan tidak mau lagi mengulurkan bantuan bagi orang miskin. Saya pernah membaca berita tentang seorang polisi muda yang merogoh kantongnya sendiri untuk membelikan sepatu seorang gelandangan di New York. Saat itu musim dingin, salju turun terus menerus, gelandangan tadi duduk di pinggir jalan tanpa sepatu. Si polisi yang sedang bertugas di situ merasa iba dan berpikir bagaimana kalau yang duduk itu ayahnya. Dia bertanya berapa ukuran kaki si gelandangan yang mencoba menolak kemurahan hati si polisi. Kebetulan di dekat situ ada toko sepatu, pramuniaganya yang mendengar maksud baik si polisi memberikan diskonnya. Sebuah cerita Natal yang bagus, bukan? Di sisi lain seorang wartawan yang mendengar berita itu ingin tahu lebih banyak tentang gelandangan tersebut. Mungkin ia ingin mengorek lebih jauh riwayat pak tua yang malang itu. Ternyata di rumahnya dia memiliki puluhan pasang sepatu, katanya dia selalu mencoba menolak pemberian orang-orang tetapi mereka berkeras memberinya sepatu. Dia sendiri tidak suka memakai sepatu karena dengan bertelanjang kaki lebih banyak orang yang terketuk hatinya untuk memberinya sedekah.

  • Tetap bermurah hati

  • Bila Anda memang dalam keadaan berlebihan dan mampu membantu, Anda dapat menyalurkan bantuan itu kepada badan-badan amal yang membutuhkannya seperti rumah piatu, rumah jompo dan bahkan perorangan. Banyak orang berpendapat bahwa tidak ada gunanya memberi uang kepada orang minta-minta karena mereka sebetulnya mempunyai uang dan melakukan semuanya itu sebagai pekerjaan. Bila kita memberi mereka uang berarti kita mendukung kemalasan itu. Saya sendiri berpendapat lebih baik memberi makanan karena uang mungkin akan digunakan untuk tujuan lain seperti membeli minuman keras atau ganja. Suatu waktu saya, suami dan anak saya sedang makan di rumah makan cepat layan. Seorang gelandangan (yang berpakaian rapi) mendekati kami sambil memegang-megang perutnya seolah-olah menyatakan bahwa dia lapar. Mungkin dia memakai bahasa isyarat karena mengira kami orang asing yang tidak memahami bahasanya. Karena kasihan kami memberinya dua potong ayam goreng, dia duduk di kursi di belakang kami dan karena kami baru membeli pisang, kami bagi juga dia pisang. Sesudah meninggalkan rumah makan itu suami saya teringat bahwa kacamata hitamnya tidak ada. Dia mencoba mengingat di mana dia terakhir memakainya. Anak saya tiba-tiba menyeletuk, "Orang tadi memakai kaca mata hitam persis seperti Papa punya." Ternyata kaca mata itu jatuh dan dipungut gelandangan tadi. Saya tertawa terpingkal-pingkal menyadari kejadian yang ironis itu. Kami berbelas kasihan kepada orang lain yang ternyata tidak peduli kepada "penolongnya." Apakah peristiwa ini membuat kami jera memberi sedekah? Tentu saja tidak, bila kami memang diberkati dengan kecukupan mengapa kami tidak berbagi dengan orang lain yang kekurangan? Apa pun alasan dan penyebab kekurangannya, kami tidak akan mencoba menghakiminya.

  • Advertisement
Bagikan hasil Anda kepada teman..

Irma Shalimar graduated from BYU-Idaho in 2004 majoring in English Literature and minoring in Family Science and Spanish. She met her husband because of Superman and has 2 grown-up kids. You could know her better through

Situs: https://joojoo.com

Menaruh Rasa Iba

Anda berpikir Anda duduk di mobil terlindung dari panas dan angin, bahkan ada AC yang mengalir sejuk, sedangkan perempuan itu kepanasan, menahan haus dan lapar, belum lagi bayinya.
Advertisement
Beritahu kami opini Anda
 

Terima kasih telah berlangganan. Silakan nikmati artikel-artikel terbaru kami

tumblr